Artikel kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai rasio profitabilitas dan rasio likuiditas. Tentunya Anda sudah paham bahwa akhir dari sebuah siklus akuntansi pasti akan terdapat laporan keuangan. Sebenarnya apa yang digambarkan oleh laporan keuangan tersebut? Apakah hanya laba/rugi? Aset? Saham? Atau apakah laporan keuangan mempunyai tujuan yang sama untuk setiap stakeholder di perusahaan?

Sebagai pengingat bagi Anda, terdapat 5 bagian pada laporan keuangan, yaitu:

  1. Laporan Laba Rugi Komprehensif (Income Statement and other comprehensive income)
  2. Laporan Posisi Keuangan (Balance sheet) atau dikenal awam dengan neraca
  3. Laporan Perubahan Ekuitas (changes in owners equity statement)
  4. Laporan Arus Kas (Cashflow Statement)
  5. Catatan Atas Laporan Keuangan (Notes Of Financial Statement)

r\rasio profitabllitas, rasio keuangan, rasio likuiditas

Guna memudahkan para stakeholder dalam membaca dan membandingkan laporan-laporan keuangan antar perusahaan, maka digunakanlah rasio-rasio keuangan. Dengan menggunakan rasio-rasio maka pengusaha/pemilik/kreditor/investor dapat memahami laporan keuangan secara lebih baik dan mendapat pemahaman lebih lanjut mengenai perusahaan. Sebagai contoh:

  • Tahun lalu perusahaan mendapat laba sebesar 1,2 Miliar dan tahun ini mendapat laba 2 Miliar. Apakah dapat langsung dikatakan bahwa tahun ini lebih baik dari tahun lalu?
  • Penjualan tahun ini mengalami peningkatan namun profit justru mengalami penurunan, dimanakah kesalahan perusahaan?
  • Perusahaan dengan aset 10 Miliar ingin meminjam uang ke bank dengan jumlah sebesar 1 Miliar, Apakah bank sebaiknya memberikan pinjaman tersebut.
  • Sebagai seorang investor, dimanakah Anda akan menginvestasikan uang Anda? Apakah akan selalu pada perusahaan besar atau perusahaan kecil? Apakah berinvestasi pada perusahaan besar akan selalu menguntungkan?

Untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut dibutuhkan pemahaman tentang laporan keuangan secara berbeda, bukan lagi dalam angka namun dalam bentuk persentase dan perbandingan. Apakah kita dapat membandingkan perusahaan yang sudah sangat besar dengan perusahaan berlevel medium? Atau bagaimana cara kita membuat performa perusahaan kita “tampak” lebih baik dengan rasio-rasio ini?

4 Kelompok Rasio Keuangan 

Dalam ilmu keuangan, terdapat banyak rasio yang umumnya digunakan. Tetapi, sebagai seorang yang paham akuntansi, Anda harus paham mengenai rasio apa saja yang menggunakan angka-angka pada laporan keuangan. Rasio dalam laporan keuangan ini digunakan untuk menganalisis performa perusahaan.

Setidaknya terdapat 4 kelompok rasio yang menggunakan laporan keuangan sebagai basisnya, yaitu:

  1. Rasio Profitabilitas
  2. Rasio Likuiditas
  3. Rasio Asset Management (tata kelola asset)
  4. Rasio Leverage / Struktur Modal

Rasio Profitabilitas dan Rasio Likuiditas

 

  • Rasio Profitabilitas 

Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur seberapa menguntungkan perusahaan. Tujuan didirikannya perusahaan adalah untuk memperoleh profit karenanya rasio profitabilitas menjadi ukuran utama tentang performa sebuah perusahaan. Apakah Laba yang besar saja sudah cukup? Apakah laba 1 Miliar selalu lebih baik dari 500 juta?

Untuk lebih memahaminya, maka kita akan mengambil contoh perusahaan fiktif sebagai berikut:

Perusahaan ABC bergerak di bidang produksi panganan ringan, berikut adalah laporan keuangan PT ABC

Penjualan                                     100.000.0000

– Harga pokok Penjualan         (40.000.000)

Laba Kotor                              60.000.000

-Gaji pegawai kantor                (20.000.000)

-Penyusutan peralatan             (5.000.000)

-Beban Listrik                             (2.000.000)

-Beban perlengkapan               (1.000.000)

Laba Operasi                        32.000.000

-beban Pajak                              (2.000.000)

Laba Sebelum Pajak          30.000.000

-Beban Pajak (25%)                (7.500.000)

Laba Bersih                         22.500.000

-Dividen                                    (15.000.000)

Kenaikan Laba Ditahan 7.500.000

Dari angka diatas, dapat disimpulkan beberapa pertanyaan yang mungkin muncul dari berbagai perspektif, contohnya:

  • Sebagai seorang CEO PT HRS, saya ingin tahu apakah perusahaan saya berhasil menghasilkan laba yang optimal. Apakah laba operasi 22 juta terlalu besar atau terlalu kecil? Apakah dengan tambahan modal sebesar 7.5 juta atau bagaimanakah?
  • Sebagai investor (pemegang saham) saya ingin tahu apakah jika uang yang saya investasikan di perusahaan ini dapat menghasilkan return yang optimal? Apakah dengan jumlah deviden 15 Juta sudah menguntungkan bagi saya?
  • Sebagai seorang kreditor saya ingin melihat apakah jika perusahaan dapat mengembalikan pinjaman dengan performa yang sekarang, akankah perusahaan gagal membayar bunga? Berapa persen beban bunga saya dari penjualan? Apakah itu akan mempengaruhi performa perusahaan?
  • Dari sisi direktorat jenderal pajak, saya ingin tahu apakah perusahaan akan mengalami kerugian dalam tahun depan sehingga tidak membayar pajak? Apakah perusahaan dalam kondisi yang cukup sehat untuk membayar pajak?

Pertanyaan-pertanyaan diatas tidak cukup dijawab dengan angka-angka saja, namun dapat dijawab dengan menggunakan rasio profitabilitas.

Terdapat 6 rasio dalam menghitung profitabilitas yaitu

  1. Gross Margin On Sales
  2. Profit Margin On Sales / Return on sales (ROS)
  3. Return On Assets (ROA)
  4. Return On Equity (ROE)
  5. Earning Per Share (EPS)
  6. Dividend Payout Ratio (DPO)
  1. Gross Margin On sales

Jenis pertama dari Rasio profitabilitas adalah gross margin on sales. Rumus dari gross margin on sales adalah; 

Gross Margin On Sales = Laba Kotor / penjualan 

Apa yang dimaksud laba kotor? Laba kotor adalah selisih antara penjualan dan harga pokok penjualan.

Sebagai contoh, dari data diatas didapatkan bahwa laba kotor PT ABC adalah 60.000.000 sementara penjualan adalah 100.000.000.  Sehingga gross margin on sales adalah 0.6 atau 60% artinya dari setiap Rp 1 penjualan akan menghasilkan laba kotor sebesar Rp 0,6. sementara 40% atau Rp 0,4  sudah digunakan untuk menutupi harga pokok penjualan.

Laba kotor ini kemudian akan menutupi biaya-biaya lain selain harga pokok, yaitu biaya-biaya seperti biaya perlengkapan, gaji pegawai kantor, penyusutan mesin, dan lain-lain.

Berapa Gross Margin on Sales yang ideal? Tidak ada jawaban pasti mengenai besaran yang ideal, data gross margin hanya akan berarti sebagai pembanding. Dibandingkan dengan apa? Gross margin sebesar 60% tidaklah memiliki arti bila berdiri sendiri, namun akan berarti ketika dibandingkan dengan:

  • Laba rugi tahun lalu, agar didapatkan kapan perusahaan memiliki performa yang terbaik
  • Dibandingkan dengan perusahaan lain SEJENIS, apakah perusahaan lain memiliki gross margin yang sama, lebih rendah, atau lebih tinggi?

Kenapa Akutansipedia menekankan untuk membandingkan pada perusahaan yang SEJENIS? Maksud sejenis disini adalah satu lini industri (dalam industri yang sama), akan sangat sulit untuk membandingkan antara perusahaan manufaktur dan jasa, karena pada perusahaan manufaktur ada penjualan barang sehingga gross profit margin relevan, sementara pada perusahaan jasa lebih didominasi oleh beban gaji pegawai.

Bagaimana menyiasati Gross Profit Margin? ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mensiasati agar gross profit margin terlihat lebih tinggi yaitu:

  • Mencatat penjualan barang scrap (sisa hasil usaha) sebagai pengurang dari harga pokok produksi. Biasanya terdapat 2 cara untuk mencatat penjualan barang sisa, yaitu sebagai pengurang HPP atau sebagai pendapatan lain-lain. bila mencatat pendapatan lain-lain, maka HPP akan lebih tinggi sehingga gross profit akan turun, namun di akhirnya akan ditambah dengan pendapatan lain-lain yaitu penjualan scrap. Sehingga Bottom line (laba bersih) akan sama antara 2 metode ini
  • Mencatat beban kegagalan produksi, misal barang mengalami cacat produksi lalu harus dikerjakan kembali, sebagai beban kerugian bukan sebagai penambah harga pokok penjualan. Sehingga HPP akan lebih rendah.

Dua metode ini hanya merubah tampilan gross profit margin sementara saja, namun pada akhirnya net profitnya akan tetap sama.

  1. Profit Margin On Sales (Return On Sales/ROS)

ROS menghitung berapa besar dari Penjualan yang dikonversi menjadi LABA BERSIH SEBELUM PAJAK DAN BUNGA (Earning Before Interest and Tax (EBIT)). Kenapa harus laba bersih sebelum pajak dan bunga (earning before interest and taxes/EBIT) bukan laba bersih senilai 22 Juta? Seperti pernah disinggung di artikel Altman Z Score, bahwa Interest dan tax adalah uncontrollable cost. Memang perusahaan bisa mengatur besaran pajak? Bukankah itu diatur dalam undang-undang? Apakah perusahaan dapat mengatur besaran bunga? Bukankah hal itu ditetapkan oleh OJK, BI, dan LPS, serta resiko industri perusahaan? 

EBIT juga dikenal sebagai laba operasi, yaitu laba yang diperoleh perusahaan karena kegiatan utama operasinya (core business). Maka, rumus dari ROS  di Rasio profitabilitas adalah:

Return On Sales (ROS) = EBIT / Sales

Dalam kasus PT ABC maka ROSnya adalah: 32.000.000/100.000.000 yaitu 32%. Artinya adalah dari Rp 1 penjualan, sebesar Rp 0,32 menjadi laba bersih.

Jika gross profit margin dan ROS ini digabungkan, maka akan didapatkan laporan keuangan dalam bentuk persentase seperti:

  • Dari 100% penjualan, sebesar 40% digunakan untuk menutupi harga pokok penjualan, sehingga didapatkan laba bruto sebesar 60%. Sementara, beban-beban lain yang tidak terkait langsung dengan produksi adalah sebesar 28% dari penjualan, sehingga didapatlah hasil akhir laba operasi 32% dari penjualan.
  • Bila hal ini dibandingkan dengan perusahaan sejenis/seindustri didapatkan bahwa biasanya harga pokok penjualan adalah 35% dari penjualan dan beban operasi umumnya 30% dari penjualan. Sehingga didapatkan laba bersih 35% dari penjualan. Namun, laba bersihnya lebih kecil yaitu hanya 25 Juta saja.
  • Sementara bagi perusahaan, HPPnya berada pada level 40%, menunjukkan bahwa nilai ini lebih tinggi dari rata-rata industrinya. Akan lebih baik jika perusahaan mengevaluasi sistem produksi didalam pabrik, apakah ada pemborosan dalam proses produksi atau tidak. Mungkin saja perusahaan membeli bahan baku dari supplier lebih mahal dari kompetitor sehingga perusahaan bisa mengevaluasi kontrak dengan supplier.
  • Beban Operasi perusahaan sebesar 28% sudah lebih baik dibandingkan perusahaan sejenis, namun hal ini belum cukup untuk menutupi ketidakefisienan dari harga pokok penjualan. Sehingga akhirnya laba bersih perusahaan sebesar 32% lebih kecil dari perusahaan sejenis.

Hal-hal tersebut menjelaskan bahwa dengan menggunakan rasio kita bisa menganalisa lebih dalam dan lebih luas daripada berpatokan hanya laba perusahaan ABC 32 Juta dan perusahaan lain 25 Juta. 

  1. Return On Assets (ROA)

Return On Asset (ROA) adalah rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur seberapa efektifkah perusahaan menggunakan asset untuk menghasilkan profit. Hal ini dilakukan dengan membandingkan profit dan total asset perusahaan. Rumus ROA di rasio profitabilitas adalah:

ROA = EBIT / Total Assets

Dalam contoh diatas, EBIT Perusahaan adalah 32 Juta. Kita Asumsikan bahwa Asset perusahaan adalah sebesar 250.000.000 maka ROA dari PT ABC adalah sebesar 12,8% (32 juta/250 juta).

Bagaimana ROA dapat menghitung produktivitas asset perusahaan? Hal ini dikarenakan ROA menghubungkan antara aset dengan profit, sehingga semakin banyak aset seharusnya akan semakin tinggi profit perusahaan.

Bagaimana cara kita menyiasati ROA? PT ABC dapat melakukan efisiensi asset sehingga nilai asset lebih rendah. Apa yang dimaksud dengan efisiensi aset? Efisiensi aset adalah menjual asset-aset yang tidak produktif sehingga total aset menjadi lebih rendah. Aset yang tidak produktif ini dapat dikategorikan sebagai aset yang menganggur, beberapa kasus menunjukkan bahwa contoh aset menganggur adalah:

  • Kas yang terlalu tinggi, akibat manajemen terlalu khawatir dengan likuiditas sehingga membiarkan kas dalam jumlah tinggi di bank
  • Terlalu banyak penjualan dalam bentuk kredit, sehingga akun piutang menjadi sangat tinggi. Seandainya penjualan dalam bentuk kas, maka uang akan cepat diputar lagi menjadi persediaan dan dijual lagi. Jika dalam bentuk piutang, kita harus menunggu sampai konsumen membayar hutang dahulu, baru membeli barang, dan menjualnya, dalam bentuk piutang lagi.
  • Banyak mesin dan bangunan yang menganggur atau beroperasi dibawah kapasitas. Misalkan, perusahaan memiliki investasi untuk mengharap kenaikan nilai dalam bentuk bangunan. Secara tidak langsung, bangunan akan menjadi nilai asset namun tidak menghasilkan laba. Atau pun kjika perusahaan membeli mesin dengan kapasitas 1000 unit dengan biaya yang mahal, namun hanya memproduksi 500 unit. Hal ini mengakibatkan ROA menjadi lebih rendah, bandingkan misal perusahaan membeli mesin yang lebih kecil kapasitasnya dan lebih murah maka ROA akan lebih tinggi.

Sebagai contoh, ketika sudah dilakukan penjualan asset-asset maka total asset turun menjadi 220 juta, maka ROA baru adalah sebesar 14.54% (32 Juta/220 Juta). Apakah ada konsekuensi dari melakukan efisensi asset ini? Tentu saja ada, kemungkinan dari penjualan asset adalah adanya laba rugi yang terjadi atas penjualan asset, bisa-bisa profit perusahaan tidak lagi menjadi 32 Juta, boleh jadi lebih rendah atau lebih tinggi.

  1. Return On Equity (ROE) atau Return on Investment (ROI)

Rasio profitabilitas ini menghubungkan seberapa besar perusahaan menghasilkan laba untuk para pemilik saham yaitu dengan membandingkan antara EBIT dan sisi ekuitas. Sehingga Rumus ROE di rasio profitabilitas adalah:

ROE = EBIT / Ekuitas

Dalam contoh diatas, didapatkan bahwa sisi asset adalah sebesar 250 Juta, kita asumsikan bahwa sisi ekuitas sebesar 150 Juta (maka 100 Juta lagi dibiayai dari hutang). ROE PT ABC adalah;

ROE ABC = 32.000.000/150.000.000 = 21.33%

Artinya, setiap RP 1 yang diinvestasikan pemilik (pemegang saham), maka menghasilkan Rp 0.213. Bagaimana pengembalian kepada para kreditor? Pengembalian pada kreditor bersifat fix yaitu dalam bentuk bunga, namun kepada investor dihitung dalam ROI/ROE ini.

  1. Earnings Per Share (EPS)

Rasio EPS menghitung bagaimana kemampuan dari perusahaan menghasilkan laba perlembar sahamnya. Dalam Laporan Keuangan perusahaan diharuskan membuat perhitungan tentang besaran dari EPS karena EPS sangat berpengaruh kepada penilaian investor bahkan lebih dari ROI/ROE. Maka rumus EPS adalah:

EPS = (Laba Bersih – Dividend Saham Preferen) / Jumlah saham biasa yang beredar

Disini ada poin mengenai deviden saham preferen, yaitu saham yang jumlah dividennya sudah ditentukan dan tidak tergantung dari besaran laba tahun itu, sehingga untuk memperoleh laba milik saham biasa harus di kurangi dengan deviden saham preferen terlebih dahulu.

Bagaimana bila ditengah tahun terjadi penerbitan saham baru? Jika hal ini terjadi maka jumlah saham beredar harus direratakan dengan jumlah tertimbang.

Sebagai contoh dari PT ABC, bahwa Laba bersih adalah 22 Juta. Di awal tahun perusahaan memiliki 1,000,000 lembar saham beredar, namun pada tanggal 1 september perusahaan menerbitkan 200,000 lembar saham baru. Berapa jumlah tertimbang saham sepanjang tahun?

Jumlah saham beredar adalah sebesar:

1.000.000 x 8/12 (Januari – Agustus) = 666.667 Lembar

1.200.000 x 4/12 (September – Desember) = 400.000 lembar.

Maka jumlah saham beredar sepanjang tahun adalah 1.066.667 lembar, bukan 1.000.000 atau 1.200.000 dan EPS perusahaan adalah 22.500.000/1.066.667 lembar saham yaitu Rp 21.09.

Artinya setiap lembar saham perusahaan menghasilkan return sebesar Rp 21.09

  1. Dividend Payout Ratio (DPO)

Dividend Payout Ratio adalah rasio yang menghitung berapa besar dari laba bersih yang didistribusikan kepada para pemegang saham. Dalam contoh PT ABC, maka laba bersih 22.5 juta dan pembayar kepada pemegang saham sebesar 15 Juta, sehingga DPO adalah  66,67%

Rumus DPO adalah = Dividen saham biasa / (Laba Bersih – Deviden saham preferen)

Artinya dari keseluruhan laba bersih sebesar 66,67% dibagikan dalam bentuk kas, sisanya dikembalikan kepada perusahaan untuk dikelola demi pengembangan perusahaan.

Apakah sebaiknya perusahaan membagikan deviden kas dalam rasio yang besar? Beberapa pertimbangan untuk membayar deviden dalam jumlah besar diantaranya:

  1. Pembagian deviden dalam bentuk kas mengakibatkan perusahaan kurang mampu berekspansi tahun depan, apabila dibayarkan 100% dalam bentuk kas maka kapasitas produksi perusahaan akan begitu-begitu saja.
  2. Pembayaran pajak deviden, ada pajak lagi atas deviden yang diterima pemegang saham yaitu sebesar 10%
  3. Penentuan besaran dividen disepakati dalam RUPS, sehingga tidak mudah pemegang saham untuk meminta DPO 100%
  4. Kondisi kas perusahaan, karena tidak 100% penjualan bersifat kas sehingga ada unsur-unsur non kas di dalam perhitungan laba seperti penyusutan, amortisasi, dan untung-rugi selisih kurs.

Selain dari profitablitas hal lain yang perlu diperhatikan dari sebuah perusahaan adalah likuiditas, percuma performa keuangan yang baik namun bila perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban-kewajiban keuangannya. Rasio likuiditas ini pula yang menjadi pertimbangan bank memberikan kredit ke perusahaan. 

  • Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)

Rasio likuiditas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya (utang) jangka pendeknya. Apakah dalam menilai likuiditas yang dibutuhkan hanya kondisi kas saja? Ataukah hal lain?

Dalam menghitung kemampuan likuiditas, kita akan menghubungkan antara komponen-komponen dalam BALANCE SHEET. Berbeda dengan rasio profitabilitas dimana bagian pembilang (bagian atas, atau yang dibandingkan) adalah PROFIT, sebagai proksi dari performa.

Komponen dari balance sheet diantaranya adalah:

  • Aset Lancar –> aset yang penggunaannya KURANG dari 1 tahun atau 1 periode
  • Aset Tetap (aset tidak lancar) –> aset yang digunakan LEBIH dari 1 tahun atau 1 periode
  • Kewajiban (atau hutang) Lancar –> hutang yang harus diselesaikan KURANG dari 1 periode
  • Kewajiban Tidak lancar –> hutang yang harus diselesaikan pada PERIODE SELANJUTNYA (bukan pada periode ini) 

Dalam tulisan ini, akuntansipedia akan memberitahukan mengapa rasio likuiditas dan profitabilitas memiliki kepentingan yang sama, berikut adalah alasannya dilihat dari berbagai perspektif:

  • Sebagai seorang investor, apakah anda mau memberikan uang anda kepada perusahaan yang menguntungkan namun menghadapi masalah kebangkrutan dan penyelesaian hutang di masa depan?
  • Sebagai seorang direktur (CEO), anda harus konsen kepada 2 hal yaitu performa dan kesehatan keuangan. Jangan sampai mencoba mendongkrak performa dengan hutang yang banyak (agar ROI/ROE tinggi, bahkan ROA mendekati ROI/ROE  karena perusahaan HAMPIR dibiayai semua dengan hutang)
  • Sebagai seorang kreditur, apakah anda akan memberikan pinjaman kepada perusahaan dengan performa baik (bisa bayar hutang perbulan) namun kemungkinan uang anda tidak kembali menjadi sangat besar?

Perusahaan dikatakan likuid bilamana jumlah assetnya bisa digunakan untuk menutupi jumlah kewajibannya. Namun klasifikasi likuid ini pun dibagi lagi menjadi:

  • Current Ratio (rasio lancar), bila Anda perhatikan dari pengertian komponen balance sheet diatas bahwa kata LANCAR adalah kurang dari satu tahun
  • Quick Ratio (rasio Cepat), yaitu kemampuan perusahan untuk memenuhi kewajiban lancarnya secepat-cepatnya

Sebagai contoh, dibawah ini adalah Laporan Keuangan PT Astra Agro Lestari (AALI) untuk tahun 2015 (dalam Jutaan) :

Sekarang, kita akan mencoba menganalisa likuiditas PT AALI:

  1. Current Ratio

Current Ratio mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban lancarnya, maka rumus dari current ratio adalah:

Current ratio = Current Asset (Asset Lancar)/current liabilitas (Utang Lancar)

Sehingga Current Ratio dari PT AALI Adalah 2.814.123/3.522.123 = 0.80 atau 80%, artinya setiap Rp 1 di hutang lancar, ditutupi oleh Rp 0,8 dari aset lancar.

Apakah artinya perusahaan sedang dalam kondisi tidak likuid? Belum tentu, coba kita analisa lebih lanjut:

  1. Akun piutang dan hutang itu “berputar” sepanjang tahun sehingga bisa saja di pertengahan tahun hutang diselesaikan secara berkala dan piutang dibayar oleh konsumen
  2. Likuiditas tinggi bisa saja jadi indikasi terlalu banyak kas yang nganggur, atau piutang yang buruk pengelolaannya sehingga piutang “menumpuk” tidak tertagih

Apa yang dapat dilakukan oleh PT AALI? Terdapat beberapa cara untuk menaikkan rasio current asset diantaranya adalah:

  • Restrukturisasi hutang, meminta kepada kreditur untuk menunda pembayaran hutang dari hutang jangka pendek ke jangka panjang sehingga nilai current liability turun.
  • Menunda pembayaran deviden, atau bila terpaksa, membayar dengan deviden saham.
  1. Quick Ratio atau dikenal juga dengan Acid Rasio

Apakah Anda melihat ada kelemahan dalam perhitungan rasio lancar? Apakah Anda tidak melihat bahwa ‘uang dibayar dimuka’ dan ‘pajak dibayar dimuka’ tidak bisa dicairkan untuk memenuhi kebutuhan? Maka item-item tersebut seharusnya dikeluarkan sehingga kita membutuhkan rasio lain yaitu rasio cepat (Quick Ratio).

Ada dua penyesuaian dari current ratio agar menjadi quick ratio yaitu;

  1. Mengeluarkan ‘prepaid expense’ seperti uang dibayar dimuka, sewa dibayar dimuka, asuransi dibayar dimuka, pajak dibayar dimuka karena item-item ini TIDAK BISA DIUANGKAN.
  2. Mengeluarkan Persediaan, kenapa persediaan dikeluarkan? Bukannya dapat dijual? Tidak ada jaminan bahwa 100% persediaan akan terjual tahun depan, berbeda dengan piutang karena piutang timbul dari PENJUALAN persediaan. sehingga persediaan dan piutang dari penjualan persediaan memiliki karakteristik yang berbeda tentang KEMUNGKINAN UANG DITERIMA.

Sehingga rumus dari Quick Ratio adalah:

Quick Ratio = (asset lancar – prepaid expense – persediaan) / Asset Lancar

dalam contoh PT AALI, maka Quick rationya adalah:

Quick Ratio = (2.814.123-1651,995-559.030-181.050)/3.522.123 = 11.98% atau 0.12

Artinya setiap Rp 1 dari Utang lancar hanya diback up olah rp 0.12 dari aset cair (kas dan piutang).

Acid ratio atau quick ratio, nilainya lebih rendah daripada Current Ratio karena memang Quick Ratio mengeluarkan akun-akun tertentu dari current ratio.

Lalu dapat disimpulkan bahwa PT AALI dalam keadaan tidak likuid. Apa yang dapat dilakukan?

  • Merestrukturisasi hutang menjadi hutang jangka panjang (sama seperti current ratio).
  • Menjual persediaan secepatnya agar menjadi piutang dan memiliki kemungkinan untuk menjadi kas lebih tinggi.
  • Mengurangi pembayaran atas prepaid expense, karena tidak bisa diuangkan dan uang akan ‘tertanam’ di akun tersebut.

Dengan penjelasan diatas, maka seharusnya kini Anda sudah memahami pentingnya rasio profitabilitas dan likuiditas bukan?

Pertanyaan yang muncul selanjutnya, apakah dua kelompok rasio ini saja sudah cukup? Tentunya belum karena kita bisa menjelaskan pertanyaan seperti;

  • Kenapa ROA nya rendah, dibagian manakah dari Aset yang kurang produktif? Apakah pengelolaan kas sudah optimal? apakah perputaran piutang, persediaan, dan hutang sudah optimal?
  • Bila quick ratio menyatakan rasio yang tidak likuid, apakah persediaan betul-betul tidak terjual sehingga tidak likuid? bisakah kita pertimbangkan nilai persediaan?

Dalam jangka pendek, perusahaan tidak likuid namun bagaimana dengan jangka panjang? bukankah kita ingin berinvestasi tidak hanya dalam setahun namun bertahun-tahun? Bila dalam jangka pendek perusahaan likuid, namun dalam jangka panjang perusahaan tidak likuid, haruskah kita tarik uang investasi kita? Kalau Anda merasa kesulitan hitung rasio keuangan, coba cara ini untuk hitung rasio keuangan otomatis!

Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijelaskan dengan menggunakan dua rasio lagi, yaitu rasio tata kelola aset (asset management) dan rasio solvabilitas (leverage ratio) yang akan ada di post kami selanjutnya!

Akuntansipedia berharap bahwa artikel ini dapat membantu Anda untuk memahami lebih lanjut mengenai akuntansi ya!