Apakah Anda sudah paham menenai perilaku biaya? Dalam proses produksi tentunya kita sangat memahami masalah biaya, yang sering kali muncul seperti “Pokoknya biaya harus bisa serendah mungkin”. Apakah ini memungkinkan? Tentu tidak bisa menekan biaya sembarangan, kita harus memiliki perencanaan dan pemahaman tentang untuk apa biaya ini digunakan? Kalau kita secara sembarangan mengurangi biaya, bisa saja berdampak buruk pada perusahaan, contohnya adalah:

  1. Mengurangi biaya gaji pegawai sembarangan, malah menyebabkan jumlah pegawai berkurang namun beban kerja tetap. Hal ini akan menambah beban kerja pegawai yang ada. Jika pegawai bisa mengatasi beban kerja yang ada seharusnya tidak ada masalah, tetapi bagaimana jika tidak bisa? Justru akan timbul banyak kesalahan pada pekerjaan, banyak koreksi, atau pekerja jatuh sakit, dan perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih lagi untuk itu.
  2. Mengurangi biaya bahan baku, akibatnya kualitas output perusahaan turun, sehingga pelanggan tidak mau beli dan penjualan turun.
  3. Mengurangi biaya pelatihan dan research, mungkin akan berdampak pada perbaikan laba jangka pendek, beban-beban berkurang namun di jangka panjang perusahaan tidak memiliki sumber daya manusia yang handal untuk menyelesaikan masalah atau memiliki inovasi untuk bersaing dengan pesaing

Itulah beberapa pertimbangan yang diberikan akuntansipedia agar Anda paham mengenai pentingngnya memahami perilaku biaya agar perusahaan dapat melakukan pengawasan dan perencanaan yang baik atas biaya yang timbul. Bila tidak memahami prinsip biaya dengan baik, perusahaan malah akan salah mengambil keputusan dan membawa akibat yang buruk bagi kelangsungan usahanya.

perilaku biaya, biaya perusahaan

  • Perilaku Biaya : Arti Biaya dan Laba

Tujuan didirikanya perusahaan adalah untuk menghasilkan laba, namun laba tidak diperoleh serta merta begitu saja. Dibutuhkan adanya pengorbanan (sacrifice) untuk mendapatkan laba tersebut, pengorbanan dalam hal ini adalah cost (biaya). Cost adalah money outflow (uang keluar) dari perusahaan yang kemudian digunakan untuk memperoleh money inflow (uang masuk). Sebagai contoh, perusahaan membeli barang dagangan (inventory) seharga Rp 80.000 lalu dijual lagi dengan harga Rp 100.000. Rp 80.000 disini merupakan biaya karena perusahaan mengeluarkan kas untuk membeli barang tersebut, dan kemudian perusahaan memperoleh penjualan (sales atau juga bisa revenue) dari pembeli yaitu Rp 100.000. Penjualan disebut dengan money inflow karena dengan adanya penjualanlah perusahaan memperoleh uang.

Dimana posisi laba? Laba adalah selisih antara Cost dan Sales (revenue). Sehingga dapat dikatakan:

Profit=Revenue-Cost

Pada umumnya, semakin besar  revenue perusahaan, maka ada kemungkinan profit perusahaan juga meningkat. Namun dapatkah kenaikan revenue menjamin hal tersebut? Tentu tidak, kita harus melihat faktor costnya. Bila kenaikan Revenue diiringi kenaikan Cost, maka Profit akan konstan, atau tidak berubah.

Apakah kenaikan revenue yang diiringi kenaikan cost, yang menyebabkan profit konstan, sama dengan revenue yang tidak naik dengan cost yang juga konstan? Jawaban dari pertanyaan ini dapat dilihat dari Profit margin ratio, seperti dalam contoh dibawah:

Skenario 1 – Revenue Tetap, Cost Tetap

                  Revenue Rp 100.000

                  –Cost Rp 80.000

                  Profit Rp 20.000

                  Profit Margin Ratio = Profit / sales = 20.000/100.000 = 20%

Skenario 2 – Revenue Naik, Cost Naik

                  Revenue Rp 120.000

                  -Cost Rp 100.000

                  Profit Rp 20.000

                  Profit Margin Ratio = Profit / Sales = 16.66%

Atas dasar inilah perusahaan harus menjaga laba dan revenuenya sebaik mungkin. Belum lagi jika kita bicara tetang value added, atau nilai tambah yang dihasilkan selama barang diproduksi. Misalkan, perusahaan tadi membeli barang seharga RP 80.000, namun ada beberapa skenario yang tersedia.

  1. Menjual barang tersebut di Jakarta Pusat dengan harga jual Rp 110.000 , dengan tambahan biaya transportasi sebanyak RP 5.000
  2. Memproses lebih lanjut barang tersebut dengan biaya Rp 10.000 lalu dapat dijual dengan harga Rp 140.000
  3. Membeli barang tersebut secara batch (kodian, lusinan, gross) sebanyak 20 Buah agar mendapat diskon menjadi Rp 75.000 dan menjual dengan harga Rp 100.000

Dari tiga skenario di atas, pilihan mana yang akan anda pilih?

  • Skenario 1 akan menghasilkan laba Rp 25.000 [110.000 – (80.000+5.000)], dengan profit margin ratio 22.72%
  • Skenario 2 akan menghasilkan laba Rp Rp 50.000 [140.000 – (80.000+10.000)], dengan profit margin ratio 35,71%
  • Skenario 3 dengan menghasilkan laba Rp 25.000/unit [100.000-75.000] dengan profit margin 25%

Jika Anda memilih, maka Anda pasti akan memilih opsi 3 ditambah dengan opsi 2. Anda akan membeli dalam batch (periode) dan akan melalui proses langsung. Sehingga didapatkan laba per unit Rp 55.000 [140.000 – (75.000+10.000)], namun hal ini dapat Anda jalankan ketika Anda sudah memahami perilaku biaya, yaitu:

  1. Biaya untuk membeli per-batch menjadi lebih rendah
  2. Ada biaya untuk memproses barang lebih lanjut hingga menaikkan nilai jual

Namun, Anda pun harus ingat bahwa, dengan memilih opsi ini Anda akan perlu lebih banyak uang untuk membeli barang-barang tersebut. Yang ada butuhkan, bukan lagi Rp 80.000 sebagai modal, tetapi sudah sebanyak Rp 1.500.000 (20 Unit x Rp 75.000). Selain itu, Anda pun membutuhkan uang lebih untuk proses barang yaitu Rp 200.000 (Rp 10.000 x 20 unit), sehingga total biaya yang Anda butuhkan adalah Rp 1.700.000. Apakah Anda memiliki cukup uang untuk ini?

Perilaku biaya yang berdasarkan pada cost driving di perusahaan

  • COST DRIVER (PEMICU BIAYA)

Biaya tidak akan muncul tanpa adanya pemicu, apa yang dimaksud dengan pemicu biaya? Hal yang paling mudah diidentifikasi sebagai pemicu biaya adalah ‘pesanan konsumen’ (customer demand).  Jika tidak ada pesanan konsumen, tentu tidak akan ada biaya, tidak ada produksi, dan tidak ada pembelian bahan baku ataupun barang dagangan. Kunci dari aktivitas bisnis Anda adalah konsumen Anda.

Ternyata, ada pemicu biaya lain selain pesanan konsumen, yaitu pemicu biaya yang bersifat struktural, operasional, dan aktivitas. Cost Driver ini tidak bersumber daya pesanan konsumen namun bersumber dari keputusan manajemen yang tidak terkait langsung dengan pesanan konsumen. Seperti apakah contohnya?

  • Structural Cost Driver (pemicu biaya struktural)

Pemicu biaya struktural adalah pemicu biaya yang timbul karena pilihan struktur perusahaan, lokasi bisnis, lini bisnis, dan jenis badan usaha perusahaan.

  • Berapa besar kapasitas terpasang Anda?

Semakin besar kapasitas terpasang Anda maka akan semakin besar biaya tetap yang akan Anda tanggung. Namun biaya tetap perunit anda akan semakin kecil. Misalkan saja, Anda bergerak di usaha ekspedisi logistik. Anda memiliki 2 pilihan dengan beberapa konsekuensinya, seperti:

  • Menggunakan mobil pick up (misal kapasitas 300kg) atau menggunakan truk (misal kapasitas 2 ton).
  • Kita anggap harga mobil pickup sekitar 150 juta sementara harga mobil truk sekitar 450 Juta, keduanya disusutkan dengan masa manfaat 5 tahun
  • Mobil pickup memiliki konsumsi bensin 1 liter 10 KM, sementara mobil truk memiliki konsumsi bensin 1 liter hanya 5 KM. Harga perliter bensin misal sebesar Rp 8.000

Dengan demikian, maka biaya tetap penyusutan mobil pick up adalah Rp 30 Juta (150 Juta untuk 5 Tahun) dan Rp 90 Juta untuk truk (450 Juta untuk 5 tahun). Biaya Bensin perliter perkilometer untuk masing-masing kendaraan adalah pickup Rp 800 (Rp 8.000/10Km) dan Truk Rp 1.600 (Rp 8.000/5Km).

Masing-masing dari setiap keputusan memiliki konsekuensi yang harus perusahaan tanggung. Keputusan ini tergantung dari:

  1. Berapa banyak order yang bisa perusahaan raih, apakah 100 Kg pertrip, apakah 1 ton, ataukah 2 ton?
  2. Berapa jauh trip yang akan diambil perusahaan, apakah 100Km ataukah 1.000Km?

Semakin besar order yang bisa diambil perusahaan maka perusahaan lebih baik mengambil Truk karena dengan truk maka biaya Variabel (bensin) per km lebih rendah yaitu RP 1.600/300.000 Kg = Rp 0.0053/Kg. Namun bila menggunakan Mobil pick up sebesar Rp 800/3ooKg = Rp 2,67/Kg.

Kemudian biaya penyusutan juga akan terpengaruh, contohnya bila  perusahaan dapat mengambil 1 trip per hari maka pickup dapat mengambil 240 Trip (1 Trip dikali 260 hari kerja, 5 hari kerja seminggu, setahun 52 minggu) maka total diangkut maksimal dalam setahun adalah 78 ton (260 hari kerja x 300 kg per trip). Sementara penyusutan pertahun adalah 30 Juta, sehingga biaya penyusutan per kg adalah Rp 385/Kg.

Biaya penyusutan untuk truk adalah, RP 90 juta / tahun. kapasitas yang dapat diangkut oleh truk dengan hari kerja yang sama dengan pick up adalah 520 ton (260 hari x 2.ooo kg). Bila menggunakan truk maka biaya penyusutan adalah per kilo adalah Rp 173/kg.

Lebih murah bukan?

Selain itu, masih terdapat beberapa pertimbangan yang harus Anda tentukan terkait hal ini:

  • Dimana Lokasi Usaha Anda? 

Lokasi usaha Anda juga mempengaruhi dari pemicu biaya yang akan timbul. Masih melanjutkan contoh dari perusahaan logistik (ekspedisi) tadi, bila Anda memilih tempat usaha di tengah kota untuk mengejar order maka

  1. Kemungkinan anda membutuhkan sewa tempat yang tinggi
  2. Anda sulit untuk memakai mobil truk karena jalannya kecil dan tidak efisien untuk menggunakan truk, bahkan di beberapa ruas tidak bisa masuk
  3. Kemungkinan order di dalam kota kemungkinan banyak namun dalam jumlah yang kecil-kecil (misal 10Kg, 2 kg, 3kg) sehingga sulit untuk mencapai volume maksimal

Bila anda menempatkan diri di luar kota maka anda mendapatkan beberapa pertimbangan diantaranya:

  1. Biaya sewa kemungkinan bisa lebih murah karena tidak diluar kota
  2. Diluar kota kemungkinan anda bisa mendapat order dari gudang ke gudang sehingga bisa mendapat order maksimal
  3. Namun karena jaraknya gudang ke gudang bisa-bisa orderan anda jauh jauh dan biaya bensin menjadi lebih mahal.
  • Teknologi apa yang akan anda terapkan?

Hal lain yang dapat Anda lakukan adalah melakukan modifikasi terhadap mesin atau mobil truk. Atau memilih diantaranya keduanya. Misalkan Anda bisa memodifikasi mobil pickup agar dapat memuat lebih banyak barang dengan menggunakan bak terbuka tapi ada resiko barang bisa jatuh, atau Anda bisa menggunakan bak tertutup sehingga barang lebih aman namun muatan jadi lebih terbatas.

Begitupun, bila anda memilih untuk menggunakan truk, Anda dapat menekan harga bila menggunakan truk terkini dengan teknologi ramah lingkungan. Tapi teknologi pun ada konsekuensinya, bisa-bisa harga truk lebih mahal dari estimasi awal.

Sementara dalam urusan administrasi juga demikian, apakah pesanan akan diproses dengan aplikasi online (seperti Gojek, Uber, Dan lain-lain) atau membuka cabang franchise, atau jemputan manual satu-satu. Tergantung dari strategi bisnis perusahaan.

  • Bentuk badan usaha apa yang anda pakai?

Terdapat beberapa bentuk badan usaha yang dapat Anda pakai, yaitu:

  1. Perorangan
  2. Persekutuan (firma)
  3. Perseroan (PT)

Masing-masing memiliki konsekuensi hukum dan adminsitrasi yang berbeda. Termasuk biaya pendirian dan perpajak. Dengan rincian sebagai berikut:

  1. Perseorangan dipajaki dengan tarif PPh pasal 21 (progresif)
  2. Firma dipajaki dengan tarif pasal 17, deviden tidak ada pajak
  3. PT dipajaki dengan tarif pasal 17, ketika dividen dibagi ada pajak lagi

Namun harus diingat PT membatasi kewajiban antara perusahaan dan pemilik, sementara perorangan dan firma tidak.

  • Organizational Cost Driver

Organizational cost driver adalah pemicu biaya yang timbul di tingkat organisasi dan berkaitan dengan tata kelola perusahaan, administrasi dan keuangan. Sebagai contohnya adalah;

  1. Berapa jam operasional yang diperbolehkan oleh perusahaan?
  2. Berapa jenis service yang akan disediakan oleh perusahaan?
  3. Berapa banyak supplier dan rekanan yang anda butuhkan?
  4. Bagaimana tata kelola administrasi, kepegawai, pemrosesan pesanan

Berikut adalah penjelasan dan ilustrasinya masih menggunakan contoh perusahaan logistik. Setelah perusahaan memutuskan bahwa perusahaan akan memilih opsi tertentu, maka perusahaan akan memutuskan berapa jam operasional perusahaan. Misalkan perusahaan memutuskan untuk menggunakan truk dan mengambil trayek luar kota, maka perusahaan akan memberikan insentif tertentu kepada supir karena supir bisa bermalam dijalan dan tidak pulang kerumah.

Disisi lain bila perusahaan mengambil ekspedisi dalam kota, perusahaan bisa mondar-mandir (misal mengantar dengan rute depok – bogor – tangerang sambil mengambil dan mengantar pesanan) dengan mengambil trayek dalam kota perusahaan bisa mengambil banyak pesanan. Namun harus diingat tiap pemberhentian memakan akan waktu loading. Hal ini tidak seperti trayek luar kota, dimana hanya terdapat 1 – 2 tujuan dan waktu loading pun akan berkurang (karena satu tujuan dan loading out dengan jumlah yang banyak).

Belum lagi seandainya perusahaan ingin menerapkan adanya paket biasa, cepat, kilat, dan khusus. Setiap perlakuan akan memiliki hal yang berbeda, selain itu biaya yang ditimbulkan juga berbeda. Selain itu juga mengenai berapa banyak rekanan yang Anda perlukan, misalnya, Anda membatasi jumlah pesanan yang dapat Anda proses dalam waktu sehari, ketika jumlah pesanan sudah lebih dari batasan Anda, maka Anda langsung dapat memindahkan ke ekspedisi rekanan Anda. Disisi lain, Anda juga harus membina hubungan dengan pemberian diskon atau harga spesial, ini juga akan menjadi biaya lainnya bagi usaha Anda.

Selain itu, masih terkait dengan aktivitas operasi perusahaan, apakah perusahaan ingin membedakan divisi penerimaan barang dan pengepakan barang? Atau menyamakan bagian akunting dan penerimaan barang? Atau membedakan ketiga departemen tersebut? Hal ini jelas memengaruhi biaya perusahaan Anda, karena akan memengaruhi gaji dan remunerasi, serta beban kerja pegawai.

    Macam-macam pemicu biaya struktural di perusahaan
  • Activity Cost Driver

Activity cost driver (aktivitas pemicu biaya) adalah biaya-biaya yang memicu adanya biaya. Hal ini biasanya dibagi menjadi 2 aktivitas yaitu aktivitas menangani pesanan dan memproduksi barang. Menangani pesanan termasuk dari menerima pesanan sampai mendelivery pesanan.

Dalam menangani pesanan, perusahaan akan mengalami beberapa biaya, contoh yang paling simpel adalah ketika konsumen datang dan ingin membeli barang serta jasa kita (dalam contoh perusahaan ekspedisi adalah menyerahkan barang yang akan dikirim), hal ini akan menyita waktu yang akan dihitung dalam gaji pegawai. Jika gaji pegawai sebulan senilai Rp 3.000.000 (Untuk 20 hari kerja), setiap hari kerja, pegawai akan digaji Rp 150.000 dengan catatan pegawai mampu untuk menangani 100 pesanan. Maka, biaya menerima pesanan adalah Rp 1.500/pesanan.

Lain hal nya dengan biaya input pesanan, hal ini akan mencakup biaya listrik, software, ataupun biaya kertas dan packing awal saat penerimaan barang. Setelah barang diproses pun, perusahaan akan mendapat biaya pemisahan barang berdasarkan pengiriman. Bila dari 100 barang, terdapat 30 barang yang akan dikirim ke Depok, 10 barang ke Ragunan, dan 20 barang ke Lenteng Agung. Biaya yang akan timbul tentunya akan lebih murah karena tujuannya serute. Namun, ternyata ada 20 barang yang harus dikirim ke Tangerang (berbeda arah dan rute), tentunya biaya pengantaran akan semakin mahal.

  • Tingkatan Biaya

Bila Anda menganalisa, terdapat beberapa level biaya yang terjadi terhadap suatu proses operasi. Biaya-biaya ini berada pada setiap level yang berbeda dan dipicu oleh hal-hal yang berbeda pula. Seharusnya hal ini dibebankan pada level yang berbeda pula. Pada dasarnya, level-level biaya terbagi menjadi 4 level yaitu:

  • Unit Level – sebagai level pertama

Unit Level Cost adalah biaya perunit yang dapat diidentifikasi dan langsung tekait dengan biaya perunitSebagai contoh, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung per unit, dan biaya overhead yang dapat diidentifikasi langsung ke unit. Dalam contoh perusahaan logistik, maka biaya perunit adalah biaya pemrosesan per pesanan, biaya input, dan biaya packing.

Pada perusahaan manufaktur adalah bahan baku dan tenaga kerja langsung. Sebagai contoh, perusahaan pembuatan perabotan kayu. Maka perusahaan akan dapat mengidentifikasi berapa meter kayu yang dibutuhkan per unit, berapa paku yang dibutuhkan, berapa cat yang diperlukan dan varnish yang harus dilapiskan.

Biaya untuk membuat kursi tentu berbeda untuk biaya membuat meja, banyak kayu yang dibutuhkan juga berbeda, dan cat yang dibutuhkan berbeda, dan paku yang dibutuhkan berbeda.

  • Batch Level-  sebagai level kedua

Batch level adalah biaya yang dapat diidentifikasi terhadap satu jenis produk namun dalam jumlah yang lebih besar. Biasanya biaya yang ada adalah biaya kerat (packing yang besar) atau handling perbatch.

Misalkan, dalam contoh perusahaan logistik, maka batch level adalah biaya yang timbul karena mengantar barang- barang dengan trayek Pasar Minggu, Lenteng Agung, dan Depok. Karena jaraknya berdekatan maka sulit mengidentifikasi satu persatu, maka biaya akan dihitung secara bersamaan. Dengan demikian yang menikmati biaya oven (pengeringan) tidak hanya 1 produk namun banyak produk. Ini adalah contoh lain dari batch level cost.

  • Product Level – sebagai level ketiga

Product level cost adalah biaya yang timbul karena munculnya suatu jenis produk dan sangat sulit dialokasikan ke unit-unit produksi. Sebagai contoh dari product level adalah;

    1. Biaya untuk pemasaran produk
    2. Biaya rekayasa produk
    3. Biaya penyusutan mesin yang spesifik untuk produk

Sebagai contoh bila kita menggunakan perusahaan logistik, maka biaya produk adalah biaya ketika perusahaan mengenalkan servis kilat, reguler, dan ekspress kepada pelanggan. Atau biaya pengiriman khusus produk kilat dan ekspress (karena pasti dikirim dengan pesawat atau alternatif lain, yang membutuhkan biaya lebih).

Contoh pada perusahaan perabotan adalah biaya ketika perusahaan pemasaran, misalnya ketika perusahaan mengenalkan jenis kursi baru atau ketika perusahaan mendesain jenis produk kursi baru. Ketika perusahaan memiliki jenis mesin sendiri untuk memproduksi barang maka  dapat dianggap sebagai product level cost.

  • Facility  Level – sebagai level keempat

Facility level cost adalah biaya yang timbul dan dinikmati oleh semua produk sehingga tidak bisa dialokasikan ke unit level atau bahkan product level. Sebagai contoh adalah biaya penyusutan mobil pada perusahaan logistik. Kita tidak bisa mengkategorikan ini untuk salah satu produk atau jasa, karena semua menggunakan mobil ini. Lalu sama hal nya dengan biaya administrasi kantor, semua pesanan akan melalui layanan kantor yang sama.

Sekian penjelasan akuntansipedia mengenai perilaku biaya berdasarkan jenis-jenis cost driver. Tentunya akuntansipedia akan selalu menampilkan artikel-artikel ilmu akuntansi dan perusahaan terbaik bagi Anda. Jangan sungkan untuk komen mengenai saran topik di kolom komen ya!