Bila dalam artikel sebelumnya kita sudah membahas perbandingan PSAK (pernyataan standard akuntansi keuangan) dan SAK ETAP (standard akuntansi keuangan entitas tanpa akuntabilitas publik) dari sisi penyajian. Pada artikel ini, kita akan membahas perbedaan PSAK dan SAK ETAP dari sisi Pengukuran dan Pengakuan. Sebagai pengingat kepada Anda semua, PSAK dan SAK ETAP keduanya sama-sama Standard Akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan disahkan oleh Dewan Standard Akuntansi Keuangan dari Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI). Namun, apakah yang membedakan antara pengguna dari PSAK dan SAK ETAP? Yang menjadi pembeda dari keduanya adalah  akuntabilitas yang dimiliki. Terdapat 2 syarat entitas (perusahaan/badan) yang dapat menggunakan SAK ETAP yaitu:

  1. Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi stakeholder eskternal
  2. Tidak memiliki akuntabilitas signifikan. Akuntabilitas publik disebut signifikan bila memenuhi salah satu dari 2 poin ini yaitu;
    1. Tidak listed (terdaftar) di bursa, tidak sedang dalam proses pendaftaran atau sedang akan mengajukan pendaftaran di bursa pasar modal (baik menerbitkan surat hutang atau saham)
    2. Tidak memiliki peran sebagai fidusia atau memegang harta miliki orang lain seperti bank, asuransi, dana pensiun, manajer investasi, pegadaian, dan koperasi simpan pinjam.

Dalam artikel sebelumnya, terlihat perbedaan PSAK dan SAK ETAP ini yang dilihat dari sisi penyajian dimana penyajian dari SAK ETAP jauh lebih sederhana dari PSAK umum sehingga informasi yang dimiliki SAK ETAP juga jauh lebih minim dibandingkan PSAK umum. Perbedaan PSAK dan SAK ETAP akan semakin kontras bila kita melihat unsur-unsur pengakuan dan pengukuran dari SAK ETAP dan PSAK.

pajak, sak etap, akuntansi sak etap, Perbedaan PSAK dan SAK ETAP
Photo by rawpixel.com on Unsplash

Pengaturan dalam PSAK disebutkan dalam PSAK nomor xx namun dalam SAK ETAP disebutkan dalam Bab xx. Namun mengandung esensi yang sama yaitu untuk membagi-bagi pengaturan.

Sebagai informasi bagi Anda pengguna dan pembaca Standard Akuntansi, sebuah standard akuntansi hanya berisi 4P yaitu;

  1. Pengakuan – kapan sebuah akun dapat diakui dan dicatat dalam laporan keuangan perushaaan
  2. Pengukuran – bagaimana pengukuran nilai atas sebuah aset, ekuitas atau kewajiban baik pada nilai awalnya dan pada periode-periode berikutnya, atau biasa disebut pengukuran selanjutnya
  3. Penyajian – bagaimana penyajian atas akun tersebut pada laporan keuangan disajikan di sebelah mana
  4. Pengungkapan – hal-hal apa saja yang harus diungkapan terkait transaksi tersebut di catatan atas laporan keuangan.

Poin nomor 3 dan  4 sudah dibahas pada artikel sebelumnya dan artikel ini akan membahas poin 1 dan 2 dari 4P standard Akuntansi.

  1. Pengaturan Terkait Aset

Secara umum pengertian antara Aset dalam PSAK dan SAK ETAP sama saja, tidak ada perbedaan antara kedua standard. Namun yang menjadi Perbedaan PSAK dan SAK ETAP adalah pengakuan dan pengukuran awal serta pengukuran selanjutnya. Beberapa perbedaan yang signifikan akan dibahas dengan tulisan di bawah ini:

  • Investasi pada efek tertentu

Investasi yang dimaksud disini adalah investasi pada efek baik efek ekuitas (saham) dan efek hutang (surat hutang, bond dan obligasi). Dalam PSAK umum pengukuran investasi pada efek diatur dalam PSAK 55 untuk pengakuan dan pengukuran, sementara penyajian diatur dalam PSAK 50, dan pengungkapan diatur dalam PSAK 60. Dalam SAK ETAP, 3 PSAK tersebut dibahas hanya dalam satu bab saja yaitu Bab 10.

Perbedaan PSAK dan SAK ETAP timbul diantaranya karena pembagian aset keuangan yang lebih sedikit dari PSAK dan tidak adanya tainting rule. Dalam PSAK, pembagian Aset Keuangan dibagi menjadi 4 yaitu

  1. Di miliki hingga jatuh tempo atau Held To Maturity (HTM)
  2. Tersedia untuk dijual atau Available for Sale (AFS)
  3. Diperdagangkan atau Trading
  4. Pinjaman dan piutang yang diberikan

Dalam SAK ETAP, pengaturan keempat tidak ada, tidak ada klasifikasi aset keuangan dalam bentuk piutang dan pinjaman yang diberikan. Sementara untuk pengukuran selanjutnya sama saja, dimana

  1. Held To Maturity (HTM) diukur pada nilai wajar dikurangi amortisasi
  2. Perubahan nilai padaAvailable for Sale (AFS) dimasukkan dalam komponen ekuitas (bila PSAK dimasukan dalam laba rugi komprehensif)
  3. Perubahan nilai pada trading dimasukkan dalam Laba Rugi Periode berjalan.

Apa yang mendasari satu aset keuangan akan diklasifikasikan sebagai HTM, AFS, Atau Trading? Dalam PSAK disebutkan bahwa entitas dapat memasukkan suatu aset sebagai aset keuangan berdasarkan maksud dan kemampuan. Bila sejak awal perusahaan memang bermaksud untuk memiliki aset keuangan untuk dimiliki hingga jatuh tempo dan tidak mau memperdagangkan maka perusahaan harus mengklasifikasikannya sebagai HTM. Namun bila ditengah periode aset keuangan ternyata entitas mengalami kesulitan keuangan dan aset keuangan yang dimiliki hingga jatuh tempo tadi harus dijual, maka entitas harus mengklasifikannya sebagai tersedia untuk dijual. Kenapa demikian? Karena sekarang perusahaan sudah tidak mampu memegang aset tersebut lebih lama lagi.

Sebaliknya ketika entitas memiliki aset keuangan, misalkan obligasi, dan bermaksud untuk memperdagangkannya dikemudian hari namun ternyata selama periode aset keuangan perusahaan yang berhutang atau si penerbit obligasi ternyata mengalami kesulitan keuangan sehingga obligasi tadi tidak likuid lagi, tidak ada yang mau membelinya maka perusahaan harus mereklasifikasi obligasi tadi dari sebelumnya berada di posisi trading menjadi dimiliki hingga jatuh tempo. Dengan reklasifikasi ini artinya walaupun perusahaan bermaksud untuk memperdagangkan efek tersebut namun karena posisi efek dipasar tidak memungkinkan untuk dijual (tentu sulit menjual surat hutang perusahaan yang akan bangkrut) maka perusahaan tidak mampu untuk melakukan maksud tersebut.

SAK ETAP hanya mengatur mengenai maksud saja, tapi tidak ada pengaturan mengenai kemampuan. Sehingga selama perusahaan bermaksud untuk memiliki aset keuangan sebagai HTM, AFS, atau Trading maka perusahaan boleh mengklasifikasikan demikian selama periode efek tersebut tanpa melihat kemampuan entitas untuk melaksanakan maksudnya.

Sebelumnya, terdapat sedikit bahasan mengenai Tainting Rule, apa itu tainting rule? Tainting Rule adalah peraturan bahwa setelah diklasifikasikan dari HTM aset keuangan dapat direklasifikasi menjadi AFS atau Trading, seperti penjelasan diatas, dan harus bertahan dalam klasifikasi baru tersebut sekurang-kurangnya selama 2 periode. Setelah 2 periode maka aset keuangan baru boleh di reklasifikasi lagi menurut kemauan dan kemampuan entitas.

Hal ini dilakukan untuk mengurangi fluktuasi nilai laba/rugi dari periode berjalan diakibatkan perpindahan aset dari dan ke Trading serta fluktuasi laba rugi komprehensif akibat perpindahan aset dari dan ke AFS.

Sebagai contoh diatas sebuah obligasi dibeli mula-mula pada tahun 2010 untuk tujuan dimiliki untuk dijual, namun ditengah periode, tahun 2012, perusahaan berniat untuk menjual obligasi tersebut karena harga pasarnya naik. Sehingga pada 2012, aset keuangan direklasifikasi dari HTM menjadi trading dan efek kenaikan harga selama 2012 dimasukkan dalam komponen laba rugi. Sehingga dalam 2012 ada kenaikan laba karena perpindahan aset keuangan.

Aset keuangan ini harus bertahan di klasifikasi Trading sekurang-kurangnya hingga 2014. Dan boleh direklasifikasi lagi di tahun 2015, aturan ini disebut sebagai tainting rule.

Sementara di SAK ETAP tidak ada pengaturan demikian, tidak ada tainting rule atas sebuah aset. Sehingga perusahaan dapat memindahkan sebuah aset keuangan dari satu kelas ke kelas lain sesuai kemauan manajemen, tanpa melihat batasan lamanya sebuah aset di kelas tertentu. Ini adalah Perbedaan PSAK dan SAK ETAP yang lain.

  • Persediaan

Perbedaan PSAK dan SAK ETAP lainnya ada di faktor persediaan. Pengaturan persediaan sama dengan PSAK 14 tentang persediaan, dimana nilai persediaan ditentukan mana yang lebih rendah antara harga perolehan (acquisition cost atau historical cost) dan harga jual dikurangi biaya untuk menjual (net realizable value, NRV). Apakah ada perbedaan metode penilaian persediaan antara SAL ETAP dan PSAK? Jawabannya tidak, baik SAK ETAP dan PSAK sama-sama tidak membolehkan pemakaian metode LIFO (last in first out). Metode ini dinilai kurang menggambarkan realitas di dunia nyata dimana harga bahan dan barang cenderung naik. Metode yang diperbolehkan adalah First In First Out (FIFO) dan Average (rata-rata tertimbang). Hal yang tidak diatur dalam persediaan SAK ETAP adalah persediaan pialang komoditi dengan menggunakan nilai wajar.

  • Investasi pada perusahaan anak, entitas asosiasi, joint venture.

Pertanyaan pertama yang muncul dan pasti akan ada pertanyakan adalah, apakah mungkin sebuah perusahaan yang menggunakan SAK ETAP memiliki anak usaha atau perusahaan asosiasi? Pada pertanyaan ini terdapat kesalahan asumsi dari kita bahwa perusahaan SAK ETAP adalah perusahaan kecil dan tidak memiliki struktur perusahaan yang kompleks, padahal batasan antara PSAK dan SAK ETAP adalah akuntabilitas, untuk penjelasan ini bisa melihat di artikel sebelumnya.

Apakah terdapat perbedaan definisi antara entitas asosiasi, joint venture (disingkat JV atau perusahaan patungan), dan perusahaan anak antara PSAK dan SAK ETAP? Jawabannya adalah tidak ada. Antara SAK ETAP dan PSAK memiliki pengertian yang sama tentang 3 bentuk usaha tersebut, yaitu;

  1. Entitas asosiasi adalah entitas dimana perusahaan memiliki sedikit kepemilikan atas ekuitasnya, namun perusahaan tidak memiliki pengendalian yang signifikan terhadap entitas tersebut.
  2. Perusahaan anak adalah entitas yang sahamnya dimiliki oleh perusahaan dan perusahaan memiliki pengendalian yang signifikan atas perusahaan tersebut
  3. Sementara perusahaan patungan (Joint Venture) adalah perusahaan yang dimiliki dan dikendalikan secara bersama dengan perusahaan lain.

Bagaimanakah perbedaan perlakuan SAK ETAP dan PSAK terhadap ketiga jenis bentuk struktur perusahaan dibawahnya ini? Rumusnya adalah metode pengukuran SAK ETAP satu level lebih rendah dari yang disyaratkan PSAK. Terdapat 3 metode pengukuran entitas anak dan asosiasi yaitu

  1. Konsolidasi
  2. Metode ekuitas
  3. Metode biaya

Metode konsolidasi adalah metode untuk pengendalian yang signifikan dan makin menurun bila kebawah. Pada metode ekuitas perusahaan memiliki kepemilikan namun tidak signifikan. Sedangkan pada metode biaya perusahaan hanya memiliki investasi saja pada perusahaan anak. Untuk detil terhadap perhitungan dari ketiga metode ini akan dibahas pada artikel yang lain.

PSAK mensyaratkan bahwa untuk perusahaan anak, maka laporan keuangan anak harus dikonsolidasi ke laporan keuangan induk. Namun SAK ETAP hanya mensyaratkan perusahaan induk cukup menggunakan metode ekuitas saja untuk menghitung investasinya di perusahaan anak.

Disisi lain untuk perusahaan asosiasi, PSAK mensyaratkan perusahaan untuk menghitung investasinya menggunakan metode ekuitas. Namun bagi pengguna SAK ETAP cukup dihitung dengan metode biaya saja.

Bagaimana perusahaan Joint Venture (JV)? Karena memiliki pengendalian bersama atas perusahaan tersebut, maka diasumsikan bahwa perusahaan tidak memiliki pengendalian yang signifikan maka cukup menggunakan metode ekuitas. Namun bila di AD ART perusahaan JV mengatakan bahwa perusahaan satu memiliki pengendalian yang lebih dari perusahaan lain maka laporan keuangan perusahaan JV harus dikonsolidasi ke perusahaan yang memiliki pengendalian lebih tersebut.

Sementara kita masih menggunakan rumus di awal bahwa pengukuran SAK ETAP setingkat dibawah PSAK. Bila terhadap JV perusahaan memiliki pengendalian yang signifikan maka cukup menggunakan metode ekuitas saja dan bila perusahaan tidak memiliki pengendalian signifikan maka cukup dengan metode biaya saja.

  • Aset Tetap dan Properti Investasi

Perbedaan PSAK dan SAK ETAP lainnya ada pada aset tetap dan properti investasi. Dalam pengaturan mengenai aset tetap dan properti investasi tidak terdapat perbedaan definisi antara kedua standard. Namun dalam SAK ETAP perusahaan diberikan pilihan metode pengukuran yang lebih sedikit daripada PSAK. Di PSAK entitas diperbolehkan menggunakan pengukuran menggunakan metode revaluasi atau menggunakan historical cost (biaya perolehan). Namun dalam SAK ETAP perusahaan hanya diperbolehkan menggunakan metode biaya perolehan saja, artinya SAK ETAP tidak membolehkan perusahaan untuk merevaluasi baik aset tetap dan properti investasi yang dimilikinya.

Apakah selamanya demikian, bahwa pengguna SAK ETAP tidak akan bisa merevaluasi asetnya? Perusahaan boleh merevaluasi asetnya apabila diperbolehkan oleh regulator untuk melakukan revaluasi.

Apakah yang terjadi bila setelah revaluasi disyaratkan oleh regulator? Bagaimana penyusutannya? Karena pada Aset tetap dan properti investasi bila memilih untuk menggunakan metode revaluasi maka aset tersebut tidak boleh disusutkan. Untuk pengguna SAK ETAP dan diharuskan melakukan revaluasi oleh regulator, maka nilai yang telah direvaluasi disusutkan sesuai masa manfaat aset. Dengan demikian maka besaran penyusutan akan berbeda antara satu aset bila direvaluasi, karena nilai revaluasian yang menjadi dasar penyusutan aset sekarang.

  • Aset Tidak Berwujud

Sebenarnya bila ditelaah secara pengukuran di SAK ETAP terdapat pengaturan yang berbasis seperti US GAAP (United States Generally Accetpted Accounting Standard) yang menggunakan principle based (berbasis aturan) yang akan terlihat di pengaturan tentang sewa dan tentang aset tidak berwujud.

Secara umum terdapat 2 jenis aset tidak berwujud, yaitu;

  1. Goodwill, sebagai sisa pembayaran dari akuisisi anak perusahaan
  2. Patent, hasil riset, formula obat, dan bentuk hak kekayaan intelektual lainnya yang berasal dari proses research and development

Untuk pengguna SAK ETAP, perushaaan tidak diperbolehkan untuk mendapatkan aset hak kekayaan intelektual melalui proses R&D melalui proses membangun sendiri. Sementara pengguna PSAK diperbolehkan untuk mendapatkan R&D melalui proses penelitian dan memiliki pengaturan tersendiri. Pengguna SAK ETAP hanya diperbolehkan untuk mendapat aset seperti kekayaan intelektual melalui pembelian dari pihak luar, apakah pengguna PSAK ETAP tidak boleh melakukan R&D? Jawabannya tentu saja boleh namun bila pengguna SAK ETAP melakukan R&D maka seluruh biaya terkait hal tersebut harus dibebankan sesuai dengan periodenya, tidak boleh ada kapitalisasi biaya di proses R&D dari pengguna SAK ETAP.

Apakah dengan pengaturan seperti R&D artinya pengguna SAK ETAP tidak bisa memiliki aset Goodwill? Kepemilikan Goodwill tetap diperbolehkan dalam penggunaan SAK ETAP. Pengertian goodwill pun sama dengan PSAK, yaitu selisih antara harga yang dibayarkan oleh perusahaan pengakuisisi terhadap aset neto dari perusahaan yang diakuisisi. Namun bedanya pengguna SAK ETAP memiliki keterbatasan dalam nilai goodwill, dimana nilai goodwill harus diamortisasi (disusutkan bila dalam istilah aset tetap) sesuai masa manfaatnya. Masa manfaat ditentukan oleh manajemen, bila manajemen tidak mampu mengestimasi masa manfaat maka goodwill disusutkan selama 10 tahun.

  • Pengaturan Biaya Pinjaman dan Penurunan Nilai Aset

Mengenai biaya pinjaman, tidak diperbolehkan adanya kapitalisasi biaya pinjaman dari pengguna SAK ETAP. Hal ini berbeda dengan pengaturan dalam PSAK tepatnya dalam PSAK 26 dimana diperbolehkan entitas untuk mengkapitalisasi biaya pinjaman. Yang dimaksud biaya pinjaman adalah semua biaya yang terjadi akibat pinjaman dimana pinjaman digunakan untuk memperoleh aset tertentu. Sehingga bagi pengguna SAK ETAP semua biaya pinjaman yang timbul harus dibebankan pada periode berjalan.

Penurunan nilai aset memiliki sedikit perbedaan antara PSAK dan SAK ETAP khususnya di bagian aset lainnya, untuk penurunan nilai piutang dan persediaan sama dengan PSAK umum. Pada penurunan aset lain dalam PSAK nilai tercatat (book value) harus dibandingkan dengan nilai pakai (value in use) dan nilai terpulihkan (recoverable amount). Besar penurunan nilai adalah sebesar selisih book value dan mana yang lebih tinggi antara nilai pakai dan nilai terpulihkan. bila nilai pakai lebih tinggi dari nilai terpulihkan maka penurunan nilai sebesar nilai buku dikurangi nilai pakai, begitupun sebaliknya bila nilai terpulihkan lebih tinggi dari nilai pakai.

Namun dalam SAK ETAP tidak ada istilah nilai pakai dan nilai terpulihkan. Apabila ada indikasi penurunan nilai maka aset langsung diturunkan ke nilai tersebut, nilai yang dianggap sesuai dengan keadaan aset sekarang (yaitu yang sudah turun nilainya).

  • Sewa dan pembiayaan

Pengaturan dalam sewa dan leasing SAK ETAP lebih mudah dibandingkan PSAK umum, dimana dalam PSAK Umum memiliki penjabaran tentang bagaimana yang dianggap sewa operasi (operating lease) dan sewa pembiayaan (finance lease). Syarat-syarat agar sebuah sewa dapat diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan adalah:

  1. Apabila sewa sudah mencakup 75% dari masa manfaat aset
  2. Pembayaran sewa sudah mencapai 90% dari nilai wajar aset
  3. Aset hanya khusus digunakan oleh penyewa (lessee)
  4. Manfaat dan resiko asset secara substani sudah dipindahkan dari lessor (perusahaan yang memberikan sewa, atau perusahaan pembiayaan) ke lessee (penyewa)

Apabila satu saja terpenuhi maka sewa termasuk sewa pembiayaan. Pengaturan ini lebih rinci dan terkesan rule based dibandingkan pengaturan dalam PSAK 30 yang bersifat principle based. Dimana tidak ada disebutkan persentase masa sewa dan persentase pembayaran nilai wajar aset. Perbedaan PSAK dan SAK ETAP lainnya.

Demikian pembahasan mengenai Perbedaan PSAK dan SAK ETAP dalam sisi Pengakuan dan Pengukuran. Semoga dapat membantu Anda dalam menelaah standard akuntansi yang akan Anda pakai setelah paham mengenai Perbedaan PSAK dan SAK ETAP ini.