Sebenarnya apakah perbedaan jurnal koreksi dan jurnal penyesuaian? Dalam menjurnal akuntansi seringkali kita melakukan kesalahan dan/atau ketidaksesuaian terhadap standar yang berlaku. Dalam istilah akuntansi hal ini dikatakan sebagai pembetulan (koreksi), di lain sisi juga terdapat istilah mengenai penyesuaian. Sebenarnya, apakah perbedaan pembetulan dan penyesuaian ini? Apakah terdapat perbedaan mendasar diantaranya keduanya? Bukankah secara bahasa sama saja?

Sesuatu yang dikoreksi (dibetulkan) dilakukan tentunya agar menjadi sesuai bukan? Tetapi ternyata argumen ini bener-bener salah karena koreksi disebabkan oleh adanya kesalahan dimasa lalu. Namun penyesuaian terjadi karena kondisi kini yang sudah tidak sesuai lagi. Bisa jadi transaksi masa lalu tersebut benar namun kini sudah tidak sesuai maka perlu disesuakian. Jadi, secara logika dasar dari penyesuaian dan koreksi adalah:

  • Koreksi timbul karena adanya sebuah kesalahan
  • Penyesuaian timbul karena tidak relevan lagi informasi yang ada di laporan keuangan.

KOREKSI: PAHAM BETUL AKUNTANSI

  • Koreksi pada akun yang sama (salah jumlah)

Sekarang kita akan membahas mengenai bagian koreksi. Selama ini jika kita melakukan kesalahan dalam perhitungan, apa yang kita lakukan? Menghapusnya? atau Print ulang? atau mungkin hal lainnya. Tetapi sebenarnya, apakah dalam akuntansi hal ini biasa dilakukan?

Kebanyakan sudah menggunakan sistem yang tentunya ketika sudah di input akan langsung keluar balance atau tidak balance dalam laporannya. Terlebih lagi jika sudah menggunakan software akuntansi yang cepat dalam pelaporannya. Biasanya dalam software akuntansi sistem akan langsung menolak ketika jumlah yang dientry tidak balance.

Nah, koreksi yang dimaksudkan disini adalah koreksi karena “salah jumlah” atau dalam bahasa audit sering dibilang sebagai “tidak akurat”. Misalnya, jumlah seharusnya 990.000 ketika dijurnal menjadi 909.000, tentunya entry seperti ini akan langsung ditolak:

WIP – Biaya gaji pegawai pabrik 990.000

                                 Utang Gaji Pegawai Pabrik 909.000

Tetapi, jika Anda mengentry jurnalnya seperti dibawah ini, maka tidak akan ditolak, (walaupun terdapat kesalahan seharusnya 990.000 tetapi ditulis 909.000):

WIP – Biaya Gaji pegawai pabrik 909.000

                                 Utang Gaji Pegawai Pabrik 909.000

Oleh karena itu, bagaimana cara mengoreksinya? Tidak mungkin dihapus bukan? Sebelum tau bagaimana mengoreksinya, akan lebih baik jika Anda paham akibat dari salah entry ini, yaitu:

  1. COGS menjadi terlalu kecil, sehingga laba terlalu besar.
  2. Persediaan undervalued (bila ada yang belum terjual
  3. Net Working capital bisa lebih rendah, atau current ratio lebih rendah

Maka koreksi yang dilakukan adalah mengentry selisihnya saja, karena ini dilakukan atas akun yang sama, bukan akun yang berbeda (akan ada contohnya di artikel ini)

Selisih dari kesalahan tersebut adalah sebesar 990.000 – 909.000 = 81.000 (ini berarti understate/kurang saji, maka harus ditambah 81.000 agar benar). Maka jurnal yang dibuat adalah:

WIP – Biaya gaji pegawai pabrik 81.000

                                 Utang Gaji Pegawai Pabrik 81.000

Jurnal ini akan menambah saldo ‘utang gaji pegawai pabrik‘ dan ‘WIP – gaji pegawai pabrik’ dari sebelumnya 909.000 ditambah 81.000 menjadi 990.000 sesuai dengan yang sebenarnya.

Nah seandainya malah overstate bagaimana? Misalkan perusahaan menerima barang dagangan dari supplier (transaksi pembelian) dengan rincian sebagai berikut;

                                 Barang 1: 100 Unit @ 23.000 = 2.300.000

                                 Barang 2: 120 Unit @ 25.000 = 3.000.000

                                 Barang 3: 105 Unit @ 27.500 = 2.887.500

                                 Total biaya: 8.187.500

Namun akuntan malah mencatat dengan rincian sebagai berikut:

                                 Barang 1: 100 Unit @ 23.000 = 2.300.000

                                 Barang 2: 120 Unit @ 25.000 = 3.000.000

                                 Barang 3: 150 Unit @ 27.500 = 4.125.000

                                 Total Biaya: 9.425.000

Jurnal yang dientry adalah sebagai berikut:

Persediaan barang dagangan 9.425.000

                                 Utang Dagang 9.425.000

Nah bagaimana koreksi dapat dilakukan oleh sang akuntan? Biasanya pada perusahaan akan terdapat kode barang tersendiri. Misal barang 1 kodenya A01 baru dientry, akuntan tidak bisa menjurnal untuk barang 1 kalau tidak memasukkan kode A01 sehingga perusahaan tidak akan bisa menjurnal langsung seperti dibawah ini:

Utang Dagang 1.237.500

                                 Persediaan barang dagangan 1.237.500

Namun harus menjurnal kode barang nya dahulu, misalkan untuk barang 3 yang salah input kodenya A03, maka A03 dijurnal ke kredit dan hutang dagang didebit.

Misalnya, akuntan harus mengakses sistem akuntansi perusahaan dan menjurnal sebagai berikut:

Hutang dagang 1.237.500

                                 Persediaan Barang Dagangan-A03 1.237.500

  • Koreksi Pada Akun Yang Berbeda (Reklasifikasi)

Tidak selamanya kesalahan yang terjadi sama seperti diatas, kesalahan bisa saja terjadi pada kelas akun yang berbeda. Sebagai contoh seorang akuntan menerima nota tagihan gaji sebesar Rp 5.000.000, namun akuntan tidak meneliti lebih jauh mengenai tagihan gaji untuk apa, maka:

  1. Apabila akun gaji untuk gaji pegawai pabrik maka di kapitalisasi ke Work in process (barang dalam proses)
  2. Bila akun gaji untuk pegawai kantor maka dibebankan pada periode berjalan
  3. Bila akun gaji untuk pengerjaan aset tetap maka dikapitalisasi ke aset dalam konstruksi

Kebetulan gaji ini sebenarnya adalah gaji untuk pengerjaan bangunan namun dicatat ke beban gaji pegawai kantor, namun akuntan salah mencatat maka muncul kejadian sebagai berikut:

Beban Gaji – Pegawai Kantor 5.000.000

                                 Kas 5.000.000

Jurnal diatas mengindikasikan bahwa Beban gaji naik sebesar 5.000.000 dan beban gaji ini akan masuk ke akun laba rugi periode berjalan. Karena ini salah, maka seharusnya dijurnal menjadi

Bangunan – dalam konstruksi 5.000.000

                                 Kas 5.000.000

Pada kasus ini terjadi “kesalahan klasifikasi” sebagai beban gaji dibanding bangunan – dalam konstruksi, maka apakah perusahaan perlu menjurnal balik seperti kesalahan overstate/understate? Ataukah perusahaan perlu menjurnal dibalik dulu (kas di debet, lalu beban gaji pegawai kantor dikredit sebesar 5 juta) lalu dilanjutkan dengan menjurnal yang benar? Hal ini bisa saja dilakukan, namun tidak praktis, Anda dapat langsung menjurnal seperti ini:

Bangunan dalam kosntruksi 5.000.000

                                 Beban Gaji – Pegawai kantor 5.000.000

Karena akun kas jumlahnya sudah benar tidak perlu dikoreksi lagi. Jurnal ini me-reclass dari ‘beban gaji – pegawai kantor’ menjadi ‘bangunan dalam konstruksi’. Akun kas tidak usah dibuah lagi karena jumlah akun kas sudah benar yaitu 5.000.000.

  • Bagaimana Membuat Jurnal Koreksi Dengan Komputer / Aplikasi Akuntansi?

Di era sekarang, hampir semua pengerjaan akuntansi dikerjakan oleh software. Pengerjaan yang dibahas diatas tadi adalah asumsi bila dikerjakan secara manual atau software akuntansi bisa diakses secara langsung tanpa otorisasi.

Masalahnya kebanyakan software akuntansi tidak bisa disesuaikan secara subjektif oleh setiap akuntan. Terdapat beberapa akun yang memang hanya bisa dijurnal secara debit misalkan beban, tidak mungkin beban di posisikan di kredit bukan? Beban seharusnya bertambah bukan berkurang. Namun, terdapat juga akun yang dapat diposisikan di debit maupun kredit, misalnya persediaan, kas, dan aset tetap.

Selain itu, terdapat jurnal yang hanya bisa dijurnal dengan akun tertentu, tidak bisa diganti dengan akun yang lain. Misalkan seperti contoh diatas, persediaan barang A03 memang bisa dikredit namun hanya bisa disandingkan dengan kas/piutang. Padahal dalam contoh sebelumnya, jurnal barang A03 disandingkan dengan hutang dagang. Sistem akuntansi akan menolak jurnal pengurangan persediaan dengan hutang dagang. Sebenarnya, sistem menilai ini transaksi seperti apa?

jurnal koreksi, jurnal penyesuaian

Sistem ini ada sebagai internal control perusahaan agar akuntan tidak main-main dalam melakukan entry dan tidak bisa memanipulasi laporan keuangan semaunya. Sistem ini juga mendorong agar akuntan lebih berhati-hati dalam menganalisa transaksi. Sehingga untuk melakukan koreksi diatas akuntan harus bisa membuka ‘lock’ atau kunci dari sistem ini yang berada mungkin ditangan chief financial officer atau atasan lainnya.

JURNAL PENYESUAIAN: KARENA INFORMASI SUDAH TIDAK RELEVAN LAGI

Selain dari jurnal koreksi, terdapat hal lain lagi, yaitu jurnal penyesuaian. Apa yang dimaksud dengan informasi yang sudah tidak relevan lagi? Simak pembahasan berikut:

Akuntansi menganut basis akrual dan going concern, sehingga ini mendorong adanya jurnal penyesuaian. Mungkin langsung saja kecontoh akun-akun yang biasanya sering disesuaikan yaitu:

  1. Beban dibayar dimuka
  2. Deposit di supplier
  3. Pendapatan dibayar dimuka
  4. Penyusutan dan amortisasi aset
  5. Beban-beban akrual
  • Beban Dibayar Dimuka

Transaksi beban dibayar dimuka harus disesuaikan karena perusahaan membayar suatu beban secara lumpsum untuk lebih dari satu periode, seperti biaya sewa gedung dan asuransi. Misalkan perusahaan menyewa sebuah gedung senilai 250 juta untuk 5 tahun, dari 2010-2015. Maka setiap tahun beban sewa perusahaan hanyalah 50 juta (250 Juta untuk 5 tahun) namun semuanya harus dibayar secara langsung pada tahun 2010 sebanyak 250 juta. Jurnal yang dibuat pada tahun 2010 adalah:

Sewa Dibayar Dimuka – Gedung 250.000.000

                                 Kas 250.000.000

Pada 31 desember 2010, apakah saldo sewa gedung ini masih sama? Gedung sudah dipakai selama 1 tahun? sehingga pada 31 desember 2010, perusahaan seharusnya melakukan penyesuaian karena saldo itu sudah tidak sesuai lagi dengan menjurnal.

Beban Sewa Dibayar dimuka 50.000.000

                                 Sewa dibayar dimuka – gedung 50.000.000

Jurnal ini mereklas (re-class) akun beban sewa dibayar dimuka menjadi beban, karena sekarang kita sudah menikmati manfaat ekonomis dari sewa dibayar dimuka sehingga kita harus mengakui sebagai beban dan ditutup ke laba rugi.

Pada 31 desember 2010, akun sewa dibayar dimuka memiliki saldo sebesar 200.000.000 tidak lagi sebanyak 250.000.000. Jurnal seperti ini harus terus dilakukan hingga tahun 2015 dan akun sewa dibayar dimuka saldonya 0.

  • Deposit kepada supplier

Deposit kepada supplier memiliki karakteristik yang sama dengan sewa dibayar dimuka, sebagai contoh perusahaan memberikan deposit sebesar 100 juta kepada supplier untuk pembelian 20 unit barang dengan harga perunit sebanyak Rp 5.000.000 (100 Juta /20 unit = 5 juta) pada 1 juli 2015. Perusahaan mengkapitalisasi biaya ini menjadi aset dengan membuat jurnal

Deposit Supplier 100.000.000

                                 Kas 100.000.000

Pada 4 agustus 2015, barang dagangan sampai ke perusahaan sebanyak 5 unit, maka akuntan mencatat dengan jurnal.

Persediaan barang dagangan 25.000.000

                                 Deposit Supplier 25.000.000

Jurnal ini untuk menyesuaikan deposit di supplier sudah turun sebanyak 25.000.000 dan perusahaan memiliki saldo barang dagangan tambahan sebanyak 25.000.000 dari supplier. Per 4 agustus 2015 maka saldo deposit pada supplier tinggal 75.000.000.

  • Pendapatan dibayar dimuka

Nah pendapatan dibayar dimuka adalah kebalikan dari deposito supplier. Dalam deposito ke supplier kita berada di pihak perusahaan (pembeli) namun bila kita berada di pihak supplier maka kita mencatat pendapatan dibayar dimuka. Untuk transaksi yang sama 20 unit barang @ 5 juta, maka perusahaan supplier (atau sekarang kita) mencatat:

Kas 100.000.000

                                 Pendapatan diterima dimuka 100.000.000

Kenapa pendapatan diterima dimuka berada pada posisi kredit? Apakah hal ini dicatat sebagai hutang ataukah pendapatan? Jawabannya adalah pendapatan diterima dimuka dicatat sebagai HUTANG karena perusahaan belum memiliki hak atas 100.000.000 tersebut. Kenapa belum memiliki hak? Bukannya perusahaan sudah menerima uang nya? Namun resiko belum berpindah dari penjual (kita) ke perusahaan pembeli. Seandainya perusahaan mendeliver barangnya, maka baru pendapatan dapat diakui. Jika, perusahaan mendeliver sebanyak 5 unit barang masing-masing barang memiliki nilai 5 juta, sama seperti diatas, maka jurnal yang dibuat akuntan adalah:

Pendapatan dibayar dimuka 25.000.000

                                 Penjualan 25.000.000

Penjualan baru bisa diakui ketika perusahaan sudah melakukan pengiriman barang dan resiko berpindah dari penjual (kita) ke pembeli.

Hal ini terus dilakukan hingga perusahaan mendelivery 20 unit barang yang dipesan oleh pembeli. Setelah penjual mendeliver barang sebanyak 5 unit, maka saldo pendapaan diterima dimuka senilai 75.000.000 karena 25.000.000 sudah di reklasifikasi sebagai pendapatan. Sebelumnya 100 juta adalah hutang (pendapatan diterima dimuka) sekarang 25 juta menjadi pendapatan, sementara 75 juta tetaplah masih menjadi hutang.

  • Penyusutan dan Amortisasi Aset

Apa beda dari amortisasi dan penyusutan aset? Bedanya adalah penyusutan dilakukan atas Aset Tetap berwujud sementara Amortisasi dilakukan terhadap Aset Tetap Tidak Berwujud. Amortisasi dan penyusutan dilakukan karena NILAI ASET SUDAH TIDAK SESUAI DENGAN HARGA PEROLEHANNYA dan perusahaan SUDAH MENDAPAT MANFAAT DARI ASET dengan menggunakannya. Maka daripada itu, akuntansi mensyaratkan sebuah aset memiliki MASA MANFAAT yaitu masa dimana aset bisa digunakan oleh perusahaan untuk beroperasi dan menghasilkan laba.

Misalkan sebuah mobil perusahaan dapat memiliki estimasi masa manfaat yang berbeda-beda, bisa 4 tahun bisa 5 tahun atau bahkan 6 tahun. Perbedaan ini yang membuat besarnya penyusutan aset bisa besar/kecil, misalkan sebuah mobil yang dibeli dengan harga 300 juta, bila disusutkan selama 5 tahun dengan metode garis lurus maka besaran penyusutan adalah 60 Juta/tahun, bila masa manfaat diestimasi 6 tahun maka besaran penyusutan 50 juta/tahun, bila disusutkan selama 4 tahun maka penyusutan besarnya 75 juta. Masa manfaat harus bisa menggambarkan karakteristik aset secara sebenarnya. Nanti AkuPedia akan bahas mengenai masa manfaat aset lebih mendalam.

Seandainya perusahaan menganggap masa manfaat mobil adalah 6 tahun maka perusahaan menjurnal:

Beban Penyusutan 50.000.000

                                 Akumulasi Penyusutan – mobil 50.000.000

Kenapa dicatat sebagai akumulasi penyusutan bukan langsung aset tetap – mobil? Akumulasi penyusutan adalah contra-account, yaitu berada di debet namun mengurangi nilai mobil. Maka nilai aset mobil di neraca setelah disusutkan adalah

                                 Mobil 300.000.000

                                 -beban penyusutan (50.000.000)

                                 Nilai Mobil Net 250.000.000

  • Beban-Beban Akrual

Perusahaan kadang memiliki beban-beban yang timbul karena kontraktual dan ditagih pada periode berikutnya, contoh gaji bulan januari dibayar kan tanggal 25 januari tapi pelaporan tanggal 31 januari. Maka apakah beban gaji hanyalah sebesar yang dibayarkan pada tanggal 25 januari, kan perusahaan juga mendapat manfaat dari pekerjaan pegawai yang dikerjakan dari tanggal 26 januari – 31 januari. Sebagai contoh perusahaan menggaji pegawai sejumlah Rp 6.000.000 untuk 100 pegawai, maka beban gaji pegawai yang dibayar pada 25 januari adalah:

Beban Gaji – pegawai kantor 600.000.000

                                 Kas 600.000.000

Sementara pada tanggal 31 januari 2015, perusahaan mencatat beban gaji sebesar 100.000.000 yaitu ( 5 hari /30 hari x 6.000.000 x 100 orang) dengan jurnal;

Beban Gaji 100.000.000

                                 Utang Gaji 100.000.000

Sehingga per 31 januari beban gaji untuk pegawai adalah sebesar 700.000.000

Contoh lain yang timbul secara kontraktual adalah beban bunga. Maksud secara kontraktual adalah beban timbul karena peristiwa masa lalu, dan harus dicatat walaupun belum ada kas yang dibayarkan. Misalkan perusahaan meminjam dana sebesar 100.000.000.000 (100 Miliar) dengan tingkat bunga 8% pertahun dibayarkan perbulan. Pinjaman dicairkan pada 1 agustus 2014, dan beban bunga bulan tersebut dibayarkan setiap tanggal 5 bulan berikutnya.

Sehingga beban bunga pertahun adalah (100 miliar x 8%) 8 Miliar, 666.670.000/bulan, pada 31 agustus perusahaan mencatat beban bunga sebagai berikut:

Beban Bunga 666.670.000

                                 Utang Bunga 666.670.000

Sehingga pada 31 agustus 2014, saldo beban bunga adalah 666.670.000 walaupun bebang bunga baru dibayar pada 5 september 2014 namun beban bunga sudah mengurangi laba pada periode agustus.

Saat tanggal 5 september, perusahaan mencatat dengan jurnal

Utang Bunga 666.670.000

                                 Kas 666.670.000

Jurnal ini dibuat atas pembayaran utang bunga karena membuat saldo utang bunga berkurang sebesar 666.670.000 dan kas berkurang 666.670.000

Seandainya dilanjutkan hingga akhir 2014, maka jurnal beban bunga yang sama dibuat pada agustus,september, oktober, november, desember (5 kali jurnal yang sama) dan 4 kali pembayaran utang bunga (September, oktober, november, desember), karena beban bunga desember dibayar pada januari.

Sehingga pada neraca 31 desember 2014, timbul saldo akun beban bunga sebesar Rp 3,333,350.ooo (5 kali beban bunga, agustus, september, oktober, november, desember) dan angka ini akan mengurangi laba rugi periode 2014 dan saldo akun utang bunga sebesar 666.670.000 (untuk beban bunga desember karena belum dibayar, baru dibayar januari).