Artikel akuntansipedia kali ini akan membahas mengenai bagaimana cara menghitung harga pokok penjualan yang benar bagi perusahaan. Sekian banyak perusahaan yang Anda kenali, biaya jenis operasinya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Jasa
  • Dagang
  • Manufaktur (Produksi)

Apa yang menjadi pembeda dari ketiganya? Bukankah biasanya perusahaan hanya dibagi berdasarkan sektornya saja? Contohnya seperti keuangan, property, retail, konsumer, pertambangan, dan lain-lain. Apa beda dari semuanya?

harga pokok penjualan, menghitung HPP, akuntansi bisnis

  • Struktur biaya perusahaan jasa

Terdapat perbedaan yang mendasar dalam menghitung profit diantara ketiganya yaitu biaya-biaya yang terkait langsung untuk memperoleh laba. Dalam perusahaan jasa, terdapat biaya-biaya untuk memperoleh jasa.

Sebagai contoh: PT Dingin Semriwing bergerak di bidang servis AC yang menerima jasa perbaikan dan perawatan AC. Pelanggan PT Dingin Semriwing ada yang berasal dari korporasi dan perorangan, ada yang menggunakan kontrak setahun dengan skema dibayar perkuartal atau sebagian di muka namun ada juga yang memesan on the spot atau tidak terjadwal. Kira-kira akun biaya apa saja yang akan muncul? Coba lihat beberapa akun biaya dibawah ini:

  1. Biaya gaji pegawai servis atau teknisi yang turun ke lapangan
  2. Biaya transportasi teknisi ke klien
  3. Biaya utilitas mesin servis (seperti perlengkapan untuk vacum dll)
  4. Biaya gaji pegawai kantor (administrasi)
  5. Biaya utilitas kantor (listrik telepon dan air)
  6. Biaya penyusutan mesin servis
  7. Biaya penyusutan bangunan kantor (bila memiliki gedung)
  8. Biaya sewa gedung (bila menyewa)
  9. Biaya bunga atau kupon obligasi (bila memiliki)

Adakah biaya-biaya tersebut yang terkait langsung dengan servis? Sebenarnya, hubungan antara gaji teknisi dengan omzet sangat kecil, mengapa demikian? Karena biasanya gaji teknisi dibayar dengan jumlah yang pasti (fix), tidak akan ada perubahan gaji walaupun orderannya sedikit atau banyak. Biasanya perusahaan baru akan memberikan bonus apabila sudah melebihi target operasi, kalau tidak maka akan tetap gajinya.

Begitupun biaya penyusutan mesin, bila diperkirakan umur mesin hanyalah 3 tahun dan harga mesin vakum (atau mesin servis) adalah 6 juta maka biaya penyusutan pertahun adalah Rp 2 juta (metode garis lurus), penyusutan ini besarannya sama pertahun, tidak bergantung pada berapa banyak orderannya, asalkan masih masuk dalam kapasitas mesin, jika sudah melebihi maka perusahaan harus membeli mesin yang baru.

Disisi lain biaya transportasi ke klien juga kecil dan tidak signifikan. Untuk melayani order dengan nilai Rp 1 juta diperlukan hanya biaya transportasi sebesar Rp 20 ribu. Contoh lain adalah ketika mendapat 2 klien yang berdekatan, perjalanan dari kantor ke klien A membutuhkan biaya transportasi Rp 50 ribu, lalu dari klien A menuju ke klien B, karena jaraknya lebih dekat, biaya trasnportnya hanya Rp 10 ribu. Apakah klien B lebih menguntungkan karena harga pokoknya adalah Rp 10 ribu? Tentu tidak, karena untuk ke klien B harus lewat klien A dulu.

Pada perusahaan jasa, biaya-biaya yang timbul lebih ke periodic cost, yaitu biaya-biaya yang sudah expire dan tidak bisa ditelusuri langsung kaitannya dengan penerimaan (generate sales).

  • Struktur biaya perusahaan Dagang

Lalu bagaimana perbedaan antara perusahaan jasa dan dagang? Perusahaan dagang akan menghasilkan revenue (sales) melalui penjualan barang dagang. Sebuah perusahaan dealer mobil membutuhkan mobilnya dulu agar dapat dijual ke konsumen. Bila harga mobil di produsen adalah Rp 350 Juta dan dealer menjual RP 400 juta, maka selisih Rp 50 Juta tersebut disebut sebagai laba kotor. Laba kotor kemudian akan digunakan untuk menutupi biaya-biaya yang tidak terkait dengan penjualan, seperti gaji pegawai administrasi, utilitas gedung, dan lain-lain.

Kenapa biaya RP 350 Juta dianggap sebagai harga pokok? Seandainya biaya tersebut tidak ada (tidak keluar) maka tidak akan ada penjualan bukan? Tidak ada mobil yang akan dijual, konsumen pun tidak dapat membeli apa-apa. Sehingga di perusahaan dagang, Anda akan menemui biaya-biaya seperti dibawah ini:

  1. Biaya gaji pegawai kantor (administrasi)
  2. Biaya utilitas kantor (listrik telepon dan air)
  3. Biaya penyusutan mesin servis
  4. Biaya penyusutan bangunan kantor (bila memiliki gedung)
  5. Biaya sewa gedung (bila menyewa)
  6. Biaya bunga atau kupon obligasi (bila memiliki)

Selain biaya tersebut, terdapat juga harga pokok penjualan, yaitu harga perolehan dari barang dagangan yang dijual untuk memperoleh pendapatan. Apa bedanya dengan biaya-biaya yang tidak terkait langsung dengan hal ini? Perbedaan terletak pada hubungan antara biaya utilitas dan harga pokok penjualan (HPP) terhadap penjualan. Bila 1 mobil terjual, maka sales yang muncul adalah sebesar Rp 400 juta dan HPP Rp 350 Juta sehingga laba kotor yang tercipta sebesar Rp 50 juta. Bila 2 mobil terjual maka sales sebesar Rp 800 juta, HPP sebesar Rp 700 Juta, dan Laba kotor menjadi RP 100 Juta. Begitu seterusnya, sehingga semakin banyak mobil terjual makin tinggi penjualan, makin besar HPP, dan makin besar laba kotor.

Hal ini tidak sama dengan biaya utilitas, semakin tinggi penjualan tidak selalu berujung pada kenaikan biaya utilitas, walaupun ada kemungkinan. Contohnya bila sales makin tinggi maka pegawai akan lembur untuk memproses pesanan, namun besarannya tidak bisa dipastikan. Lalu apakah dengan naiknya biaya utilitas maka berarti sales akan naik? Belum tentu, jangan-jangan ada hal yang tidak efisien dalam usaha. Karena seharusnya peningkatan HPP akan berdampak pada peningkatan sales.

  • Struktur Biaya Perusahaan Manufaktur

Bagaimana dengan perusahaan manufaktur? Apakah memiliki struktur yang sama dengan perusahaan dagang? Betul, secara umum memang strukturnya sama dengan perusahaan dagang. Perbedaannya adalah, perusahaan manufaktur membuat sendiri barang dagangannya, tidak membeli dari pihak lain seperti pada perusahaan dagang. Hal ini membuat, perusahaan manufaktur menentukan sendiri harga pokok penjualannya. Dalam tulisan ini kita akan membahas bagaimana perusahaan manufaktur menentukan HPP secara akuntansi. Namun, pembahasan ini bukan melalui sudut pandang akuntansi manajemen, karena nantinya bila melalui pendekatan ini, akan menghasilkan perbedaan pada sudut pandangan dan perhitungannya.

  • Perbedaan Perusahaan Manufaktur Dan Perusahaan Dagang

Pada perusahaan dagang, harga pokok penjualan diketahui dari supplier, dimana harga pokok penjualan adalah harga perolehan atas barang dagangan. Misalnya perusahaan mobil membeli mobil dari pabrik dengan harga Rp 350 juta, maka HPP mobil tersebut adalah RP 350 juta. Bila perusahaan real estate membeli rumah dengan biaya Rp 1,5 Miliar maka HPP rumah tersebut adalah Rp 1,5 Miliar. Bila perusahaan butik membeli baju satu kodi dengan modal Rp 75 ribu/lembar maka HPP baju adalah Rp 75ribu/lembar. Bila perusahaan mobil membeli 2 jenis mobil yang tidak sama, contohnya mobil sedan dengan harga Rp 500 juta dan mobil SUV dengan harga Rp 250 Juta. Maka HPP masing-masing mobil berbeda dan harus dicatat masing-masing ketika terjual (tidak boleh salah mencatat) atau dirata-ratakan.

Apa yang terjadi jika kita merupakan seorang kontraktor rumah ataupun pemilik pabrik mobil? Bagaimana cara kita menentukan harga sebuah rumah ataupun mobil? Bukankah kita harus membeli bahan-bahannya terlebih dahulu? Apakah jika semua bahan dijumlahkan biayanya akan sama dnegan harga mobil? Lalu bagaimana dengan tenaga kerjanya? Akan banyak pertanyaan yang muncul terkait hal ini. Oleh karena itu, akuntansipedia akan memberikan contoh perusahaan mobil untuk membuat Anda semakin paham akan hal ini.

  • Alur Perhitungan Harga Pokok Penjualan Perusahaan Manufaktur

  • Menghitung Bahan Baku Yang Digunakan.

Perusahaan memproduksi barang dengan bahan baku sebagai modal utamanya, karenanya untuk menghitung harga pokok penjualan pertama kali kita harus menentukan berapa bahan baku yang digunakan. Cara menentukannya adalah dengan melihat berapa banyak bahan baku yang tersisa di akhir periode setelah pada saldo awal periode ditambah dengan pembelian selama periode berlangsung.

  • Bahan baku (BB) terpakai=saldo BB awal+pembelian BB- saldo akhir BB

Misalnya terjadi beberapa hal ini di perusahaan:

  1. Memiliki 100 unit mesin mobil di awal periode, lalu selama periode membeli 200 mesin lagi, dan di akhir periode sisa mesin adalah 150. Maka mesin yang terpakai adalah 150 mesin (persediaan awal 100 mesin + selama periode membeli 200 mesin – 150 mesin akhir periode = 150 mesin terpakai). Harga mesin adalah Rp 150 juta perunit
  2. Sementara perusahaan memiliki 3 ton besi di awal periode, selama periode membeli 4 ton besi, dan diakhir periode tersisanya hanya 2 ton. Maka besi terpakai adalah sebanyak 5 ton (saldo awal 3 ton + Pembelian 4 ton – saldo akhir 2 ton = 5 ton pemakaian) harga besi adalah 15.000/ kilo atau 15 juta/ton
  3. Sementara ban dan velg awalnya perusahaan memiliki 1000 unit, selama periode berjalan perusahaan hanya membeli 200 ban, pada akhir periode hanya tersisa 500 ban saja. maka pemakaian ban pada periode tersebut adalah 700 ban (awal 1000 ban + pembelian 200 ban – saldo akhir 500 ban = 700 ban dipakai) harga masing-masing ban adalah Rp 300.000.

Bila kita anggap bahan baku untuk mobil adalah 3 item diatas, maka bahan baku terpakai untuk mobil adalah:

  1. 150 Mesin x Rp 150 juta = Rp 22.500.000.000 (22,5 Miliar)
  2. 5 ton besi x Rp 15 juta = Rp 75.000.000 (Rp 75 Juta)
  3. 700 ban x Rp 300 ribu = Rp 150.000.000 (Rp 150 Juta)

Sehingga total biaya bahan baku adalah Rp 22.725.000.000 (22,725 Miliar)

Perusahaan akan menjurnal seperti ini,

Barang dalam proses (Work in Process)     22.725.000.000

                   Engine – Raw Material                                              22.500.000.000

                   Iron Plate –  raw material                                         75.000.000

                   Tires – Raw Material                                                150.000.000

  • Menghitung Biaya Produksi Lainnya

Selain bahan baku, terdapat biaya lainnya untuk memproses bahan baku agar menjadi barang jadi yaitu:

  1. Tenaga kerja langsung (tenaga kerja pabrik yang biayanya bisa dihubugkan langsung dengan produk)
  2. Overhead (biaya bahan pembantu, dan sulit diidentifikasi langsung ke produk) seperti:
    1. Baut pada mobil
    2. Plastik untuk membantu mengecat
    3. Penyusutan mesin
    4. Biaya listrik
    5. Karet-karet untuk mesin
    6. Obeng dan peralatan lain yang tidak material

Kita anggap bahwa selama periode tersebut, perusahaan mengeluarkan biaya Rp 1 miliar untuk seluruh pegawai dan biaya overhead mencapai Rp 250 juta (tentu bisa dirincikan lagi, namun untuk simplenya kita anggap saja besarannya seperti ini).

Perusahaan menjurnal seperti ini:

Barang dalam proses (work in process) 1.250.000.000

                   Utang Gaji (atau kas bila dibayar dalam kas) 1.000.000.000

                   Utang utilitas 250.000.000

  • Menghitung Total Biaya Produksi

Dari jurnal yang dibuat, kita sekarang tahu bahwa bahan-bahan baku tadi sudah diproses dari sebelumnya bahan mentah menjadi barang dalam proses, serta biaya gaji dan utilitas masuk sebagai komponen dalam bahan dalam proses. Total biaya produksi yang timbul dalam periode ini adalah 23.975.000.000 (22.725.000.000 untuk bahan baku dan 1.250.000.000 untuk tenaga kerja langsung dan overhead).Biaya senilai 23,975 miliar ini kemudian diproses menjadi mobil-mobil yang akan dijual.

Apakah semua mobil selesai diproduksi atau hanya sebagian mobil yang selesai? Apakah yang menjadi penentu banyaknya mobil yang diproses dan banyaknya mobil yang akan keluar? Apakah itu mesin, besi, ban, ataukah tenaga kerja? Sebenarnya, yang paling cocok dijadikan patokan terhadap hal ini adalah mesin, karena 1 mobil pasti hanya butuh 1 unit mesin. Besi tidak dapat menjadi patokan, karena sulit untuk menghitung jumlah pasti dari besi yang digunakan, begitu juga dengan ban, karena terdapat kemungkinan untuk terjadinya kegagalan dalam pemasangan ban sewaktu proses perakitan mobil bukan?

Langsung buat laporan keuangan dalam 1 klik atau hitung biaya produksi otomatis? Klik disini

Kita anggap saja bahwa perusahaan tidak memiliki saldo barang dalam proses di awal periode. Maka saldo barang dalam proses sekarang adalah Rp 23.975.000.000 untuk 150 mobil. Sehingga biaya tiap satu mobil adalah Rp 159.833.333.333 (159,83 juta). Biaya inilah yang menjadi Harga pokok produksi permobil sementara harga pokok produksi seluruhnya adalah 23.975.000.000. Harga pokok produksi berbeda dengan harga pokok penjualan.

  1. Biaya yang dikeluarkan ketika barang sudah masuk proses produksi dan biaya yang keluar untuk produksi barang, masuk sebagai Harga Pokok Produksi (HPP).
  2. Harga Pokok Penjualan adalah harga pokok produksi yang sudah expire (terjual ke pihak ketiga) dan sudah dapat dirasakan manfaatnya.
  3. Bila barang belum terjual, maka biaya tadi masih dimasukkan dalam akun work in process (WIP) atau akun persediaan barang jadi.
  • Menghitung Harga Pokok Penjualan

Ketika sudah diketahui bahwa biaya pokok produksi adalah 159,83 juta per unit, maka kita akan mengecek berapa unit mobil yang sudah selesai. Ternyata dari 150 unit yang diproses (berpatokan pada mesin yang ditransfer ke dalam proses produksi) baru 100 unit yang selesai. Perusahaan menjurnal 100 unit mobil ini menjadi barang jadi, tidak lagi sebagai barang dalam proses. Jurnal yang dibuat adalah;

Barang Jadi (finished good) 1.598.333.333

                   Barang dalam proses (Work in process) 1.598.333.333

Untuk menandakan bahwa barang dalam proses berkurang sebanyak 1,59 miliar dan telah selesai menjadi barang jadi, sehingga saldo barang jadi naik dengan jumlah yang sama.

Perusahaan sebelumnya memiliki saldo barang jadi dengan nilai Rp 158 juta/unit, sebanyak 70 unit mobil. Biaya ini lebih murah dikarenakan naiknya harga bahan baku atau produksi terdahulu yang lebih efisien. Saldo ini bisa disebut sebagai saldo awal barang jadi.

Pada periode tersebut perusahaan memiliki 170 unit barang jadi. 100 unit bernilai 159.833.333/unit dan 70 unit lainnya dengan biaya 158 juta/unit. Perusahaan dapat menggunakan metode fifo/average untuk menghitung HPP nya.

Di akhir periode, diketahui bahwa saldo akhir mobil adalah 30 unit saja. Artinya sisanya sebanyak 140 unit sudah terjual. Berapakah HPP untuk 140 mobil tersebut?

Rumus dari HPP adalah: Persediaan awal + Produksi periode berjalan – saldo akhir periode

Bila menggunakan metode penilaian FIFO (first In first out) maka nilai yang dipakai adalah nilai barang terdahulu dulu, kita menghabiskan saldo barang yang lebih lama baru dilanjutkan dengan saldo barang yang lebih baru. Sehingga;

70 unit x Rp 158 Juta = 11.060.000.000

70 unit x Rp 159,83 juta = 11.188.310.000 (pembulatan)

Total HPP adalah= 22.483.310.000 (22,48 miliar)

Bila menggunakan metode average yaitu harga mesin dirata-ratakan sesuai dengan bobotnya (jumlah unitnya) maka:

100 unit x 159,83 juta = 15.983.333.333

70 unit x 158 juta = 11.060.000.000

Total biaya 170 unit adalah 27.043.333.333/170 unit = 159.078.000 (pembulatan) rata-rata perunit

Sehingga biaya HPP atas 140 unit adalah 140 x 159.078.000 = 22.270.920.000 (22,27 miliar)

  • Kesimpulan:

  1. Untuk menghitung biaya pokok penjualan kita harus melakukan penghitungan mulai dari pemakaian Bahan Baku (BB), rumus menghitung bahan baku terpakai adalah BB terpakai = saldo awal BB + pembelian BB periode berjalan – saldo akhir BB
  2. Setelah didapatkan jumlah bahan baku terpakai, maka kita menghitung berapa tenaga kerja langsung dan overhead yang ikut dalam proses produksi
  3. BB terpakai, tenaga kerja langsung, dan overhead adalah total biaya produksi yang kemudian akan menjadi harga pokok produksi per unit barang
  4. Harga pokok produksi dan harga pokok penjualan berbeda, harga pokok produksi akan menjadi harga pokok penjualan bila barang yang diproduksi sudah dijual. Cara menghitung harga pokok penjualan (HPP) adalah;

HPP = Saldo awal barang jadi (finished good/FG) + produksi selesai periode berjalan – saldo akhir FG

Special Case: kita menyederhakan perhitungan harga produksi barang jadi di dalam tulisan ini, pada kasus dan kenyataannya sedikit lebih kompleks untuk mendapatkan besaran angka 159,83 juta diatas. Cara untuk menghitung secara detil akan dibahas di tulisan selanjutnya.

Akuntansipedia berharap agar tulisan ini dapat membantu Anda untuk memahami lebih lanjut mengenai akuntansi dalam kehidupan pekerjaan ataupun pendidikan Anda sehari-hari. Jika memiliki saran untuk topik apa yang harus akuntansipedia bahas, jangan sungkan tinggalkan di kolom komen ya!