Sebagai wajib pajak, tentu Anda sering mendengar istilah “Orang Bijak Taat Pajak”. Itulah salah satu slogan perpajakan di Indonesia. Seperti yang anda ketahui bahwa pajak menjadi tumpuan utama pendapatan negara saat ini. Penerimaan pajak mencapai Rp. 1.235,8 triliun pada tahun 2015 (www.kemenkeu.go.id). Untuk itu perusahaan baik sekala besar sampai dengan UMKM dibidik oleh negara untuk dapat membayar pajak demi kepenting bersama sebagai warga negara yang baik.

Proses pemeriksaan pajak menjadi momok yang menyeramkan bagi sebagian besar perusahaan. Banyak dari mereka menunjukkan sikap yang kurang cerdas dalam menyikapi pemeriksaan ini. Mungkin bisa dipahami bahwa sumber kegelisahan mereka adalah ketakutan akan pelanggaran peraturan pajak yang tidak jarang mereka tidak tahu sama sekali teknisnya.

Hal ini sangat logis mengingat pengusaha tidak punya cukup banyak waktu untuk memahami aturan pajak yang seabrek banyaknya. Mereka lebih fokus pada kegiatan utama perusahaan yakni mendapatkan profit yang sebanyak-banyaknya.

pajak, lapor pajak, wajib pajak, pajak perusahaan, tax, tax amnesty, usaha, pengusaha, ppn, pph, uang,
Membayar Pajak Menjadi Bagian Penting dari Proses Usaha

Perusahaan bisa jadi menyewa seorang konsultan pajak. Akan tetapi kadang perusahaan enggan untuk berkonsultasi pada konsultan, hal ini dikarenakan fee yang dipatok konsultan pajak terkadang sangat tinggi. Ada juga yang menetapkan fee yang rendah, akan tetapi malah bukannya meringankan akan tetapi memberikan kepusingan tersendiri.

Beberapa hal yang dapat Anda lakukan sebagai wajib pajak yang cerdas

  1. Jangan Menghindar

Menghindar ketika petugas pajak datang merupakan hal umum yang dilakukan oleh sebagian besar wajib pajak. Menghindar bukan solusi untuk memecahkan masalah, sebaliknya menghindarakan membuat masalah tidak kunjung selesai. Alasan menghindar bukan langkah yang cerdas karena:  

  1. Pemeriksaan bukan atas nama individu, akan tetapi perusahaan (badan). Untuk itu betapa keraspun kita menghindar, petugas pajak akan tetap melakukan pemeriksaan dengan atau tanpa kehadiran kita sebagai bagian terpenting dalam proses pemeriksaan pajak ini.
  2. DJP melakukan pemeriksaan bukan tanpa dasar, tetapi karena sudah dianalisis sebelumnya untuk perlunya dilakukan pemeriksaan. Seberapa keraspun perusahaan menghindar, pemeriksaan akan tetap dilakukan. Justru semakin keras perusahaan menghindar, maka DJP bisa jadi akan semakin penasaran ada sesuatu yang disembunyikan oleh perusahaan yang akan dapat menambah potensi penerimaan negara.
  1. Bersikap Sewajarnya

Anggaplah pegawai pajak seperti rekan kerja ataupun customer yang harus dihormati dengan sikap yang sopan. Jangan bersikap dingin terhadap pemeriksa pajak. Ingat bahwa ada pemeriksa pajak yang memiliki arogansi dalam memeriksa, tapi berusahalah bersikap tenang dengan mereda emosi. Abaikan sikap-sikap antipati seperti bersikap dingin, tidak sopan, mengabaikan petugas dan lain sebagainya. Pandanglah pemeriksa pajak dengan porsi yang tepat, dengan tidak terlalu meninggikan dan tidak terlalu merendahkan.

Wajib pajak direkomendasikan jangan terlalu ramah (jadi bersikap sewajarnya). Alasannya adalah petugas profesional pasti tidak menginginkan sikap yang berlebihan dari wajib pajak. Hal ini menimbulkan rasa risih seolah-olah mereka akan mendapatkan perlakuan istimewa. Jika dipikir secara negatif, hal tersebut percuma saja karena petugas pajak tidak akan terpengaruh dengan sikap wajib pajak yang terlalu ramah.

pajak, lapor pajak, wajib pajak, pajak perusahaan, tax, tax amnesty, usaha, pengusaha, ppn, pph, uang, professional, normal, ramah
Bersikap Professional Terhadap Pegawai Pajak

pajak, lapor pajak, wajib pajak, pajak perusahaan

  1. Pahami Hak Perusahaan 

Perlu dipahami bahwa perusahaan tidak hanya mempunyai “kewajiban” akan tetapi juga mempunyai “hak”.  Adapun hak yang bisa dituntut sebagai wajib pajak adalah:

  • Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa

Hal ini penting bagi perusahaan untuk menghindari penipuan dengan modus sebagai pegawai pajak. Perusahaan bisa menghubungi Kantor Pelayanan Pajak di wilayah perusahaan untuk memverifikasi apakah benar orang yang datang ke perusahaan memang petugas resmi KPP tersebut.

  • Meminta tindasan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak

Setiap pemeriksaan selalu ada surat perintah dari Ditjen Pajak (DJP). Menggunakan kepala (kop) surat resmi, ada tandatangan supervisor, kepala pemeriksa, dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Setempat atau Dirjen Pajak Pusat jika perintah pemeriksaan datang dari pusat.

  • Menolak untuk diperiksa

Wajib pajak berhak untuk menolak apabila pemeriksa tidak dapat menunjukkan Tanda Pengenal Pemeriksa dan Surat Perintah Pemeriksaan.

  • Menanyakan latar belakang dan tujuan pemeriksaan

Tujuan pemeriksaan beserta dokumen dan data yang diminta biasanya sudah tercantum di dalam surat perintah pemeriksaan. Obyek pajak yang akan diperiksapun biasanya jga dicantumkan. Namun jika dipandang perlu, wajib pajak berhak meminta penjelasan tentang latar belakang, maksud dan tujuan pemeriksaan.

  • Meminta tanda bukti peminjaman

Saat pemeriksaan pajak biasanya pemeriksa meminta untuk menyerahkan dokumen dan data terkait pos yang akan diperiksa. Jangan lupa untuk meminta tanda terima penyerahan catatan-catatan, buku-buku, serta dokumen yang dipinjam oleh pemeriksa pajak.

  1. Memahami Kewajiban Perusahaan Sebagai Wajib Pajak

Pajak merupakan bagian terpenting dalam penerimaan negara. Jadi perusahaan harus sadar bahwa ia sebagai wajib pajak, salah satu penopang penerimaan negara.

  • Wajib pajak, wajib memperlihatkan dan atau meminjamkan – buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lainnya yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas WP atau objek yang terutang pajak. Lalu dokumen, catatan atau data apa yang biasanya dibutuhkan?. Contohnya: akta pendirian perusahaan, daftar pegawai, daftar gaji, invoice penjualan, sistem pengendalian intern dan lain sebagainya.
  • Wajib Pajak, wajib memberikan kesempatan kepada pemeriksa untuk memasuki tempat atau ruangan – yang dianggap perlu oleh pemeriksa dilakukan pemeriksaan. Dengan tidak membatasinya bagi pemeriksa untuk memasuki ruangan manapun, hal ini akan menghilangkan keraguan si pemeriksa akan adanya kecurigaan atas adanya bukti-bukti transaksi yang dihilangkan.
  • Wajib pajak, wajib memberi keterangan yang diperlukan – Jawab semua pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa. Jawab seperlunya dan jangan bertele-tele.
  1. Periksalah setiap hasil temuan audit yang ada

Biasanya sebelum Surat Ketetapan Pajak (SKP) diterbitkan, akan dikeluarkan terlebih dahulu Hasil Temuan Audit (HTA). HTA menunjukkan perbedaan antara apa yang dilaporkan dengan hasil temuan selama pemeriksaan, termasuk didalamnya koreksi yang dilakukan oleh pemeriksa. Auditor akan meminta tanda tangan persetujuan Wajib Pajak akan HTA tersebut. Wajib Pajak harus membaca dengan teliti HTA tersebut sebelum memberikan tanda tangan. Mintalah rincian berkenaan dengan hal-hal yang berbeda antara hasil pemeriksaan dengan Surat Pemberitahuan (SPT), termasuk hasil koreksinya. Jika perlu minta dijelaskan mengenai dasar pengenaan dan perhitungan-perhitungannya. Wajib pajak perhak untuk meminta itu.

Hal penting yang perlu diketahui, pemeriksa dalam menemukan angka-angka tersebut, selalu menggunakan asumsi-asumsi. Ini yang paling penting untuk ditanyakan.

Misalnya:

Perusahaan sesungguhnya melakukan ekspor barang (sehingga seharusnya tidak kena pajak penjualan), tetapi karena tidak ada ‘Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)’, lalu pemeriksa mengasumsikan itu sebagai penjualan dalam negeri, sehingga terhutang PPN. Padahal, perusahaan tidak memiliki PEB karena barang tersebut dikirimkan via kurir (DHL/FedEx/UPS/EMS/Dll), bukan karena penjualan dalam negeri!

Jika setelah diberikan perincian dan dijelaskan wajib pajak masih ragu untuk menyetujui atau menolak hasil pemeriksaan, terutama sekali jika tehutang pajaknya cukup tinggi, wajib pajak bisa meminta waktu beberapa hari untuk mempelajari hasil temuan audit tersebut. Hal itu sangat mungkin terjadi, karena hasil temuan audit biasanya hitung-hitungannya banyak.

Bila hasil temuan audit anda rasa sangat tinggi dan tidak masuk akal, sudah pasti berat bagi perusahaan untuk menanggungnya. Ada baiknya anda menghubungi seorang pengacara untuk memberikan pandangan mengenai aspek hukum yang mungkin akan timbul bila anda menolak hasil temuan audit tersebut.

6. Bijak dan Cerdas dalam Mengambil Keputusan

Kekhawatiran tentang pajak perlu disikapi dengan bijak dan cerdas. Jangan menghindari petugas pajak. Pemeriksaan pajak sudah seharusnya disikapi dengan serius. Buanglah emosi atau sikap temperamen yang tidak perlu. Jika terjadi temuan selama pemeriksaan, cobalah periksa baik-baik dan sikapi dengan rasional.  Coba perhitungkan kembali risiko yang akan timbul bila terjadi sengketa. Terutama sekali waktu dan pikiran yang akan tersita-sudah pasti konsentrasi mengelola perusahaan akan banyak terganggu. Dengan emosi stabil dan pikiran jernih saya percaya anda bisa mengambil keputusan yang terbaik bagi perusahaan.

Artikel ini bersumber dari jurnal akuntansi keuangan yang sudah ditelaah kembali dan disesuaikan. Jika Anda memiliki saran terhadap topik yang harus dibahas selanjutnya, silahkan tinggalkan komentar Anda ya.