Modal dan Kas merupakan bagian krusial dalam operasional perusahaan. Tanpa kas, perusahaan tidak dapat menjalankan aktivitasnya. Untuk memperoleh kas, banyak cara yang dilakukan oleh perusahaan yaitu dengan cara menambah utang maupun dengan menambah ekuitas. Perusahaan besar dan kecil memiliki caranya tersendiri untuk dapat menambah kasnya.

Berbeda dengan perusahaan skala kecil, perusahaan besar memiliki struktur permodalan yang lebih kompleks. Hal tersebut dikarenakan tingginya kebutuhan akan suntikan dana akibat tingginya nilai dan volume transaksi yang dilakukan. Jika perusahaan kecil hanya mengandalkan uang pribadi maupun utang sebagai sumber pendanaan utama, perusahaan besar memiliki opsi lain yakni dengan menerbitkan surat berharga berupa saham maupun obligasi.  

modal, permodalan, debt, hutang, bank, equity, ekuitas, manajemen kas, kas, cash management, akuntansi, usaha, pendanaan, pengembangan usaha, dana usaha, dana, uang, akutansi, pengelolaan keuangan, finance, finansial, kreditur, debitur
Modal Perusahaan Bisa Berasal dari Berbagai Macam Sumber

Masih ingatkah konsep utama posisi keuangan perusahaan?. Ya, konsep pada persamaan dasar akuntansi. A = L + OE (Asset = Liabilities + Owner’s Equity). Rumus tersebut menyuratkan bahwa aset perusahaan berasal dari dua pos utama yakni liabilities (utang) dan owner’s equity (ekuitas pemilik). Jadi, haruskah pemilik melakukan utang (menerbitkan obligasi) ataukah menambah struktur permodalan (menerbitkan saham)? Mana yang seharusnya perusahaan pilih?

Baca jugaMemahami Altman Z Score Sebagai Indikasi Bangkrutnya Perusahaan

Untuk memilih satu diantara kedua pilihan tersebut tidaklah mudah. Perlu mempertimbangkan asas biaya dan manfaat dari keputusan yang diambil. Jika pembiayaan dilakukan dengan menerbitkan obligasi (menambah utang), maka perusahaan harus membayar bunga kepada kreditur. Ketidaktepatan waktu ataupun ketidakmampuan perusahaan untuk membayar utang akan berujung panjang bisa sampai ke ranah hukum.

Jika pembaiayaan diputuskan dengan melakukan penerbitan saham, maka si “pembeli saham” (investor) akan turut andil dalam perusahaan. Hal ini akan menyebabkan manajemen jadi kurang leluasa untuk mengelola perusahaannya.

Contoh Kasus:

Melihat geliat kondisi perekonomian konsumen yang semakin membaik dan estimasi peningkatan permintaan barang pada beberapa bulan mendatang, produsen memutuskan untuk melakukan peningkatan produksi. Hal tersebut menjadikan perusahaan memutuskan untuk menambah sumber pendanaan dengan meminjam kepada Bank sebesar Rp. 5 miliar dalam jangka waktu pembayaran satu tahun dengan total bunga yang harus dibayar Rp.250 juta. Ini berarti perusahaan menggantungkan sumber modalnya hanya pada utang bank tersebut (satu sumber saja). Setelah beberapa waktu uang tersebut digunakan untuk kegiatan produksi,

  • Jika estimasi perusahaan benar, uang yang dihasilkan sebesar Rp.6 miliar, maka perusahaan mengembalikan uang sebesar Rp.5,25 miliar (pokok utang + bunga) kepada bank, dan Rp.750 juta dinikmati sendiri oleh perusahaan.
  • Jika estimasi perusahaan meleset, uang yang dihasilkan sebesar Rp.5,25 miliar, maka seluruh uang tersebut harus dibayarkan kepada bank (pokok utang + bunga).

Pada contoh kasus tersebut, jika perusahaan bisa memperoleh keuntungan di atas biaya pendanaan sebesar Rp.250 juta tersebut, maka selisihnya bisa dinikmati perusahaan seluruhnya.  Sebaliknya, jika perusahaan memperoleh keuntungan kurang dari Rp.250 juta, maka perusahaan  tidak akan mendapatkan keuntungan dari kegiatan intensifikasi produk perusahaan tersebut karena harus membayar pokok utang dan bunganya.

Baca juga : Bagaimana Cara Untuk Menilai Aset Tetap yang Anda Miliki Agar Dapat Dijual

Berdasarkan pertimbangan kasus tersebut, ide dasar penerapan ‘financial leverage’ muncul dengan sistem pendanaan bersifat tetap dan mekanisme pembayaran yang terbatas (opsional sesuai capaian perusahaan). Jika keuntungan yang diperoleh perusahaan ternyata tinggi, maka pelunasan pinjaman dan bunga dapat segera dilakukan. Sebaliknya, jika keuntungan perusahaan ternyata kecil, maka perusahaan bisa membayar utang akan tetapi tidak sepenuhnya, hanya sebesar jatuh tempo saja. Sisanya bisa dibayarkan pada periode berikutnya.

Ketika suatu perusahaan tidak bisa membayar pokok dan bunga jatuh tempo, maka perusahaan tersebut akan mengalami ‘FINANCIAL DISTRESS’ yakni keadaan dimana kewajiban legal terhadap kreditur terpaksa harus tetap dilakukan dibawah tekanan kewajiban. Model seperti ini tentu saja tidak diharapkan oleh manajemen perusahaan manapun.

Ketika perusahaan memilih mekanisme pendanaan ekuitas (menerbitkan saham), praktis tidak ada kewajiban legal yang memaksa. Perusahaan hanya perlu mendistribusikan dividen yang menjadi hak investor tersebut.

modal, permodalan, debt, equity, manajemen kas, kas, cash management

Untuk mengukur sejauh mana efektivitas utang yang digunakan untuk membiayai perusahaan bisa digunakan rasio utang terhadap ekuitas perusahaan yang sering disebut dengan DEBT RATIO.

Rumus  Debt Ratio = Debt : Equity (Utang dibagi Ekuitas).

Penghitungan tersebut menggunakan persentase. Hal tersebut untuk dapat menyiratkan bahwa semakin tinggi rasio utang maka semakin tinggi pula pembiayaan yang bisa dilakukan melalui utang tersebut.

Selain pengukuran tersebut, pengukuran lain dinyatakan dalam rasio utang terhadap aset (Debt to Asset Ratio). Debt-to-Assets Ratio = Debt : Total Asset (Utang dibagi Total Aset). Hal tersebut mengukur seberapa besar aset perusahaan yang dibiayai dengan utang.

Perusahaan akan lebih baik untuk fokus pada mekanisme permodalan jangka panjang. Hal tersebut agar perusahaan nantinya juga lebih fokus bagaimana cara memanfaatkan dana yang sudah didapatkannya secara lebih fleksibel karena mekanisme pengembalian dana yang tidak sebentar. Evaluasi struktur permodalan jangka panjang bisa diakukan dengan membandingkan bunga utang (interest bearing debt) perusahaan dengan ekuitas.

Rasio utang (debt ratio) dapat dinyatakan sebagai rasio utang bunga terhadap ekuitas (debt to equity ratio). Hal ini dikarenakan bunga utang junga merupakan komponen dari modal perusahaan.

Debt-to-equity Ratio = Interest-bearing Debt : Equity (Utang Bunga dibagi Ekuitas).

Utang terhadap asset dapat dinyatakan kembali sebagai proporsi bunga utang modal perusahaan:

Debt-to-capital Ratio = Interest-bearing Debt : Total Capital (Bunga Utang dibagi total modal).

Utang sebagai salah satu keputusan modal kerja perusahaan yang mempengaruhi kewajiban lancar harus dikeluarkan dari analisis ketika berfokus pada permodalan jangka panjang.  Komponen ekuitas dari semua rasio ini seringkali dinyatakan dalam nilai buku (carrying value).  Membandingkan modal utang dengan nilai pasar ekuitas seringkali bermanfaat ketika kita mengambil perspektif pasar struktur modal perusahaan.  Pada  formulasi di atas misalnya yaitu total modal perusahaan adalah jumlah utang bunga dan nilai pasar ekuitas.

Pertanyaan mendasar adalah, jika nilai pasar dari utang dan ekuitas yang paling berguna dalam pengambilan keputusan, apakah sebaiknya kita mengabaikan nilai buku?

Jawaban: Tidak, karena dalam pengambilan keputusan, nilai buku masih tetap relevan. Misalnya, perjanjian obligasi seringkali ditentukan dalam hal nilai buku ataupun rasio nilai buku. Contoh lain, pembagian dividen didasarkan pada ketersediaan nilai buku laba ditahan. Oleh karena itu, pengambil keputusan tetap harus mempertimbangkan nilai buku utang dan ekuitas walupun fokus utama pada nilai pasar modal.

Tentunya penetapan modal merupakan hal penting untuk berjalannya sebuah bisnis. Modal perusahaan harus dapat dikelola dengan baik agar terciptanya bisnis yang berjalan dengan efektif dan efisien. Salah satu cara terbaik untuk pengelolaan modal adalah dengan memantau pergerakan keuangan secara real-time dan juga pembukuan yang rapih. Bagaimana caranya?

Kini banyak perusahaan di Indonesia yang telah menyadari pentingnya pembukuan yang baik dan benar demi berlangsungnya bisnis yang sehat di perusahaan. Sudah banyak solusi yang ditawarkan untuk hal ini, mulai dari konsultan eksternal hingga sistem berbasis online. Sistem berbasis online ini tentunya menjadi salah satu keunggulan di era teknologi seperti sekarang. Mengapa demikian?

Karena kini Anda tidak perlu lagi untuk mendownload atau install di satu perangkat saja, tapi Anda sudah dapat mengaksesnya kapanpun dan dimanapun, bahkan dari handphone Anda. Salah satu nya adalah Sleekr Accounting. Sleekr menawarkan solusi akuntansi bagi UMKM yang mudah untuk dipahami dan dapat diakses kapanpun dan dimanapun. Ingin tahu lebih lanjut mengenai Sleekr? Cek disini.