Fraud merupakan sebuah tindakan yang sengaja dilakukan untuk menipu atau mengelabui pihak-pihak yang terlibat, yang pada akhirnya akan mengakibatkan adanya kerugian di beberapa pihak dan keuntungan bagi si pelaku fraud tersebut. ACFE (Association of Certified Fraud Examiner) dalam Report to the Nations on Occupational Fraud and Abuse melaporkan bahwa kasus fraud dan penyalahgunaan yang terjadi pada tahun 2016 mencapai angka  2.410 fraud ditempat kerja yang terjadi pada 114 negara di seluruh dunia. ACFE yang berbasis di Amerika Serikat merupakan asosiasi yang beranggotakan para penguji tindakan fraud.

Berikut adalah beberapa jenis fraud menurut ACFE:

1. Korupsi (Corruption)

  • Benturan kepentingan (skema pembelian, skema penjualan, dan lainnya)
  • Penyuapan (invoice kickback, bid rigging)
  • Pemberian ilegal (sering disebut gratifikasi)
  • Pemerasan
2. Penyalahgunaan Aset (Asset Misappropriation)

Penyalahgunaan aset bisa secara tunai maupun nontunai. Ada tiga bentuk penyalahgunaan aset, yaitu:

  • Larceny, yakni pencurian uang tunai atau deposit perusahaan.
  • Skimming, mengambil uang transaksi dan secara resmi melaporkan jumlah penerimaan yang lebih rendah.
  • Fraudulent disbursment, yakni pencurian melalui pengeluaran yang tidak sah karena melalui beberapa perantara seperti billing shemes, payroll schemes dan lain sebagainya.
3. Pernyataan Palsu (Fraudulent Statement)

Hal ini dilakukan dengan cara merekayasa laporan keuangan perusahaan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Berdasarkan 959 kasus fraud kerja yang diteliti ACFE, kerugian rata-rata mencapai $ 175.000. Berdasarkan grafik 1, lebih dari seperempat dari semua kasus ditahun 2008 kerugian setidaknya mencapai $1 juta. Distribusi kerugian dolar antara kasus dalam studi 2008 adalah sama dengan distribusi di laporan ACFE 2006; dalam kedua studi, lebih dari 60% skema menyebabkan organisasi korban kehilangan setidaknya $ 100.000.

  • Fraud di Usaha Kecil

  1. Usaha kecil sangat rentan terhadap fraud. Kerugian rata-rata yang diderita usaha kecil dengan karyawan kurang dari 100 orang mencapai $200.000. Jumlah ini lebih tinggi dari rata-rata kerigian dari kategori lain. Penelitian ACFE menyatakan bahwa sabotase pemeriksaan dan penagihan fraud adalah sebagian besar skema penipuan umum pada usaha kecil.
  2. Selain itu, dikarenakan memiliki pondasi fraud yang lebih sedikit dibandingkan perusahaan berskala besar, maka usaha kecil lebih rentan terkena fraudTerdapat empat kategori fraud yang sering menimpa perusahaan diseluruh dunia. Artikel ini memberikan gambaran bagaimana mereka memengaruhi perusahaan, dan apa yang dapat dilakukan oelh perusahaan untuk dapat membentengi diri supaya fraud tersebut dapat dicegah.
  3. Berdasarkan grafik 1, kerugian dibawah angka $ 1.000 sangat sedikit hanya 1,2%. Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 98,8% kerugian berada diatas $ 1.000. Tahun 2008 menunjukkan bahwa tidak ada perubahan signifikan penurunan distribusi kerugian. Bahkan angka kerugian dengan angka ≥ $ 1.000.000 meningkat dari sebelumnya pada tahun 2006 dengan jumlah 24,4%, pada tahun 2008 menjadi 25,3%.
  • Pencurian Data (Data Fraud)

Data sensitif seperti data terkait pelanggan kartu kredit sering disasar oleh pelaku data fraud. Sekitar satu juta merchant diseluruh negara mengalami pencurian data nasabah kartu kredit (sekitar 4% usaha kecil yang menjadi korban penipuan data).  Dari merchant mandiri yang menyimpan data secara elektronik (digital), hanya 46% yang telah mengambil langkah afirmatif untuk melindungi data, sisanya masih rentan terhadap pencurian data.

Langkah afirmatif perusahaan untuk melindungi data:

  1. 76% membatasi akses fisik ke data pemegang kartu
  2. 76% secara teratur memperbaharui perangkat lunak dengan antivirus
  3. 64% mengembangkan dan memelihara sistem dan aplikasi pengaman khusus
  4. 46% mengenkripsi transmisi data pemegang kartu saat melewati jaringan publik/terbuka
  5. 43% melacak dan memantau semua akses ke sumber daya jaringan dan data pemegang kartu secara terus menerus
  • Penggelapan (Embezzlement)

Perusahaan sering dijadikan lahan untuk dikuras pelaku penggelapan (biasanya pegawai) untuk memperkaya diri sendiri.  Lebih dari 80% kasus penggelapan terjadi pada bagian akuntansi, customer service, eksekutif/manajemen, operasional, pembelian dan penjualan.  31% kasus penggelapan menimpa usaha kecil. ACFE mengatakan bahwa usaha kecil merupakan target “empuk” dikarenakan mereka memiliki sistem pengendalian intern yang buruk dibandingkan perusahaan besar.

Setidaknya 5% dari total pendapatan tahunan perusahaan menjadi jumlah kerugian yang harus ditanggung untuk kasus tindak penggelapan. Rata-rata kerugian untuk usaha kecil karena kasus penggelapan setidaknya US$ 155.000. Rata-rata insiden fraud tersebut terdeteksi sekitar 18 bulan. Langkah afirmatif perusahaan untuk dapat membentengi diri dari tindakan fraud:

  1. 52%  Melakukan audit eksternal terhadap Laporan Keuangan
  2. 41%  Membuat dan menetapkan kode etik karyawan
  3. 33%  Melakukan manajemen sertifikasi atas Laporan Keuangan
  4. 31%  Melakukan penelaahan Manajemen keuangan dan karyawan
  5. 19%  Mengembangkan program dukungan karyawan
  6. 16%  Memberikan pelatihan mengenai fraud bagi manajemen/eksekutif
  7. 15%  Menyediakan tips anti-fraud secara online bagi karyawan
  8. 13%  Memberikan pelatihan anti-fraud bagi karyawan
  9.  11%  Melakukan audit internal secara mendadak
  10.  3%   Menyediakan hadiah bagi pelapor tindak penggelapan.

fraud, menghindari fraud

  • Penipuan Atas Jasa Perbankan Online (Online Banking)

Usaha kecil sering disasar oleh pelaku penipuan. 56% usaha kecil pernah dilaporkan mengalami penipuan perbankan dalam kurun waktu hanya 12 bulan. 61% dari mereka lebih dari satu kali menjadi korban, 75% usaha kecil dilaporkan mengalami penipuan online.

Dari usaha kecil mengalami penipuan perbankan online: 37%-nya menerima penggantian atas dana mereka yang hilang dan 31%-nya tidak menerima kompensasi atas dana yang tidak bisa dikembalikan.

Bank (untuk semua skala) rentan terhadap penipuan. Usaha kecil yang menggunakan jasa perbankan dari lembaga keuangan (bank) kecil sama berisikonya dengan mereka yang menggunakan jasa perbankan dari institusi keuangan besar.

Langkah afirmatif untuk membentengi diri dari penipuan perbankan online:

  1. 78% melakukan rekonsiliasi rekening bank pada setiap akhir bulan.
  2. 55% melakukan evaluasi dan persetujuan yang cermat atas seluruh transaksi kas     keluar
  3. 49% menempatkan lebih lebih dari satu orang untuk mengendalikan akun
  4. 26% menggunakan komputer khusus yang didedikasikan untuk online banking
  5. 16% mengembangkan pendidikan pencegahan fraud bagi karyawan
  • Penipuan/penggelapan Atas Cek

Penipuan dilakukan dengan cara mencuri dana rekening milik perusahaan oleh pelaku. Penipuan cek biasanya dialami perusahaan dengan tindakan penggelapan (oleh pegawai) maupun penipuan online banking. Sebuah penelitian tahun 2011 tentang tingkat kepercayaan publik terhadap jasa perbankan baru menunjukkan bahwa 75% dari mereka yang menjadi korban penipuan menyebutkan tentang penipuan online. Lebih dari sepertiga dari kasus-kasus ini adalah hasil dari penipuan atas cek (check fraud). 45% kasus penipuan yang menimpa bisnis besar dan kecil berupa penipuan atas cek. 30% dari kasus penipuan yang dilakukan di tempat kerja (terjadi pada usaha yang memiliki kurang dari 100 karyawan) — dengan salah satu kasus penipuan yang paling umum adalah penipuan atas cek.

Korban penipuan cek dari kalangan bisnis kecil belum ada jaminan penyelesaian dari pihak bank.  Seringkali tanggung jawab untuk membayar (dari bank) sering mentok pada pertanyaan: apakah korban (usaha) dapat membuktikan bahwa mereka mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat.

Langkah afirmatif untuk membentengi diri dari penipuan atas cek

Berikut langkah-langkah terbaik yang dapat dilakukan perusahaan untuk memastikan bahwa mereka benar-benar aman dari tindak kejahatan penipuan (fraud):

  1. Cek harus dipastikan memiliki fitur berkemanan tinggi. Disampiang dapat mencegah, jikapun tetap terjadi perusahaan dapat menunjukkan itu kepada pihak bank sebagai bukti bahwa perusahaan telah mengambil langkah-langkah pencegahan secara sungguh-sungguh
  2. Implementasi Sistim Pengendalian Intern (SPI) secara ketat diseluruh level operasional perusahaan. Contoh: pemisahan fungsi penerimaan dan pengeluaran kas
  3. Tiadakan cek kosong dari rekening bank yang tidak aktif
  4. Gunakan fitur yang dapat mencegah adanya kliring rekening atas cek yang tidak sah
  5. Baca dengan seksama kontrak perjanjian dengan pihak bank untuk memahami hak dan kewajiban jika suatu saat nanti perusahaan mengalami kerugiana akibat tindak penipuan dari pihak lain
  6. Periksa buku cek baru begitu diterima dari bank. Simpan buku cek yang belum dipakai di tempat yang sungguh-sungguh aman, dalam kondisi terkunci. Jika buku cek diterima dalam keadaan tersegel, jangan buka segel sampai cek dipakai
  7. Selalu jaga keamanan buku cek dan slip (formulir bank) yang tidak terpakai atau dibatalkan, stempel perusahaan dan stempel tandatangan (jika memakai), dengan menyimpannya di tempat yang terkunci—hanya bisa diakses oleh orang yang diberi wewenang

Hal-hal diatas adalah penjelasan dari akuntansipedia terhadap fraud dan bagaimana cara untuk mencegahnya. Jika Anda memiliki saran untuk topik lain, silahkan letakkan di kolom komentar ya!