Aset tetap (kadang orang menyebutnya aset tidak lancar) adalah aset jangka panjang perusahaan (digunakan lebih dari satu tahun) untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan. Dalam bahasa akuntansi populer dengan nama fixed assets.

Tahukah Anda apa saja yang termasuk Aset Tetap?

Yang termasuk aset tetap adalah bangunan, kendaraan, peralatan, tanah dan lain sebagainya.

Apakah perusahaan boleh menjual aset tetap yang dimilikinya?

Perusahaan boleh menjual aset tetap yang dimilikinya dengan memperhitungkan biaya penyusutan. Perlu saudara ketahui bahwa semua aset tetap (kecuali tanah) akan disusutkan setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan masa manfaat (fungsi) aset tetap tersebut pasti akan berkurang. Misalkan: Perusahaan membeli mobil baru seharga Rp. 300 juta. Setelah dipakai selama 10 tahun pasti mobil tersebut berkurang nilainya dikarenakan performa mesin mobil tersebut pada saat awal beli dan setelah pemakaian 10 tahun pasti akan berbeda (berkurang).

Baca juga: Kupas Tuntas Pajak Pertambahan Nilai atau PPN Membangun Sendiri

aset tetap, asset, fixed asset, akuntansi, perusahaan, aset, penurunan nilai, depresiasi, likuiditas
Menghitung Aset Usaha

Lalu bagaimana kalau perusahaan akan menjual aset yang dimilikinya? Bagaimana jika aset tetap yang sudah diklasifikasikan pada aset yang dimiliki untuk dijual ternyata dibatalkan oleh perusahaan?

Baca juga: Langkah – Langkah Utama Observasi Perencanaan Audit

PSAK 58 (revisi 2009) mengatakan bahwa:

Entitas harus mengukur aset tidak lancar (atau kelompok aset lepasan) yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual pada nilai yang lebih rendah antara jumlah tercatat dan nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual.

Contoh kasus:

PT ROBBA telah membeli properti berupa tanah dan gedung seharga Rp. 5 Miliar (sudah termasuk semua biaya yang berhubungan dengan pembelian properti tersebut).

Perusahaan berniat untuk menjual properti tersebut. Namun karena kondisi gedung kurang begitu menarik untuk dijual, maka diadakan renovasi untuk meningkatkan nilai jual properti tersebut. Sebelum proses renovasi selesai, perusahaan masih mengklasifikasikan properti tersebut sebagai aset tetap (belum diklasifikasikan pada aset tetap yang dimiliki untuk dijual).

Satu bulan setelah renovasi selesai dilakukan, tanggal 5 Mei 2012 terhitung properti tersebut siap untuk dijual. Biaya renovasi tersebut mencapai angka Rp. 750 juta. Untuk itu nilai buku yang tercatat menjadi Rp. 5,75 M (Rp. 5 M + Rp. 750 juta). Setelah dilakukan penilaian oleh appraisal independen diketahui bahwa nilai wajar properti setelah dilakukan renovasi mencapai Rp. 6 M. Rencana penjualan akan dilakukan melalui agen penjualan properti dengan kesepakatan komisi 2,5% bagi pihak agen pada saat terjadi transaksi.

Lalu, berapa nilai yang boleh diakui (dicatat) oleh perusahaan sebagai “aset tetap yang dimiliki untuk dijual?”.

Mengacu pada pernyataan PSAK 58 di atas, maka yang diakui adalah nilai yang lebih rendah, dalam kasus ini adalah ‘nilai buku’-nya dikurangi biaya untuk menjual. Sehingga nilai yang diakui dan dicatat ke dalam kelompok aktiva tetap dimiliki untuk dijual adalah:

= Nilai Buku – Biaya Untuk Menjual

= Rp 5,75 M – (2,5% x Rp. 6 M )

= Rp 5,75 M – Rp. 150 juta

= Rp. 5,6 M.

Bagaimana jika aset tetap tersebut tidak dijual, melainkan untuk didistribusikan?

Jika aset tersebut didistribusikan kepada pemilik, maka perusahaan harus mengukur aset tetap yang dimiliki dengan nilai yang lebih rendah antara jumlah tercatat dan nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk mendistribusikan. (Catatan: Biaya distribusi adalah biaya inkremental yang terkait secara langasung dengan distribusi tidak termasuk biaya keuangan dan beban pajak penghasilan).

Baca juga: Prosedur dan Jenis Surat Ketetapan Pajak (SKP) yang Wajib Anda Ketahui

Lalu bagaimana perlakuan aset tetap dari penggabungan usaha? Kompleks bukan? Akuntansipedia akan mengulasnya untuk Anda. Mari kita simak ulasan berikut!

PSAK 58, menyatakan bahwa, “Jika aset tetap diperoleh sebagai bagian dari penggabungan usaha, maka aset tersebut harus diukur pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual”.

Contoh implementasi:

PT ANNIE merupakan hasil penggabungan usaha dari PT AN dan PT NIE. Setelah dilakukan merger, ternyata ada mesin produksi milik PT NIE yang diperkirakan tidak akan beroperasi lagi. Hal tersebut membuat manajemen PT ANNIE untuk menjual mesin tersebut.  Nilai buku mesin (setelah dikurangi akumulasi penyusutan pada tanggal merger) diketahui sebesar Rp 200 juta. Setelah menemukan calon pembeli, diperkirakan biaya angkut sampai dengan tempat pembeli sekita Rp. 5 juta. Setelah dilakukan penilaian oleh appraiser independen, mesin tersebut memiliki nilai wajar Rp. 220 juta.

Bisakah Anda hitung berapa nilai yang diakui sebagai aset tetap yang dimiliki untuk dijual?

Jawab:

Nilai yang dapat diakui adalah nilai wajar dikurangi biaya penjualan. Maka, nilai aset tetap yang dimiliki untuk dijual adalah:

= Nilai Wajar – Biaya Penjualan

= Rp 220 juta – Rp 5 juta

= Rp 215 juta

aset tetap, asset, fixed asset, akuntansi, perusahaan, aset, penurunan nilai, depresiasi, likuiditas, penyusutan
Aset Usaha

Catatan:

Ketika penjualan diperkirakan akan terjadi lebih dari satu tahun, maka entitas harus mengukur biaya untuk menjual pada nilai kininya. Peningkatan nilai kini biaya untuk menjual sehubungan dengan berlalunya waktu harus disajikan sebagai biaya keuangan dalam laporan laba rugi komprehensif. Sesaat sebelum klasifikasi awal aset tetap sebagai dimiliki untuk dijual, jumlah tercatat aset (atau semua aset dan laibilitas dalam kelompok) harus diukur sesuai dengan standar yang ada. (PSAK 58).

Jika ada, kemungkinan adanya rugi penurunan nilai selama kurun waktu antara ‘pengklasifikasian ke kelompok yang dimiliki untuk dijual’ dengan ‘realisasi penjualan (tanggal transaksi penjualan)’,  perusahaan harus mengakui rugi penurunan nilai awal atau selanjutnya atas penurunan ke nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual atas aktiva tetap tersebut.

Bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya (pengingkatan nilai)? Perusahaan harus mengakui laba atas peningkatan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual suatu aset yang terjadi selanjutnya, tetapi tidak boleh melebihi akumulasi rugi penurunan nilai yang pernah diakui sebelumnya.

Baca juga: Jenis Risiko dan Cara Manajemen Risiko yang Baik Bagi Perusahaan

INGAT:

Untuk Aset Tetap yang dimiliki dengan tujuan untuk dijual  (selama menjadi bagian dari kelompok tersebut) tidak boleh disusutkan (diamortisasi). Munculnya beban lain beban lainnya dan bunga yang dapat distribusikan ke liabilitas dari kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual harus tetap diakui.

(PENTING: Apabila aset tetap adalah bagian dari unit penghasil kas, maka jumlah yang dapat dipulihkan atas aset tersebut adalah jumlah tercatat yang akan diakui setelah alokasi dari setiap kerugian penurunan nilai yang timbul pada unit penghasil kas sesuai dengan PSAK 48).

Jika perusahaan telah mengklasifikasikan aset tetap kedalam kelompok yang dimiliki untuk dijual, sementara rencana batal?

Pengklasifikasian harus dihentikan oleh perusahaan. Perusahaan harus mengukur mana yang lebih rendah antara jumlah aset tercatat sebelum diklasifikasikan dalam kategori dimiliki untuk dijual, disesuaikan dengan penyusutan, amortisasi atau penilaian kembali yang telah diakui jika aktiva tersebut tidak diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual. Selain itu juga jumlah yang dapat diperoleh kembali pada saat tanggal keputusan selanjutnya untuk tidak menjual.