Pada artikel kali ini, Akuntansipedia akan membahas mengenai Altman Z Score. Menurut Anda, bagaimana cara kita untuk membedakan, apakah perusahaan sedang dalam keadaan sehat atau kesulitan keuangan? Apakah kita dapat mengetahuinya hanya dari data laporan keuangan mentah ataukah harus diolah terlebih dahulu? Selain itu, untuk investor, bagian laporan keuangan manakah yang akan dilihat secara mendalam?

Altman Z Score, laporan keuangan

Ternyata, kita memang bisa melihat sekilas apakah perusahaan dalam keadaan sehat atau kesulitan keuangan dari laporan keuangannya saja. Tetapi, bukan hanya bagian laba ataupuna setnya saja, tetapi kita pun harus mengolah laporan keuangan perusahaan tersebut. Kita harus mengolah laporan keuangan tersebut menjadi rasio-rasio keuangan. Rasio yang mana yang harus diolah?

Seperti yang Anda sudah ketahui sebelumnya, dalam laporan keuangan, terdapat 5 bagian utama yaitu:

  1. Laporan Laba Rugi Komprehensif
  2. Laporan Posisi Keuangan
  3. Laporan Perubahan Ekuitas
  4. Laporan Arus Kas
  5. Catatan Atas Laporan Keuangan

Apakah sebelumnya Anda sudah familiar dengan sebuah rumus (formula) yang bernama Altman Z Score? Altman Z score merupakan rumus yang menjumlah nilai bobot tertentu dari beberapa rasio keuangan. Rumus dari Altman Z Score adalah sebagai berikut:

Z = (3.3 x EBIT/Sales) + (1.2 x Net Working Capital/Total Asset) +  (1.0 x Sales/Total Asset) + (0.6 x Market Value of Equity/Book Value of Debt) + (1.4 x Retained Earnings/Total Assets)

Nama Altman Z Score sendiri diambil dari nama penemunya yaitu Edward Altman dari New York University. Rumus ini berbeda untuk perusahaan manufaktur yang sudah listed di bursa dan private. Selain itu rumus ini pun tidak dapat digunakan untuk industri keuangan karena memiliki karakteristik balance sheet (Laporan Posisi Keuangan/Neraca) yang berbeda.

Nilai Z score adalah indikasi dari Financial Distress atau tekanan keuangan atas entitas tersebut. Seluruh perhitungan dalam rumus tersebut adalah formula untuk menghitung Z Score untuk perusahaan. Kenapa harus rasio-rasio tersebut, bukankah banyak rasio-rasio lain? Ternyata rasio tersebut adalah rasio pilihan khusus untuk menghitung kebangkrutan. Pada tulisan ini, akuntansipedia akan membahas lebih lanjut untuk tiap rasio yang ada pada perhitungan Z Score tersebut:

  1. EBIT/Total Asset

Eearning Before Interest and Taxes (EBIT) dikenal juga sebagai laba operasi, adalah indikasi seberapa besar perusahaan mampu menghasilkan Laba dalam kondisi normal. Interest dan Tax adalah faktor yang tidak dapat dikendalikan perusahaan. Apakah perusahaan dapat mengendalikan tingkat suku bunga dan tarif pajak? Tentu tidak.

Bila dilihat secara teliti, sebenarnya ini adalah rasio Return on Asset (ROA). ROA digunakan untuk melihat seberapa produktifkah aset perusahaan. Rasio ini mewakili Laporan Laba Rugi.

  1. Net Working Capital/Total Asset

Net working capital atau modal kerja, adalah selisih dari Aset Lancar dikurangi dengan Liabilitas Lancar.

Net Working Capital = Current Asset – Current Liabilities

Net Working Capital menggambarkan tingkat kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya dalam jangka waktu yang singkat. Seandainya Net Working Capital Perusahaan adalah Minus (negatif) artinya kewajiban lancar lebih besar dari aset lancar, maka akan besar kemungkinan perusahaan untuk bangkrut bila tidak diperbaiki.  Rasio ini mewakili Laporan Posisi Keuangan.

  1. Sales/Total Assets

Rasio ini adalah Aset Turnover atau perputaran aset, menggambarkan seberapa baik perusahaan menggunakan asetnya untuk menghasilkan penjualan.  Rasio ini menjembatani antara Laporan Laba Rugi dan Laporan Posisi Keuangan.

  1. Market Value of Equity/Book Value Of Debt 

Market Value of Equity atau market capitalization menggambarkan seberapa confident atau yakinnya market (pasar) terhadap perusahaan. Disisi lain juga menggambarkan seberapa besar nilai pasar perusahaan akan turun untuk menutupi kewajibannya. Seandainya perusahaan melepas seluruh ekuitasnya untuk memenuhi kewajiban keuangan, maka seberapa besar kepemilikan perusahaan akan turun? Rasio ini adalah unsur market dari sebuah perusahaan.

  1. Retained Earning/Total Asset 

Rasio ini adalah rasio pembiayaan (financing), menunjukkan seberapa banyak dari Aset yang dibiayai dengan modal sendiri (Retained Earning) dan bukan dari hutang. Semakin tinggi rasio ini maka semakin banyak aset yang dibiayai sendiri dan semakin bagus kondisi perusahaan karena tidak dibiayai oleh hutang.

  • Indeks kebangkrutan

Altman mengelompokkan nilai Z (Z score) menjadi 3 kelompok, yaitu

  • Nilai Z < 1,81 mengindikasikan besar kemungkinan perusahaan akan bangrkut
  • Nilai  Z antara 1,81 dan 2,99 (1,81< Z < 2,99) maka perusahaan berada di Zona Abu-Abu
  • Nilai Z > 2,99 maka kecil kemungkinan perusahaan untuk bangkrut

altman z score, z score, accounting

Pentingnya laporan keuangan sebagai kebutuhan utama penghitungan Z Score perusahaan

  • Bagaimanakah Efektivitas Altman Z-Score?

Altman Z-Score sebenarnya adalah penyempurnaan dari penelitian Beaver, yang menggunakan model yang sama namun hanya spesifik untuk satu perusahaan. Dengan modifikasi seperti diatas maka Altman Z Score dapat berlaku secara berkelanjutan bagi semua perusahaan.

Altman menguji sedikitnya 66 perusahaan manufaktur dengan nilai aset iatas US$1 Juta  dalam periode 1968-2000 dengan model tersebut, hasilnya adalah formula tersebut memiliki akurasi 80% bahkan sampai 90% dengan potensi error 10-15%.

Sejak saat itu, formula altman semakin populer. Tidak hanya dikalangan banker, namun juga auditor, akademisi, bahkan pengadilan Amerika Serikat untuk menilai perusahaan yang mengajukan kebangkrutan.

Hindari kebangkrutan perusahaan dengan pantau performa keuangan realtime dan dengan mudah, klik disini.

Rumus diatas memiliki 2 asumsi mendasar yaitu:

  1. Untuk perusahaan yang terdaftar di bursa
  2. Untuk perusahaan manufaktur

Bagaimana untuk perusahaan yang tidak listing dan bukan bergerak di bidang manufaktur? Bagaimanakah cara untuk mendapatkan Z Score nya? Berikut adalah formulanya:

Z = (6.56 x Net Working Capital/Total Assets) + (3.26 x Retained Earnings/Total Assets) + (1.05 x EBIT/Total Assets) + (6.72 x book Value of Equity/Total Liabilities)

Beberapa penyesuaian dibanding rumus untuk manufaktur listed adalah

  1. Menghilangkan Sales/Total Asset atau Aset Turnover, karena di perusahaan jasa antara sales dan turnover tidak memiliki hubungan langsung yang erat. Berbeda dengan manufaktur dimana aset bisa saja terdiri dari mesin dan peralatan yang digunakan untuk memproduksi barang. Di dalam perusahaan jasa atau trading, aset hanyalah fasilitas penunjang saja.
  2. Market Value of Equity menjadi Book value of Equity, hal ini wajar karena tidak ada harga pasar yang bisa menggambarkan harga ekuitas perusahaan tertutup.
  3. Bobot (nilai koefisien) yang berbeda dari setiap rasio.

Karena adanya perbedaan rasio pada formulanya, maka rentang kebangkrutan nya pun berbeda yaitu:

  • Nilai Z < 1,23 menandakan bahwa perusahaan diambang bangkrut
  • Nilai Z di antara 1,23 dan 2,90 (1,23<Z<2,90) artinya perusahaan berada di zona abu-abu
  • Nilai Z lebih dari 2,90 menandakan bahwa perusahaan tidak bangkrut

Pembahasan tadi adalah pembahasan mengenai Altman Z Score, akuntansipedia berharap Anda dapat memahami mengenai perhitungan Altman Z Score dan manfaatnya bagi perusahaan/bisnis Anda. Akuntansipedia akan terus menambahkan artikel akuntansi kami, jika Anda memiliki saran mengenai topik selanjutnya, silahkan tinggalkan komen!