Apakah Anda familiar dengan istilah akuntansi persediaan? Bagi yang bekerja di bagian gudang tentunya sudah akrab dengan istilah persediaan, atau dalam istilah akuntansi disebut sebagai inventory. Dalam bisnis, penting untuk menghitung persediaan, kami mencatat setidaknya ada 2 tujuan menghitung persediaan, yaitu:

  1. Menghitung berapa jumlah barang yang terjual, untuk kemudian disandingkan dengan penjualan, sehingga didapatlah berapa laba kotor untuk periode tersebut.
  2. Untuk menyajikan saldo persediaan di Laporan Posisi Keuangan (neraca balance sheet). Saldo persediaan ini sangat penting karena biasa digunakan dalam perhitungan
  • Acid Ratio [(Kas+Piutang+Persediaan) / Short Term Debt]
  • Quick Ratio [Current Asset / Current Liabilities]
  • Net Working Capital [Current Asset – Current Liabilities]
  • Sales Turnover (perputaran penjualan0 [Sales/Average Inventory]
  • Days In Inventory [365/Sales Turnover]

Akuntansi Persediaan

Sekarang, Anda sudah mendapat gambaran mengenai pentingnya perhitungan persediaan. Berikut adalah penghitungan untuk mendapatkan Harga Pokok Penjualan (HPP) atau dalam istilah Akuntansi dikenal dengan Cost Of Good Sold (COGS)

                                Saldo Persediaan Awal
                                     + Pembelian
                                 Persediaan Tersedia untuk Dijual
                                     (– Saldo Persediaan Akhir)

                               Harga Pokok Penjualan (COGS)

Terlepas dari apapun metode pencatatannya baik Perpetual atau pun periodik, kita harus bisa mencatatkan jumlah yang benar dari persediaan. Akibat dari kesalahan pencatatan dalam persediaan diantanya sebagai berikut:

-. Pencatatan saldo persediaan akhir terlalu besar (Overstated) akan menyebabkan COGS terlalu kecil (Understated) dan laba terlalu besar (Overstated)
-. Sementara rasio keuangan: Acid Ratio dan Quick Ratio terlalu besar, namun sales turnover terlalu kecil. Bila mencatat saldo persediaan akhir terlalu kecil akan berakibat sebaliknya.

Jurnal Yang Umum Dalam Akuntansi Persediaan Bahan Baku

Kami sudah merangkum beberapa transaksi yang biasanya terjadi dan terkait dengan persediaan (inventory) yaitu:

  1. Penerimaan Bahan Baku
  2. Bahan Baku Diproses dalam proses produksi
  3. Penyesuaian terhadap bahan baku yaitu kehilangan atau kerusakan
  • Penerimaan Bahan Baku

Ketika bahan baku diterima, maka secara langsung SALDO PERSEDIAAN akan naik dan disisi lain ada pengurangan aset (bila dibayar dengan kas) atau Kenaikan Hutang (bila dibayar nanti). Maka pada hari ketika barang diterima, jurnal yang dibuat adalah

Persediaan – Bahan baku xxxx

                Kas/Utang Dagang xxxx

Sebagai tambahan, Anda bisa melakukan cross-check atas barang yang diterima dengan Delivery Order (DO) nya (apakah jumlah barang di DO sama dengan julah fisiknya) dan dengan Purchase Order dari bagian Gudang (apakah benar barang ini yang diminta oleh gudang dan dibutuhkan untuk produksi).

  • Bahan Baku Diproses Dalam Proses Produksi

Ketika bahan baku diproses kedalam proses produksi, maka secara fisik bahan baku telah mengalami perubahan dan sifat, maka jumlah bahan baku secara fisik turun. Namun karena bahan baku berubah bentuk dan sifatnya menjadi bahan dalam proses, maka bahan dalam proses saldonya naik. Jurnal yang dibuat adalah:

Persediaan – Barang Dalam Proses xxxx

                Persediaan – Bahan Baku xxxx

Dalam Akuntansi, barang yang sedang diproses dikenal dengan istilah Work In Process (WIP). Jurnal ini menyebabkan Persediaan Bahan Baku turun dan Persediaan WIP naik. Secara keseluruhan sisi Aset tidak ada perubahan.

  • Penyesuaian pada Bahan Baku.

Seringkali barang-barang bahan baku digudang mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak di prediksi dan tidak diinginkan perusahaan, seperti kehilangan dan kerusakan. Apa yang harus dilakukan perusahaan jika terjadi hal-hal seperti itu?

Ketika kehilangan atau kecurian terjadi, maka catatan buku dan catatan fisik berbeda karena kecurian pasti tidak tercatat dalam sistem. Maka jurnal yang harus dilakukan adalah:

Harga Pokok Penjualan xxxx

                Persediaan – bahan baku xxxx

Kenapa kita meletakkan akun COGS/Harga pokok Penjualan di debit? Hal ini karena beban kerugian pencurian itu harus dibebankan pada periode berjalan dan dimasukkan dalam COGS, karena biaya ini terkait dengan barang yang terkait dengan proses produksi. Kita akan mengkreditkan akun persediaan jika jumlah persediaan akan turun sebanyak yang dicuri.

Bagaimana kecurian dapat diprediksi? Maka cara yang paling mudah adalah melihat perbedaan antara catatan dibuku dengan pemeriksaan fisik di gudang. Lalu, sekarang bagaimana dengan kerusakan. Jurnal yang dibuat akan sama yaitu:

Harga Pokok Penjualan xxxx

                Persediaan – bahan baku xxxx

Permasalahan dari metode pembebanan langsung seperti ini adalah pembebanan bersifat insidentil dan tidak terkontrol. Perusahaan kurang menyenangi hal ini karena bisa berakibat pada fluktuasi laba.

Untuk menanggulangi hal itu kita dapat menciptakan pencadangan atas persediaan bila sewaktu-waktu terjadi kehilangan, maka akan mengurangi pencadangan terlebih dahulu. Pencadangan pertama kali akan menaikkan COGS sehingga menaikkan beban. Pencadangan dilakukan dengan menjurnal:

Harga Pokok Penjualan xxxx

                Cadangan Bahan Baku xxxx

Bila terjadi kehilangan / kecurian maka jurnal yang di input adalah:

Cadangan Bahan Baku xxxx

                Persediaan – bahan baku xxxx

Mungkin Anda masih bingung, dimana posisi dari cadangan bahan baku? Bila dikredit maka akan masuk dalam hutang? Cadangan bahan baku ini bersifat contra account, yaitu posisinya berada di debit namun mengurangi jumlah persediaan. Sebagai contoh:

Persediaan                                 1000
Cadangan bahan baku             100
Persediaan bersih                     900

Lalu terjadi kecurian sebesar 10, dengan jurnal diatas maka persediaan akan turun dan pencadangan akan turun, namun persediaan bersih besarnya tetap. Sehingga saldonya:

Persediaan                                 990
Cadangan Bahan Baku            90
Persediaan Bersih                    900

Pencadangan akan membuat nilai persediaan bersih terkendali dibandingkan dengan tidak ada pencadangan, namun pembuatan pencadangan pertama kali akan menaikkan harga pokok penjualan (COGS) sehingga menurunkan profit.

akuntansi persediaan, inventory management, manajemen persediaan

Pelaporan akuntansi persediaan di perusahaan

Jurnal yang umum dalam persediaan barang jadi

Beberapa jurnal atas transaksi yang biasa terjadi pada akun barang jadi (finished goods) yang sudah kami  rangkum adalah:

  • Penerimaan Barang Jadi

Pada pembahasan sebelumnya bahan baku dimasukkan dalam proses produksi, sehingga dalam jurnalnya akan tertulis, persediaan barang dalam proses (debit) dan persediaan bahan baku (kredit). Setelah mengalami proses produksi, maka barang dalam proses tersebut akan selesai dan siap dijual, maka jurnal yang dibuat adalah:

Persediaan – barang jadi xxxx
                Persediaan – dalam proses xxxx

Jurnal ini menurunkan persediaan dalam proses dan menaikkan saldo persediaan barang. Hal ini karena dengan selesainya proses produksi maka barang tersebut sudah tidak lagi dikategorikan sebagai barang dalam proses, namun menjadi barang siap jual (barang jadi).

Namun bila barang jadi diperoleh dari supplier atau pihak luar, seperti perusahaan dagang yang kegiatan utamanya jual beli barang. Maka atas transaksi tersebut dijurnal sebagai berikut:

Persediaan – barang jadi xxxx

                Utang dagang / kas xxxx

Bila pembelian dengan kas, maka mengkredit kas, namun bila dibayar nanti maka mengkredit utang dagang.

  • Pengiriman barang jadi

Terdapat 2 transaksi atas pengiriman barang jadi yaitu;

  • Penjualan
  • Pengiriman ke cabang/kantor pusat

Bila barang terjual, maka kita akan mengakui penjualan dan mendebet kas/piutang tergantung bagaimana pembayaran akan dilakuka customer. Jurnal bila terjadi penjualan adalah:

Kas/Piutang xxxx

                Penjualan xxxx

Harga Pokok Penjualan xxxx

                Persediaan – barang jadi xxxx

Seandainya penjualan adalah barang kena pajak maka kita akan mengakui hutang PPN keluaran atas PPN yang dipungut dari pembeli. Maka jurnalnya adalah:

Kas/Piutang xxxx

                Penjualan xxxx

                Hutang PPN xxxx

Harga Pokok Penjualan xxxx

                Persediaan – barang jadi xxxx

Bila pengiriman barang jadi dilakukan ke cabang/kantor pusat, maka jurnal yang dibuat adalah:

Persediaan – Cabang [penerima] xxxxx

                Persediaan – Cabang [pengirim] xxxx

  • Penyesuaian Pada Persediaan Barang Jadi

Sama seperti bahan baku, barang jadi juga memiliki resiko kecurian atau kehilangan. Konsepnya sama seperti pada bahan baku, ketika terjadi kecurian atau kehilangan maka dapat dideteksi melalui penelusuran selisih antara nilai di buku/sistem dengan nilai di gudang/fisik. Apabila nilai fisik kurang dari nilai di sistem maka besar kemungkinan sudah terjadi kecurian. Risiko kecurian/kehilangan  pada barang jadi lebih tinggi daripada bahan baku karena nilainya yang lebih tinggi dan lebih menarik untuk dicuri daripada bahan baku.

Sementara risiko lain yang mungkin dialami oleh barang jadi adalah kerusakan atau keusangan. Kerusakan dapat menyebabkan barang tidak dapat dijual atau dijual dengan diskon. Keusangan tidak selalu berarti barang sudah lama berada di gudang sehingga berdebu. Dalam konteks akuntansi usang berarti out of date, apabila barang sudah ketinggalan zaman maka kemungkinan barang sulit dijual dan harga pasarannya pun akan menurun. Sehingga perusahaan perlu mencadangkan atau membiayakan keusangan.

Jurnal yang dibuat apabila menggunakan metode langsung adalah sama dengan bahan baku yaitu;

Harga Pokok Penjualan xxxx

                Persediaan – barang jadi xxxx

Atau dapat pula dengan membuat pencadangan seperti pada bahan baku

Harga Pokok Penjualan xxxx

                Cadangan – Barang Jadi xxxx

Bila kecurian, kehilangan, kerusakan ataupun keusangan terjadi maka jurnal yang dibuat apabila perusahaan membuat pencadangan adalah:

Cadangan – Barang Jadi xxxx

                Persediaan – Barang Jadi xxxx

akuntansi persediaan, inventory management, manajemen persediaan

Penyesuaian terhadap manajemen akuntansi persediaan di Perusahaan

  • Penyesuaian Atas Perhitungan Fisik Persediaan

Dalam Akuntansi, terdapat dua metode yang lazim digunakan untuk mencatat persediaan, yaitu:

  • Sistem Periodik – artinya pengecekan arus barang keluar / terjual nilainya hanya dicatat sekali saja, di akhir periode. Maka dari itu disebut metode periodik.
  • Sistem Perpetual – kebalikan dari sistem periodik maka sistem perpetual mencatat nilai arus barang keluar setiap terjadi penjualan.

Arus barang keluar yang dimaksud nanti akan mempengaruhi harga pokok penjualan. Bila menggunakan metode periodik, maka harga pokok penjualan baru akan diketahui di akhir periode. Sementara pada sistem perpetual harga pokok penjualan akan diketahui sepanjang periode.

Menggunakan metode perpetual bukan berarti Anda tidak perlu mengecek fisik. Pengecekan fisik perlu dilakukan untuk mengetahui kecocokan antara nilai dalam sistem/buku dan gudang.

  • Sistem Periodik

Dalam sistem periodik yang perlu dilakukan oleh perusahaan adalah pengecekan fisik persediaan akhir di akhir periode. Nilai dari persediaan akhir ini nanti akan menjadi saldo awal dari persediaan untuk periode selanjutnya. Nilai persediaan ini pula akan mempengaruhi harga pokok penjualan (HPP/COGS). Seperti yang sudah dijelaskan di awal cara menghitung COGS adalah:

                                Saldo Persediaan Awal
                                     + Pembelian
                                 Persediaan Tersedia untuk Dijual
                                     (– Saldo Persediaan Akhir)

                               Harga Pokok Penjualan (COGS)

Setelah HPP/COGS Jurnal yang dibuat adalah

Harga Pokok Penjualan xxxx

                Persediaan -barang jadi xxxx

  • Sistem Perpetual

Dalam sistem perpetual, pemeriksaan fisik tetap diperlukan untuk memastikan apakah nilai di buku sudah sama dengan nilai fisik yang ada. Apabila terdapat perbedaan maka perlu dilihat beberapa pertimbangan ini:

  • Apabila jumlah fisik lebih besar dari jumlah di buku, apakah ada barang tersebut yang sudha dibeli oleh konsumen namun belum dikirim.
  • Apabila jumlah fisik lebih rendah dari jumlah di buku, maka lihat catatan apakah ada pengiriman yang belum tercatat. Bila semua pengiriman sudah tercatat maka kemungkinan terjadi kehilangan/kecurian barang.

Bila jumlah dibuku memang lebih besar dari jumlah fisik, maka nilai di buku overstated (terlalu besar) maka penyesuaiannya adalah:

Harga Pokok Penjualan xxxx

                Persediaan xxxx

Sebaliknya, apabila nilai dibuku terlalu kecil, maka jurnal yang dibuat adalah

Persediaan xxxx

                Harga Pokok Penjualan xxxx

Selesai untuk pembahasan mengenai akuntansi persediaan. Akuntansipedia akan terus memberikan Anda ilmu akuntansi yang terus kami lengkapi dari waktu ke waktu. Tinggalkan saran Anda di kolom komen untuk topik selanjutnya!