Bagaimana sebenarnya cara penghitungan aset tetap bagi konstruksi perusahaan? Mungkin kebanyakan dari kita pernah menjurnal (entry) transaksi atas barang yang sudah complete (selesai) fisiknya. Sebagai contoh membeli barang dagangan dalam bentuk sudah jadi dan siap dijual, atau pun membeli peralatan dalam bentuk sudah jadi, misalnya membeli mesin jahit langsung dari penjual dan dapat langsung digunakan atau contoh lainnya adalah membeli mobil baik secara kas maupun kredit.

aset tetap, fixed asset

Lalu bagaimana seandainya perusahaan memiliki sebuah transaksi untuk membeli mesin, rumah, atau aset tetap lainnya, dimana mesin tersebut dibangun dan diselesaikan di pabrik kita.

Sebagai gambaran, misalnya proses pengerjaan sebuah bangunan untuk gedung kantor memakan waktu 2 tahun yaitu dari 1 Juli 2012 –  30 Juni 2014 atau perakitan mesin memakan waktu 6 bulan, dari 1 September 2015-28 Februaru 2016. Bagaimanakah bentuk pengakuannya, jika:

  • Selama periode pembangunan/perakitan mesin, perusahaan membayar sejumlah uang kepada pihak ketiga
  • Atau selama periode pembangunan bangunan atau aset, perusahaan mengeluarkan biaya sendiri

Apa bedanya dari kedua transaksi diatas? Resiko pada transaksi pertama LEBIH MINIM karena nilai yang keluar dapat diukur secara ANDAL. Sebaliknya pada transaksi yang kedua, akan banyak transaksi-transaksi yang tidak tercatat dan kesalahan pencatat lebih besar dibanding skema yang pertama.

 

Apakah Akuntan Hanya ‘Tukang Catat’?

Coba Anda pikirkan, apakah Anda, sebagai akuntan, hanya bekerja sebagai tukang catat? Jika iya, maka Anda salah besar, karena akuntan bukanlah menjadi tukang catat. Namun, akuntan harus dapat berfungsi sebagai controller. Coba bandingkan keadaan berikut:

  1. Perusahaan telah menandatangani kontrak pembelian bangunan, namun bangunan tersebut terlalu besar sehingga menimbulkan ketidakefisienan dan ketidakefektifan. Bangunan yang terlalu besar memerlukan biaya perawatan yang tidak murah, satpam pun tidak cukup hanya dua. Bayangkan misalnya biaya yang dikeluarkan untuk peralatan yang dibutuhkan untuk melengkapi gedung, biaya kebersihan, dan biaya lainnya, tentu akan menjadi sangat tinggi dan akan mengurangi laba bersih perusahaan.
  2. Disisi lain, akibat harga gedung yang dibeli terlalu mewah, maka beban penyusutan gedung terlalu tinggi, hal ini akan berlangsung selama periode bangunan tersebut digunakan perusahaan. Selain itu, penyesuaian fiskal juga besar mengikuti semakin besarnya biaya gedung. Misalkan perusahaan seharusnya membeli gedung seharga 800 juta saja dengan ukuran bangunan 500m2, namun perusahaan ternyata membeli gedung dengan ukuran 1.000m2 seharga 2 miliar. Menurut perusahaan masa manfaat gedung adalah 10 tahun sehingga penyusutan pertahun Rp 200.000.000 sementara menurut pajak bangunan ini adalah bangunan permanen dengan masa manfaat 2o tahun, sehingga biaya penyusutan hanyalah Rp 100.000.000. Kalau perusahaan membeli gedung yang harganya Rp 800 Juta, maka penyusutan menurut akuntansi adalah Rp 80 Juta, sementara menurut pajak adalah Rp 40 juta. Terdapat banyak perbedaan bukan? Dan hal ini akan berlangsung selama 20 tahun.

Selain keputusan-keputusan yang berbau strategi bisnis seperti diatas, hal lain yang perlu akuntan ketahui adalah dampak dari transaksi ini kepada shareholder dan stakeholderNah disini akuntan perlu menganalisa Genuine (keaslian) dari transaksi. Apakah arti genuine? Genuine artinya adalah keaslian nilai bukuapakah yang tercatat dibuku benar ada secara substansinya? Apakah bangunan dan mesin yang dibeli itu sudah ada di dalam pabrik kita/area lahan kita? Apakah kita sudah menguasai aset secara substansi? Ataukan semua hal ini hanya hal fiktif? Apa motif perusahaan melakukan hal ini, mencatat transaksi palsu? Mungkin saja manajemen berpikiran seperti ini. Daripada menyimpan Kas akan lebih baik untuk ‘mencatatnya’ (dalam transaksi palsu) sebagai bangunan/tanah kan harganya bisa naik terus. Bukankah ini melanggar hak-hak pemegang saham? Hal ini tentunya akan berdampak pada kesalahan pengambilan keputusan bagi pemegang saham.

Selain Genuine, hal lain yang perlu diperhatikan oleh akuntan adalah accuracy. Accuracy adalah pengalian, penjumlahan, dan operasi matematika lain yang tepat jumlahnya. Sehingga Akuntan harus menganalisa dan menghitung ulang semua transaksi yang masuk ke perusahaan dan kalau bisa menghitung ulang angka-angka tersebut.

Akuntan juga harus kritis, misalnya tagihan angsuran pembangunan dari pihak ketiga berkisar 40 Juta-50 Juta sebulan, namun pada bulan itu jumlah tagihan hanya Rp 10 Juta. Apa alasan yang mendasari? Bila hanya meminta 10 Juta bisa-bisa pekerja yang dikerjakan sedikit dan waktu penyelesaian akan tertunda. Andaikan perusahaan membangun sendiri, biasanya ada tagihan bahan dari toko bahan bangunan.

Akuntan juga harus jeli melihatnya, apakah barang-barang yang dibeli memang perlu atau tidak. Jangan-jangan perusahaan supplier mencoba mendorong penjualan ke perusahaan karena mendekati tutup buku. Seolah-olah Toko Bangunan menjual barang ke konsumen dalam kredit. Begitupun dengan gaji pekerja bangunan, akuntan harus paham apakah pekerja dibayar dengan tingkat penyelesaian, per proyek dengan termin tertentu, atau fix rate dengan bayaran harian/bulanan/mingguan. Sehingga akuntan akan tahu seandainya ada permintaan gaji pegawai yang tidak wajar.

Selain Genuine dan accuracy, perusahaan juga harus mengecek completeness, yaitu apakah benar semua transaksi dan kejadian yang berkaitan dengan keuangan sudah dicatat dilaporan keuangan. Complete adalah kebalikan dari Genuine, bila Genuine mengecek apakah yang dicatat betul-betul ada (dari buku ke bukti) maka Complete mengecek apakah yang ada sudah catat dengan benar (dari bukti/transaksi ke buku). Sebagai contoh, apabila pegawai bangunan sudah bekerja namun dia belum melakukan billing padahal itu mendekati tutup buku, maka akuntan harus mencatatnya dengan inisiasi, bila tidak maka akan terjadi understatement asset dan hutang pada saat tutup buku.

Nah selain strategi bisnis seperti efisiensi dan efektifitas, maka akuntan harus memikirkan masalah GAC, yaitu:

  1. GENUINE
  2. ACCURACY
  3. COMPLETENESS

akuntan, akuntansi, PSAK, aset tetap

Aset tetap bagi perusahaan menurut PSAK 16

Aset Tetap, Dalam PSAK 16 (Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan)

Setelah membahas banyak mengenai peran akuntan sebelumnya, sekarang kita akan membahas lebih lanjut mengenai aset tetap dalam PSAK 16 berjudul ASET TETAP, kita akan mengetahui bagaimana pengakuan Aset Tetap ini dan apa-apa saja yang diakui sebagai Aset Tetap dan Sebagai Properti Investasi.

Bila kasusnya sebuah Gedung (bangunan)/tanah, bisnis biasanya memiliki dua perlakuan:

  1. Gedung/tanah dipakai sendiri dicatat sebagai ASET TETAP
  2. Gedung/tanah disimpan untuk investasi atau disewakan ke pihak ketiga PROPERTI INVESTASI

Lalu, Apa bedanya? Akuntansi mensyaratkan pencatatan yang berbeda antara dua aset tersebut walaupun sama-sama satu objek, ketika pemanfaatannya berbeda maka klasifikasinya berbeda. Misalkan perusahaan memiliki 2 bangunan:

  • Gedung A, dipakai sendiri maka dicatat sebagai ASET TETAP dalam balance sheet
  • Gedung B, Disewakan ke pihak ketiga maka dicatat sebagai PROPERTI INVESTASI
  • Tanah di dekat gedung A, digunakan sebagai lahan parkir dan loading barang maka dicatat dalam akun kelompok ASET TETAP
  • Tanah di Daerah Bogor, memang dibeli perusahaan untuk tujuan spekulasi, maka perusahaan mencatat tanah tersebut sebagai PROPERTI INVESTASI

Contoh-contoh ini tidak hanya transaksi kelompok bangunan dan tanah, bisa saja pada persediaan sebagai contoh perusahaan berdagang mobil, memiliki 2 kelompok mobil:

  • Mobil untuk operasional perusahaan maka dicatat sebagai ASET TETAP
  • Mobil untuk dijual, maka perusahaan mencatat sebagai PERSEDIAAN

Masing-masing aset yang berbentuk tidak kaku dalam pencatatan semua di dalam akuntansi memerlukan ANALISA dan JUDGEMENT.

Apa Pengertian Aset Tetap Menurut PSAK 16? Menurut PSAK 16 pengertian Aset Tetap adalah Aset Berwujud yang digunakan dan dimiliki untuk penyediaan barang dan jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, dan untuk tujuan administratif lainnya yang lama penggunaanya lebih dari satu periode.

Bila kita melihat beberapa keyword yang ada, maka indikasi dari Aset tetap adalah:

  • Berwujud, sehingga aset tidak berwujud contohnya patent, hak dagang, dan goodwill bukanlah kelompok Aset Tetap
  • Hal yang paling mendasar dari Aset Tetap adalah dia digunakan dalam aktivitas dan operasi perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa.
  • Dan pemakainnya Lebih dari satu periode akuntansi

Dalam PSAK, terdapat bagian yang menyebutkan tentang “rental” dari aset tetap, sebelumnya juga terdapat pernyataan mengenai “rental” dari properti investasi. Jika aset yang memang direntalkan, akan masuk kemana ya kira-kira?

Jawabannya begini, terdapat rental yang dalam penyediaanya memerlukan banyak effort dari entitas dan ada yang tidak. Misalnya, perusahaan persewaan gedung memberikan banyak effort untuk menyewakan gedungnya, seperti menyediakan perabotan gedung, keamanan, utilitas. Namun hal ini berbeda dengan penyewaan gedung kos dimana si penghuni membayar sendiri listrik, menyediakan sendiri perabotan, dan menjaga sendiri keamanan. Ibu kos hanya menyediakan kamar dan menagih perbulan, maka kos-kosan disebut sebagai properti investasi.

Sebenarnya, untuk apa mengetahui bedanya aset tetap dan properti investasi? Perbedaanya adalah untuk masuk dalam pencatatan nantinya. Karena bangunannya belum jadi? saat pencatatan pun harus dibedakan bagian-bagiannya, misalnya:

  1. Perusahaan membangun 2 gedung (baik pihak ketiga dan membangun sendiri), gedung A dicatat sebagai Aset tetap karena akan digunakan dan Gedung B dicatat sebagai Properti Investasi. Maka semua kas yang keluar untuk pembangunan Gedung A akan dicatat sebagai ‘Aset Tetap Dalam Konstruksi’ sementara Gedung B akan dicatat sebagai ‘Properti Investasi dalam konstruksi. Apa Fungsinya? agar stakeholder tahu bahwa perusahaan apakah membangun  Aset Tetap atau Properti Investasi, seandainya perusahaan mengakui dalam satu akun ‘Bangunan dalam Konstruksi’ apakah stakeholder akan tahu perusahaan membangun apa? Stakeholder tentu memiliki asumsi untuk masing-masing aset. Misalkan untuk pembangunan aset tetap, dalam hal mesin atau peralatan stakeholder beranggapan bahwa kapasitas produksi perusahaan akan naik ketika aset selesai, dan growth perusahaan akan naik, penjualan akan maksimal.
  2. Sementara bila perusahaan membangun Properti Investasi, maka perusahaan diharapkan akan memiliki solvabilitas jangka panjang. kenapa solvabilitas jangka panjang? karena mesin lebih tidak liquid dari tanah/bangunan terlebih bila industri perusahaan sangat spesifik, sehingga mesin perusahaan juga spesifik. Properti Investasi juga berarti perusahaan mendiversifikasi usahanya, sehingga mengurangi resiko. Perusahaan otomotif, lalu berinvestasi di penyewaan gedung tentu akan mengurangi resiko bisnis seandainya industri otomotif menjadi lesu.

Jenis-Jenis Aset Tetap belum jadi

Berbagai macam cara pemerolehan aset tetap, ada yang dalam konstruksi melalui pihak ketiga, ada yang melalui dibangun sendiri, ada yang dibeli sudah jadi dalam bentuk fisik.

Menurut PSAK 16 mengenai aset tetap,  maka perusahaan mengukur harga perolehan aset tetap yaitu bilamana:

  • Biaya tersebut dapat diukur secara andal
  • Biaya tersebut menimbulkan manfaat ekonomis bagi perusahaan di masa depan

Maka selain harga di nota, ada beberapa biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dengan aset tetap, diantaranya adalah:

  1. Pajak Pertambahan Nilai yang tidak dapat dikreditkan
  2. Biaya impor
  3. Biaya persiapan pembangunan aset
  4. Biaya imbalan kerja, baik professional bila terkait langsung dengan aset tetap

Seting aset tetap

  • Kasus 1 : Aset tetap dalam konstruksi dibeli dari pihak ketiga

Dalam transaksi seperti ini, biasanya perusahaan diharuskan membayar sejumlah uang sebagai uang muka perolehan aset tersebut. Permasalahan yang timbul adalah menurut PSAK 16, bahwa aset tetap adalah aset yang berwujud sementara bangunan belum jadi kan belum ada wujudnya? Ini adalah kesalahan logika ketika kita mengartikan mengenai aset tetap dan aset berwujud. Aset berwujud adalah aset yang memberikan manfaat ekonomi karena keberadaaan dan bentuk fisiknya. Sehingga walaupun belum selesai sudah dianggap sebagai aset tetap. Lalu bagaimana menjurnalnya? Apakah mencatatnya sebagai beban atau dikapitalisasi?

Jawabannya adalah karena atas biaya-biaya yang keluar perusahaan diperkirakan mendapat manfaat ekonomis dari biaya yang sudah keluar maka perusahaan mencatatnya sebagai aset dan dikapitalisasi. Dengan akun terpisah sendiri yaitu; ‘bangunan dalam konstruksi’ (sebagai contoh)

Misalkan transaksi sebagai berikut: PT Akutansipedia mengontrak PT Bangun Bersama untuk membangunkan sebuah pabrik di daerah karawang dengan termin sebagai berikut:

Pengerjaan selama 2 tahun, dari  1 Juli 2012 – 30 Juni 2014

Pembayaran 4 termin dengan jangka waktu 6 bulan setiap pembayar sebesar 500 Juta, yaitu:

  • 1 Juli 2012
  • 2 Januari 2013
  • 1 Juli 2013
  • 2 Januari 2014

Sehingga total harga perolehan bangunan adalah 2 Miliar, Plus PPN 10%, biaya notaris dan akta jual beli total 10 juta. Bagaimana perusahaan mencatat transaksi diatas?

Pada setiap termin perusahana mencatat sebagai berikut:

Uang Muka Aset Tetap Dalam Konstruksi 500.000.000

                        Kas 500.000.000

Semisal transaksi tersebut dilakukan pada 1 juli 2012 dan merupakan termin pertama, maka per 31 Desember 2012 pada balance sheet akan muncul saldo akun ‘Uang Muka Aset Tetap Dalam Konstruksi’ sebesar 500 Juta. Pembayaran terus dilakukan dengan menjurnal seperti diatas, sebagai contoh ketika 31 desember 2013, salo ‘Uang Muka Aset Tetap Dalam Konstruksi’ adalah sebesar 1,5 Miliar berasal dari pembayaran 3 termin (1 jul 12, 2 jan 13, 1 jul 13)

Ketika selesai penyelesaian, yaitu pada 30 Juni 2014 dan akun ‘uang muka-aset tetap dalam konstruksi’ sudah bersaldo 2 Miliar. Maka perusahaan menjurnal sebagai berikut

Aset tetap 2.210.000.000

                        Uang Muka Aset Tetap Dalam Konstruksi 2.000.000.000

                        Kas 210.000.000 (biaya PPN, dan Notaris)

Jurnal ini digunakan untuk mencatat bahwa sekarang perusahaan sudah tidak memiliki uang muka dalam konstruksi lagi, namun sudah berubah menjadi aset tetap. Biaya PPN dan notaris dikapitalisasi ke aset tetap karena manfaatnya bisa dirasakan lebih dari satu periode dan dapat diatribusikan langsung kepada aset tetap.

Apa yang terjadi seandainya perusahaan salah mencatat biaya notaris dan biaya lain-lain terkait aset menjadi dibebankan pada periode berjalan? Maka

  • Nilai aset akan undervalued, sehingga nilai penyusutannya juga undervalued
  • Laba tahun berjalan akan tergerus karena kesalahan klasifikasi pembebanan (beban menjadi overvalued)

Dampaknya apa kalau misalkan perusahaan membebankan salah dan laba tahun ini tergerus? Misalkan tahun ini labanya cukup besar sehingga bisa menutupi kesalahan tersebut. Apakah masalah berhenti begitu saja? Belum tentu, dengan penyusutan yang undervalued apakah ada jaminan bahwa tahun-tahun berikutnya perusahaan akan memiliki performa yang sama? Bisa saja penyusutan yang kecil dan laba yang besar malah menyebabkan target tahun depan lebih tinggi lagi, atau perbedaan antara penyusutan pajak dan akuntansi semakin besar sehingga beban pajak meningkat (secara persentase) dibanding tahun sebelumnya, dan pemegang saham meminta deviden lebih besar, padahal kas belum tentu ada.

Jadi pengklasifikasian yang ‘jujur’ dinilai lebih baik daripada yang ‘kurang jujur’. (Coba hitung aset tetap bisnis otomatis disini)

  • Kasus 2: Perusahaan Membangun Sendiri Aset Tetapnya.

Pada prinsipnya sama saja dengan membeli dari pihak ketiga, pada saat penjurnalan kas keluar untuk membangun bangunan perusahaan belum memiliki aset bangunan tersebut. Sehingga biaya keluar harus dikapitalisasi sebagai aset. Namun ada beberapa resiko yang mungkin timbul dari membangun sendiri dibanding mengoper ke pihak ketiga yaitu:

  1. Resiko salah catat transaksi makin besar, bayangkan saja pada hari itu perusahaan menerima beberapa nota yaitu gaji pegawai kantor, gaji pegawai pabrik, gaji supervisor (mandor), dan gaji tukang bangunan. Akuntan harus menjurnal gaji pegawai kantor ke expense, gaji pegawai pabrik ke cost, gaji mandor dan tukang ke aset tetap dalam konstruksi.
  2. Resiko salah klasifikasi biaya-biaya lain yang dapat diatribusikan ke aset tetap, contohnya perusahaan membayar jasa notaris yang salah jurnal ke biaya lain-lain (dibebankan) bukan dikapitalisasi atau malah mengkapitalisasi biaya-biaya yang tidak boleh secara akuntansi.

Sebagai contoh, perusahaan membangun sendiri sebuah bangunan yang sama dengan yang dikerjakan oleh pihak ketiga. Dikarenakan dikerjakan sendiri maka biayanya lebih rendah menjadi 1,5 Miliar rupiah. Daftar biaya yang terjadi adalah:

  • 1 Juli 2012: Mandor dan Tukang 200 Juta, biaya bahan bangunan 300 Juta. Total 500 Juta
  • 2 Januari 2013: mandor dan tukang 300 Juta, Bahan Bangunan 300 Juta. Total 600 Juta
  • 1 Juli 2013; mandor dan tukang 200 Juta, Bahan Bangunan 100 juta. Total 300 Juta
  • 2 Januari 2014; Mandor dan tukang 250 Juta, bahan bangunan 50 Juta. Total 300 juta

Pada saat kas keluar contohnya 1 Juli 2012, perusahaan mencatat sebagai berikut;

Bangunan Dalam Konstruksi 500.000.000

                        Kas 500.000.000

Dan jurnal ini juga sama untuk pembayaran -pembayaran berikutnya, pada 31 desember saldo ‘bangunan dalam konstruksi’ sebesar 500 Juta. Dan pada 31 desember 2013 saldo akun ‘bangunan dalam konstruksi’ sebesar 1,2 miliar (3 termin 1 jul 12, 2 jan 13, 2 jan 14).

Saat bangunan selesai pada 30 juni 2014 perusahaan menjurnal sebagai berikut

Aset tetap bangunan 1.510.000.000

                        Bangunan dalam konstruksi 1.500.000.000

                        Kas 10.000.000 (biaya notaris)

  • Spesial Case: Penurunan Nilai Bangunan Dijamin Oleh Pihak Ketiga

Biasanya perusahaan mengasuransikan bangunannya kepada pihak ketiga sehingga apabila terjadi sesuatu kepada bangunan tersebut. Atau lebih ekstrim lagi bila pihak ketiga gagal dalam pengerjaan bangunan dan akan mengganti kerugian dengan sejumlah uang sementara sisa bangunan silakan dipakai oleh perusahaan, atau bila ternyata setelah selesai bangunan tidak sesuai dengan spesifikasi dari yang diinginkan perusahaan sehingga pengembang (pihak ketiga) harus membayar sejumlah uang.

Transaksi yang ada misalnya; perusahaan memiliki saldo akun ‘aset tetap’ (dalam kasus bangunan jadi dan penurunan nilai di tanggung pihak ketiga asuransi) atau ‘uang muka bangunan dalam konstruksi’ sebesar 2.000.000.000 dan terjadi penurunan nilai sebesar 700.000.000 sehingga nilai sekarang dari bangunan adalah 1.300.000.000. perusahaan asuransi atau pengembang akan menanggung biaya sebesar 400.000.000.

Pertanyaan yang akan muncul adalah:

  • Perusahaan mencatat penurunan nilai sebesar 300.000.000 net dari penurunan nilai dikurangi dengan kompensasi dari pengembang/asuransi (700.000.000-400.000.000)
  • Atau dicatat terpisah, kompensasi sebagai pendapatan dan penurunan nilai sebagai kerugian penurunan nilai

Nyatanya dalam PSAK 16 disyaratkan bahwa kita harus mencatat nya secara terpisah, maka perusahaan mencatat

Kerugian penurunan nilai 700.000.000

                        Aset Tetap-bangunan 700.000.000

Piutang pihak ketiga 400.000.000

                        Kompensasi penurunan Nilai 400.000.000

Bila kita mencatat cara pertama, maka hanya akan timbul beban kerugian penurunan nilai sebesar 300 juta, hal ini kurang representative karena sebenarnya 400.000.000 memiliki resiko di tangan pihak ketiga dan pada saat tersebut belum tentu dibayar oleh pihak ketiga (bisa saja nanti). Namun kerugian nilai sudah terjadi.

Demikianlah pembahasan akuntansipedia terhadap aset tetap, akuntansipedia berharap hal ini akan berguna bagi Anda. Jika terdapat saran mengenai topik selanjutnya yang harus kami bahas, jangan sungkan untuk memberikan saran ya!