Seberapa banyakah dari Anda yang bekerja di perusahaan asing ataupun bekerja di perusahaan dengan orientasi ekspor-impor? Bagi Anda yang bekerja dengan banyak transaksi ekspor-impor tentunya sudah paham dengan istilah “laba-rugi selisih kurs”.

Bagi Anda yang mungkin jarang mendengar istilah ini maka akuntansipedia akan membahas lebih lanjut mengenai laba-rugi selisih kurs ini. Laba Rugi Selisih kurs adalah laba atau rugi yang timbul karena kenaikan/penurunan hutang dan kenaikan/penurunan aset diakibatkan oleh fluktuasi selisih kurs.

Semakin besar porsi transaksi perusahaan dengan pihak ketiga menggunakan mata uang asing, maka semakin tinggi pula resiko perusahan terpapar ‘laba rugi selisih kurs’. Mungkin Anda akan merasa lega jika mendapat laba dari kejadian ini, tetapi bagaimana bila mendapat rugi? Lalu, Anda sebagai akuntan,  Anda pun harus bisa meminimalisir resiko ini dengan meminimalkan “laba-rugi selisih kurs”.

selisih kurs, kurs, akuntansi

Terdapat beberapa hal yang perlu dicermati dari laba-rugi selisih kurs yaitu;

  1. Laba rugi selisih kurs adalah “outside factors“, artinya pada beberapa hal kita harus menyingkirkan laba rugi selisih kurs dalam penilaian kita terhadap perusahaan. Apabila perusahaan menghasilkan performa (laba) maksimal dalam operasi namun kemudian performa ini tergerus oleh rugi selisih kurs apakah anda akan beranggapan “wah perusahaan ini buruk performanya, saya tidak mau investasi disini”. Demikian sebaliknya, sebuah perusahaan mengalami penurunan performa operasi, kemudian terdongkrak oleh adanya laba selisih kurs apakah anda akan berkata “perusahaan ini performanya baik, ayo kita investasi disana” tentu kita harus mendalami kualitas labanya. Anda tidak boleh langsung menyimpulkan sebuah kejadian hanya terhadap penilaian laba atau rugi yang terlihat saja.
  2. Laba rugi selisih kurs itu antara nyata dan fana,  ada laba rugi selisih kurs yang sudah terealisasi dan ada yang belum terealisasi. sebagai contoh LRSK sudah terealisasi :
  • Perusahaan Membeli barang dagangan pada 1 Januari seharga $1.000 pada saat kurs berada di level Rp 11.000/$ AS sehingga perusahaan mencatat persediaan pada utang dagang Rp 11.000.000. Sedangkan pada tanggal 12 januari saat pembayaran kurs sudah berubah, Dollar menguat menjadi Rp 11.200/$ sehingga kas yang keluar pada tanggal 12 januari adalah  Rp 11.200.000 ($1.000 x 11.200 tanggal 12 januari). Dalam kasus ini, perusahaan mengalami laba rugi selisih kurs yang sudah terjadi (terealisasi) sehingga relevan ketika di cantumkan dalam laporan laba rugi. Perusahaan berhutang pada saat kurs Rp 11.000 dan membayar pada saat  kurs sebesar Rp 11.200 pada periode yang sama.
  • Perusahaan membeli barang dagangan seharga $1.000 pada 1 Desember 2015 pada saat kurs Rp 11.000 dan menurut perjanjian akan dibayar pada 15 Januari 2016. Sementara pada tanggal 31 Desember 2015 saat perusahaan tutup buku, kurs sudah naik menjadi Rp 11.100 perusahan harus menyesuaikan akun ‘hutang dagang’ dengan menjurnal: [Debet] Rugi Selisih Kurs 100.000 [Kredit] Hutang dagang 100.000. untuk menandakan bahwa Hutang dagang PER 31 DESEMBER naik sebesar 100.000 menjadi Rp 11.100.000 (kurs 31 Des adalah Rp 11.100/$). Pada saat settlement (pembayaran), ternyata kurs melemah menjadi Rp 10.900/$ Dollar, bagaimana jurnal saat settlement? Jurnal seharusnya tertuliskan [Debet] Hutang dagang 11.100.000 [Kredit] Kas 10.900.000 [Kredit] untung selisih kurs 200.000. Dari jurnal ini bisa dilihat bahwa pada dua periode yang berbeda 1 transaksi mata uang asing dapat mengakibatkan fluktuasi laba Perusahaan tentu tidak menginginkan hal ini, karena akan mempengaruhi penilaian investor terhadap mereka.

Berdasarkan deskripsi diatas dapat dipahami bahwa kurs sangat menjengkelkan apabila tidak dimitigasi dengan benar. Banyak hal yang mempengaruhi fluktuasi kurs diantaranya adalah:

  • Tingkat bunga antar negara
  • Neraca pembayaran Indonesia
  • Faktor politik nasional dan internasional
  • Data-data ekonomi makro nasional dan internasional

Pertanyaannya adalah apakah faktor-faktor tersebut dapat dikendalikan oleh perusahaan? Tentu tidak.

Cara Memitigasi Laba Rugi Selisih Kurs

Sebagai orang awam, dan termasuk pada strategi bisnis yang paling lumrah, ketika terjadi kenaikan kurs (dalam hal ini kita sebagai IMPORTIR) tentu akan dengan mudah beranggapan ‘naikkan saja harganya, agar tidak terjadi rugi kurs’. Solusi ini wajar mengingat rumus standar; harga = cost + markup namun, harus diingat seandainya:

  • Perusahaan kehilangan pelanggan karena menaikkan harga, sementara pesaing dapat memitigasi rugi selisih kurs dengan baik. Bukankah perusahaan dapat mengalami kerugian jangka panjang? Tentu saja seandainya kita dapat melakukan efisiensi akan sangat menguntungkan bagi perusahaan. Tidak perlu menaikkan harga toh seandainya dapat melakukan efisiensi dan mensiasati laba rugi selisih kurs.
  • Hal lainnya adalah jika penjualan didasarkan pada KONTRAK JANGKA PANJANG, walaupun tentu saja perusahaan sudah membuat judgement tentang kontrak. Misalkan kontrak penjualan karet mentah ke Taiwan disetujui karena asumsi perusahaan Kurs Rupiah-dollar berada di rentang 10.000-11.000 selama 5 tahun kedepan. Namun pada tahun ketiga terjadi isu keuangan krusial, contohnya terpilihnya trump, atau brexit atau pun hutang swasta yang jatuh tempo berlebihan seperti pada tahun 2010-2011 sehingga permintaan dollar menjadi over-demand. Apakah perusahaan dapat melakukan re-agreement kontrak? Belum tentu dan hal ini merupakan hal tabu di dalam dunia bisnis.

Sebagai pengingat bagi Anda, bahwa kita harus memitigasi laba rugi selisih kurs karena akan menimbulkan fluktuasi laba yang berlebihan. Jika kita tidak melakukan mitigasi laba rugi selisih kurs ini, maka yang terjadi adalah:

  • Rugi selisih kurs akan terlalu besar dan menggerus laba.
  • Laba selisih kurs akan sangat tinggi mengakibatkan target tahun depan akan lebih tinggi, padahal laba tahun ini didongkrak oleh laba selisih kurs. Akibatnya perusahaan akan ‘ngos-ngosan’ mengejar target tahun depan. Ditambah, bila laba kurs sangat tinggi akan menyebabkan permintaan akan dividen semakin besar dari shareholder. Padahal pendapatan itu bukan pendapatan organik, bahkan mungkin bukan pendapatan kas, seperti laba rugi selisih kurs yang belum terealisasi.

Beberapa contoh transaksi yang lazim menderita laba rugi selisih kurs adalah;

  • Kenaikan dan penurunan piutang usaha, perusahaan menjual ke luar negeri pada saat kurs rupiah sedang kuat (misalkan Rp 10.000/$)  sebesar $1.000 namun menerima pembayaran pada saat kurs rupiah sedang lemah (misalkan Rp 11.000). Seandainya perusahaan menerima pada saat kurs rupiah Rp 10.000/$ maka perusahaan akan menerima Rp 10.000.000, namun karena dollar melemah maka perusahaan akan menerima Rp 11.000.000. Hal ini berlaku sebaliknya apabila Kurs Rupiah menguat lagi menjadi Rp 8.000/$ maka perusahaan hanya menerima Rp 8.000.000.
  • Kenaikan/penurunan hutang usaha. Perusahaan berhutang sebesar $10.000 pada saat kurs Rp10.000/$. pada saat menerima kas, maka perusahaan menukarkan uang tersebut dalam bentuk rupiah karena operasi perusahaan dalam mata uang rupiah, sehingga perusahaan menerima rupiah sebesar Rp 100.000.000. Seandainya pada saat penyelesaian hutang kurs adalah sebesar Rp 11.000 perusahaan harus membayar sebesar Rp 110.000.000 ($10.000 x kurs 11.000) sebaliknya ketika kurs rupiah menguat menjadi Rp 8.000/$ perusahaan hanya membayar sebesar Rp 80.000.000 ($10.000 x Rp 8.000 kurs saat rupiah).

Beberapa strategi yang dapat dilakukan dikarenakan oleh kasus diatas adalah:

  1. Mengubah Mata Uang Fungsional

PSAK 10 (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan), mensyaratkan perusahaan boleh mengubah mata uang fungsionalnya, apabila mata uang fungsional sekarang sudah tidak menggambarkan keadaan ekonomi perusahaan lagi. Nah apakah faktor yang menurut akuntansi merupakan penggambar dari keadaan ekonomi perusahaan?

Terdapat 4 faktor yang dapat dipertimbangkan sebagai ‘kondisi lingkungan ekonomi entitas’ yaitu:

  1. Mata uang yang paling mempengaruhi HARGA JUAL produk entitas
  2. Mata uang dimana perusahaan banyak membayar atau membeli INPUT/FAKTOR PRODUKSI
  3. Mata uang dimana perusahaan mendapatkan PEMBIAYAAN
  4. Mata uang dimana perusahaan menahan ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI

sebagai contoh, PT ABC adalah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor sawit, kebanyakan penjualan perusahaan didasarkan pada harga internasional yang berbasis di New York menggunakan mata uang dollar. Karena hal ini, perusahaan menggunakan dollar sebagai mata uang fungsional.

Contoh lain, PT BCD juga bergerak di bidang ekspor kelapa sawit, namun penjualan sawit ini langsung business to business kepada berbagai perusahaan di berbagai negara. Hal ini menyebabkan tidak adanya mata uang yang dominan yang mempengaruhi penjualan perusahaan. Namun, gaji pegawai, pupuk, bibit, dan operasional perusahaan dibayarkan dalam mata uang rupiah. Pada contoh ini, maka faktor mata uang penjualan tidak bisa digunakan karena tidak ada mata uang dominan yang menjadi patokan penjualan perusahaan. Sehingga akhirnya kita beralih pada faktor kedua yaitu mata uang yang paling mempengaruhi faktor INPUT perusahaan, maka kita dapat memutuskan mata uang fungsional PT BCD adalah mata uang rupiah.

Bilamana faktor pertama dan kedua masih rancu, misalkan perusahaan menjual di berbagai negara dan juga input perusahaan berasal dari berbagai negara. Maka kita dapat beralih pada faktor ketiga, yaitu mata uang dimana perusahaan mendapatkan pembiayaan. Pembiayaan terbagi menjadi 2, yaitu pembiayaan hutang dan pembiayaan ekuitas.

PT EFG adalah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor peralatan elektronik, perusahaan menjual ke berbagai negara dan tidak ada negara-negara tersebut yang dominan dalam melakukan penjualan. Input dari perusahaan EFG juga beraneka ragam, mulai dari mata uang Rupiah untuk operasional dan juga mata uang Yen dalam transaksi penjualan barang, selanjutnya remunerasi direksi diberikan dalam bentuk Korea Won. Dalam hal ini input menggunakan mata uang yang beragam sehingga tidak ada mata uang yang dominan. Apa yang dapat dilakukan oleh PT EFG? PT EFG ini ternyata tercatat di Bursa Singapore masuk dalam indeks Strait dan memperoleh pinjaman dari DBS (Development Bank of Singapore) sehingga menurut PSAK perusahaan harus menggunnakan mata uang SGD (Singapore dollar) dalam pelaporannya.

Apa Akibat dari pengubahan mata uang fungsional ini terhadap laporan keuangan perusahaan? Sebagai contoh, ketika perusahaan yang melakukan penjualan dalam $ dan menggunakan mata uang $ dalam pelaporan setidaknya perusahaan tidak perlu menyesuaikan jumlah piutang dagang pada akhir tahun. Bagi perusahaan yang memiliki input dalam dollar maka perusahaan juga tidak perlu menyesuaikan jumlah hutang dagang perusahaan setiap akhir tahun.

Bagaimana dengan perpajakan? Apakah pajak mengakui pengurangan laba rugi selisih kurs ini?  Misalkan di tahun sebelumnya perusahaan memiliki LABA Selisih kurs yang besar sehingga PAJAK PENGHASILAN PERUSAHAAN JUGA BESAR. namun setelah menggunakan mata uang dollar, maka perusahaan memiliki LABA SELISIH KURS YANG KECIL, akankah perpajakan tidak mengakui hal ini?

Jawabannya adalah pajak mengakui pembukuan tidak menggunakan rupiah, namun hanya terhadap mata uang dollar. Dalam akuntansi perusahaan dapat melakukan pembukuan dengan berbagai mata uang namun dalam pajak, hanya mengakui 2 mata uang pembukuan yaitu rupiah dan dollar. Hal ini mengakibatkan perusahaan dapat memitigasi laba rugi selisih kurs baik pajak dan akuntansi dengan merubah mata uang pelaporan.

  1. Berjualan dengan mata uang Input

Dengan berjualan menggunakan mata uang input maka perusahaan sudah memindahkan resiko laba rugi selisih kurs dari perusahaan ke pembeli. Bagaimana contohnya? Perusahaan yang membeli barang dari luar negeri (importir) dengan mata uang dollar akan menjual barang tersebut dengan mata uang dollar pula, sehingga tidak ada resiko perusahaan akan menyesuaikan hutang (ke vendor) dengan rupiah karena perusahaan menerima dalam dollar.

Sebagai contoh PT ABC membeli komputer dengan harga $200 dan menginginkan margin 20% sehingga menjual dengan harga $240 di Indonesia, perusahaan HANYA MENERIMA PEMBELI YANG MEMBAYAR DENGAN $. Hal ini menyebabkan kas yang masuk di perusahaan adalah $240, dan pada saat jatuh tempo akan dibayarkan dengan dollar juga, sebesar $200.

Bandingkan dengan, misalnya perusahaan membeli dengan harga $200 saat kurs Rp 10.000 dan menginginkan margin 20%, sehingga perusahaan menjual Rp 2.400.000. Kas yang masuk ke perusahan adalah rupiah, sehingga bagaimanapun juga perusahaan akan mengalami resiko kurs terhadap hal ini.

Bagaimana dengan perusahaan memiliki ‘kurs’ sendiri? Misalkan pada saat kurs di pasar adalah Rp 10.000 maka perusahaan telah menetapkan kurs nya menjadi Rp 11.000/$ agar seandainya kurs pasar naik menjadi Rp 10.500/$  perusahaan tidak mengalami rugi? Hal ini sama saja dengan perusahaan MENAIKKAN HARGA barang, dengan demikian maka harga jual barang adalah Rp 2.640.000 yaitu $240 x Rp 11.000/$.

  1. Membeli dengan mata uang penjualan

Hal ini berkebalikan dari contoh diatas, bila perusahaan adalah importir dengan mata uang dollar dan berjualan di indonesia yang artinya menerima rupiah. Maka perusahaan MEMBELI atau MEMBAYAR pelanggan dengan RUPIAH. Hal ini sama dengan strategi nomor 2, hanya kebalikannya saja.

Menggunakan contoh diatas, pada strategi pertama, perusahaan berjualan dengan mata uang dollar dan perusahaan pun akan menerima uang dalam bentuk dollar lalu perusahaan membayar supplier dengan RUPIAH, hal ini menyebabkan adanya resiko laba rugi pada selisih kurs. Jika, perusahaan menerima dan membayar dengan mata uang rupiah, perusahaan pun tidak akan mengalami laba selisih kurs, karena  seluruh transaksi dilakukan dengan satu mata uang,

  1. Membuat Cadangan Kas Untuk Transaksi Valas

Hal lain yang dapat dimanfaatkan perusahaan adalah melakukan pencadangan kas untuk transaksi valas. Bagaimana maksudnya? Ketika perusahaan bertransaksi hutang dengan valas, maka sesegera mungkin perusahaan membeli valas dengan jumlah yang sama. Misalkan perusahaan membeli barang secara kredit seharga $10.000 saat kurs Rp 10.000/$, maka sesegera mungkin (dalam 1-2 hari atau beberapa minggu) perusahaan membeli dollar dengan jumlah $10.000 untuk memenuhi kewajiban perusahaan nanti. Dalam 1-2hari atau seminggu kemungkinan kurs dollar tidak akan berubah terlalu banyak sehingga resiko laba rugi selisih kurs menjadi lebih kecil

Namun cara ini memiliki beberapa resiko/konsekuensi yaitu:

  1. Mengganggu Cashflow perusahaan. Bila perusahan bisa membeli $10.000 dengan segera, kenapa tidak segera melunasi kewajibannya saja? Atau membeli cash saja? Apabila perusahaan membeli kredit maka artinya perusahaan memiliki likuiditas yang rendah dan kredit memberikan perusahaan waktu luang untuk memenuhi likuiditas, lalu menjual barang tersebut. Sehingga membeli $10.000 diawal dapat mengganggu cashflow perusahaan.
  2. Cadangan kas akan membuat kas menjadi menganggur, bagi seorang pebisnis untuk apa menyimpan uang dalam jumlah banyak  seperti misalnya $10.000 untuk memenuhi kewajiban kelak. Hal ini mengakibatkan adanya opportunity cost dari uang yang menganggur.
  3. Kas menganggur akan menaikkan ROA, karena kas yang idle tidak menghasilkan return/profit namun hanya akan “berdiam” di balance sheet, sehingga bila dihitung ROA perusahaan akan menjadi lebih rendah.
  4. Cadangan kas yang lebih dari setahun diklasifikasikan sebagai Aset tetap bukan aset lancar. Pengertian Kas dan setara kas adalah alat yang dapat dipertukarkan dengan barang dan jasa seketika, namun cadangan kas berarti kas sudah tidak dapat dipertukarkan dengan barang dan jasa sehingga diklasifikasikan sebagai Aset Tetap. Akibatnya maka Net working capital perusahaan akan lebih rendah dan current ratio perusahaan juga akan lebih rendah
  5. Lindung Nilai / Hedging. Akuntansi untuk hedging memakan penjelasan yang cukup panjang dan teknikal serta dalam praktiknya tidak selalu seragam. Namun kami ingin menekankan bahwa dalam Hedging, perusahaan dapat memesan untuk membeli/menjual valas dengan mata uang yang sudah diketahui ratenya pada saat kontrak.

Misalnya transaksi perusahaan membeli barang dagangan seharga $10.000 dollar pada 1 januari 2015, saat kurs Rp 11.000/$. Perusahaan langsung membuat kontrak hedging dengan broker dengan biaya premium tertentu untuk membeli Dollar seharga $10.500/$ saat jatuh tempo tanggal 30 Januari 2015, dan hutang harus dibayar pada 31 januari 2015. Kemudian barang dagangan terjual dengan harga Rp 120.000.000, pada 20 Januari 2015, pada tanggal jatuh tempo, maka perusahaan MEMBELI DOLLAR SESUAI KONTRAK HEDGING. Perusahaan membeli dollar dengan rate hedging Rp 10.500/$ sehingga perusahaan mengeluarkan uang Rp 105.000.000 untuk melunasi kewajiban dagangnya. Padahal pada tanggal 30 Januari kurs rupiah adalah Rp 10.800/Dollar sehingga bila perusahaan tidak melakukan hedging maka kas yang keluar untuk melakukan pelunasan hutang adalah Rp 108.000.000 (Rp 10.800 (kurs pasar/spot hari itu) x $10.000). Lumayan bukan bedanya sebesar Rp 3.000.000. Hal yang sebaliknya juga berlaku untuk pelepasan dollar (perusahaan menjual dollar karena pelanggan perusahaan adalah perusahaan asing).

  • Kesimpulan

Berdasarkan tulisan diatas, akuntansipedia dapat menyimpulkan bahwa terdapat tiga cara untuk mengurangi Laba Rugi Selisih Kurs, yaitu;

  1. Mengubah pembukuan ke mata uang yang paling mendekati kondisi ekonomi perusahaan berdasarkan panduan PSAK 10
  2. Mengurangi transaksi dengan mata uang asing, yaitu menyamakan mata uang arus keluar (pembayaran ke supplier) dan arus kas masuk (penerimaan dari customer)
  3. Melakukan Hedging atau lindung nilai.

Membahas mengenai hedging, akuntansipedia tentunya akan membahas pada tulisan berikutnya. Jika Anda memiliki saran terhadap topik yang harus dibahas oleh akuntansipedia, maka jangan sungkan untuk memberikan saran ya!